Tampilkan postingan dengan label Pertempuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertempuran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Kampanye Sekutu di Okinawa Pada Perang Dunia 2

Introduction
Selama berbulan-bulan setelah jatuhnya Saipan pada bulan Juli 1944, para ahli strategi Amerika telah mencari pulau-pulau strategis terdekat lainnya yang dapat diharapkan sebagai pangkalan untuk penyerbuan akhir ke Jepang. Sesuai dengan keputusan Konfrensi Honolulu pada musim panas tahun itu, Jenderal MacArthur berhasil melaksanakan tugasnya menduduki Lyte pada bulan Oktober, dan dia kini sudah berada di Luzon. Begitu Iwo Jima direbut, Laksamana Nimitz berkeinginan untuk menyerang Formosa (sekarang Taiwan), tetapi Formusa akhirnya diabaikan karena Okinawa dianggap lebih baik. 

Pulau yang panjangnya 60 mil itu merupakan yang terbesar di Kepulauan Ryukyu dan hanya berjarak 560 kilometer dari Kyushu dan 1.600 kilometer dari Tokyo, sehingga dapat menjadi pangkalan pembom yang ideal. Okinawa dan pulau satelitnya, Ie Shima, dapat memberi tempat bagi lapangan udara yang cukup untuk menampung sekitar 800 pembom dan pesawat pemburu pengawal yang diperlukan. Para anggota staf Nimitz berpendapat bahwa situasi pertempuran akan mirip dengan pertempuran di Iwo Jima.


Jalan Menuju Okinawa
Invasi Okinawa melebihi semua operasi sebelumnya di kawasan Pasifik. Nimitz, meskipun ditentang oleh Jenderal Le May, menuntut agar semua pesawat pembom B-29 mengurangi serangannya terhadap Jepang untuk mengambil bagian pada pelumpuhan pangkalan-pangkalan musuh di Okinawa. Untuk memperlancar penyerbuan terhadap Okinawa, pasukan Amerika didaratkan di pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pendaratan di Kepulauan Kerama di selatan Okinawa ternyata membawa keuntungan yang tidak terduga. 

Peta Strategi Milik Sekutu Untuk Kampanye di Okinawa

Di Kerama, pasukan Amerika menemukan sekitar 350 perahu berawak yang dilengkapi dengan bahan peledak untuk melancarkan serangan bunuh diri terhadap kapal-kapal Amerika. Perahu-perahu itu kemudian dihancurkan. Pasukan Amerika juga berhasil mengambil alih Keise Shima yang letaknya hanya sekitar 10 kilometer di lepas pantai barat daya Okinawa. Dengan demikian, Amerika dapat menghujani pulau itu dengan tembakan ganas selama enam hari, sementara pembom-pembom menebar muatan mautnya dari udara. Di tengah-tengah neraka itu, para penyelam Amerika dari UDT (Underwater Demolition Team, Regu Peledakan Dalam Air) membersihkan pantai Okinawa dari ranjau-ranjau laut Jepang untuk memperlancar penyerbuan.

Pasukan penyerbu Amerika mendarat di pantai Okinawa pada hari Paskah, tanggal 1 April 1945. Para prajuit ini berasal dari Angkatan Darat ke-10 pimpinan Jendral Simon Bolivar Buckner. Kesatuan ini terdiri atas para veteran yang telah ditempa dibelantara medan perang lainnya di Pasifik. Divisi-divisinya telah dikenal baik: Marinir ke-1 dari Guadalcanal, New Britania dan Peleiu; Marinir ke-2 yang diposisikan sebagai cadangan dari Tarawa dan Saipan; Divisi ke-96 dari Leyte; Divisi ke-27 dari kepulauan Marshall dan Saipan; Divisi ke-7 dari Attu dan Lyte; Divisi ke-77 dari Leyte dan Guam; sedangkan Marinir ke-6 yang baru dibentuk terdiri atas para serdadu veteran Eniwetok, Guam dan Saipan. Para serdadu dan marinir ini, prajurit elit di Pasifik, akan memerlukan pengalaman yang mereka peroleh dalam pertempuran-pertempuran tak terhitung dengan Jepang akibat taktik pertahanan baru sang lawan.


Taktik Baru Jepang
Staf umum Kekaisaran di Tokyo telah memutuskan bahwa taktik ala Banzai terlalu mahal, dan teori “temui mereka di pantai” diganti dengan “biarkan musuh mendatangi kita”. Taktik semacam ini mengambil korban jiwa yang besar di antara pasukan A.S. yang merebut Iwo Jima.

Taktik yang sama menunggu Angkatan Darat ke-10 di Okinawa, di mana Jendral Ushijima Mitsuru, seorang veteran perang Birma, memegang komando Angkatan Darat ke-32 bersama kepala stafnya, Letnan Jendral Cho Isamu, yang cemerlang. Sebagai seorang realis, Ushijima mengerti benar kekuatan apa yang dihadapinya. Tidak ingin menghambur-hamburkan persediaan, ia merencanakan suatu sistem pertahanan habis-habisan di selatan pulau itu. Strategi terakhir Jepang untuk Okinawa termasuk juga Kamikaze pada tingkat maksimal. Ushijima harus menunggu untuk membuka perangkapnya sampai tibanya satuan-satuan Kamikaze dari pulau-pulau utama dan menghancurkan ratusan kapal perang yang berada di lepas pantai. 

Setelah pasukan darat A.S. diputuskan hubungannya dengan kapal-kapal perbekalan dan bala bantuan yang seperti tak terbatas itu, barulah Ushijima dapat melancarkan serangan guna memperoleh suatu kemenangan luar biasa bagi Jepang dan Kamikaze itulah kuncinya. Jika mereka gagal, usaha Ushijima boleh dikatakan tidak berguna sama sekali. Sang Jenderal mengamati dengan diam-diam ketika satuan tempur A.S. menduduki Kerama. Ia juga mengawasi dengan tenang di saat barisan serdadu-serdadu pertama bergerak di pantai-pantai pulau itu pada tanggal 1 April.


Pendaratan
Titik pusat dari pulau itu, yang terletak pada sungai Busha, dipilih sebagai lokasi pendaratan. Divisi Marinir-1 dan ke-6 beserta Divisi Infanteri ke-7 dan ke-96 didaratkan oleh 113 kapal yang berada di bawah pimpinan Laksmana Raymond K. Turner. Tujuan mereka ialah Desa Hagushi yang di belakangnya memiliki dataran yang menanjak sedikit demi sedikit, sehingga menyediakan jalan yang lancar dari basis pendaratan menuju dua sasaran utama, lapangan udara Yontan dan Kadena, masing-masing hanya sekitar 1,5 kilometer dari pantai.

Marinir AS bersiap-siap mendarat di Okinawa

Kolumnis surat kabar kawakan Ernie Pyle, yang ikut mendarat bersama Marinir, tercengang oleh pemandangan tenang di sekitarnya; “Belum pernah saya melihat pantai penyerbuan seperti Okinawa,” lapornya. “Tidak ada prajurit yang tewas atau terluka di seluruh sector ini. Korps kesehatan duduk di antara beberapa karung berisi pembalut, plasma dan usungan, karena tidak ada pekerjaan. Tidak ada satu kendaraan pun yang terbakar, atau perahu yang hancur di terumbu atau di pantai. Pembantaian besar-besaran yang hampir tak terhindarkan dalam suatu serbuan secara mengagumkan dan menggembirakan tidak terjadi di sana.”

Tidak ada perlawanan apa pun. Timbul pendapat bahwa musuh tidak ada di Okinawa. Pada hari pertama pendaratan, pulau itu sudah terpotong dan pendudukan lapangan udara Yontan dan Kadena hanya menelan korban dua orang tewas. Komandan resimen yang memulai serbuan itu berseru lantang: “Kirim saya seorang Jepang, hidup atau mati. Anak buah saya belum melihat satu pun.…”

Empat puluh delapan jam kemudian setelah pendaratan, Divisi-96 melintasi pinggang pulau dan mencapai pantai sebelah timur. Setelah itu, Marinir ke-6 menuju ke utara, satuan-satuan lain bergerak ke selatan, menuju ke arah ibukota, Naha. Baru pada tanggal 5 April, pasukan A.S. yang bergerak ke selatan di Okinawa mulai menyadari bahwa perlawanan sebenarnya baru dimulai. Seorang penulis kronik secara singkat menggambarkan situasi baru itu: “Bulan madu telah usai.”

Pada saat itu, para prajurit Amerika bergerak menuju pos-pos pertahanan Jenderal Ushijima yang tersembunyi. Di saat inilah ia melepaskan suatu kejutan hasil ciptaannya sendiri, yaitu pemusatan artileri terbesar yang pernah dilakukan oleh Tentara Jepang pada satu tempat sepanjang masa perang. Dua ratus delapan puluh tujuh pucuk artileri berat mulai menembaki serdadu-serdadu Amerika yang segera bersembunyi dengan panik ke dalam lubang-lubang perlindungan. Gerakan maju mereka ke arah selatan mendadak terhenti dan korban-korban pun berjatuhan.


Siksaan Kamikaze
Siasat menunda yang direncanakan oleh Ushijima di Okinawa menyebabkan armada raksasa A.S. tertahan hingga tak dapat beranjak serta memaksanya bertindak sebagai pengawal dan jalur perbekalan bagi serdadu yang bertempur di darat. Kekuatan angkatan laut yang tertambat dan tidak dapat memencar atau beroperasi dengan leluasa itu sangat rentan terhadap serangan udara. Komando Tertinggi Jepang sudah memperkirakannya dan bermaksud untuk menghancurkan sejumlah besar armada Sekutu yang akan sangat diperlukan untuk penyerbuan ke Jepang sendiri.

Para Kamikaze muda yg disiapkan untuk pertempuran di Okinawa. Sangat terlihat bahwa tidak tampak sedikitpun kesedihan diwajah mereka.

Tetapi armada laut Jepang tidak mampu melancarkan suatu serangan laut secara konvensional. Sebagian besar kapal induk, kapal tempur, dan penjelajah mereka telah ditenggelamkan atau rusak berat, sebagai korban akibat dari serangkaian pertarungan dengan Angkatan Laut A.S. Para laksamana Jepang yang putus asa kemudian menyusun suatu rencana kontroversial yaitu merelakan sisa Armada kedua --kapal tempur raksasa Yamato, penjelajah ringan Yahagi dan delapan kapal perusak-- akan dikorbankan untuk memancing kapal induk Amerika supaya keluar dari Okinawa. Selanjutnya, mereka harus merapat di pulau itu dan bertempur sampai mati melawan pasukan Amerika di sana.

Namun tulang punggung rencana Jepang tersebut berada di tangan pasukan Kamikaze. Ribuan sukarelawan muda yang tidak terlatih tetapi setia kepada asas Bushido dan siap mempertaruhkan nyawanya demi Kaisar dan tanah air direkrut untuk mengemudikan segala macam pesawat bermuatan bom untuk ditabrakan ke kapal-kapal A.S. Serangan Kamikaze ini diberi kata sandi ‘Ten Go’ (Operasi Surga) di bawah pimpinan Laksamana Madya Ugaki Matome. Serbuannya akan berupa rentetan serangan dalam formasi massal yang disebut ‘kikusui’ (seruni melayang). Nama ini dimaksudkan untuk mencerminkan kemurnian semangat Kamikaze.

Kikusui No. 1 dilancarkan pada tanggal 6 April. Ratusan pesawat Angkatan Laut dan Darat tinggal landas dari lapangan udara di Formosa dan Kyushu dan menuju Okinawa.  Setiap penerbang mengenakan hachimaki putih di keningnya; surat-surat salam perpisahan pun telah dikirimkan ke keluarga masing-masing. Satuan-satuan tempur Amerika pertama yang mencium kehadiran pesawat-pesawat berani mati itu adalah kapal-kapal perusak yang ditempatkan di sebelah utara dari pantai-pantai penyerbuan. Kapal-kapal ini disiagakan di 16 stasiun piket radar yang ditempatkan secara terpisah dalam bentuk lingkaran tak teratur di pulau itu, sepanjang jalur penerbangan yang kemungkinan besar akan dilewati penyerang yang datang.

Kapal-kapal perusak ini berfungsi ganda: sebagai penjaga sekaligus “domba korban”. Sambil tetap mengawasi barisan utama kapal-kapal di selatan, mereka pun bertugas menjadi sasaran Kamikaze dalam usaha menjauhkan “setan-setan udara” itu dari kapal induk raksasa yang sedang menunggu di sekitar pantai. Pesawat-pesawat Jepang muncul secara berpasangan dan dalam kelompok-kelompok besar. Meskipun sebenarnya mereka diharapkan untuk menghantam kapal-kapal induk musuh, namun eksistensi kapal perusak Amerika yang tidak terlindung membuat mereka tidak melihat lebih jauh lagi.

Sepanjang pagi itu, kapal-kapal perusak ini menderita kerusakan parah akibat angin sakal yang bertiup dari haluan. Angkasa dipenuhi kabut hitam dari meriam penangkis pesawat terbang dan air laut dihiasi lingkaran-lingkaran putih yang dihasilkan berondongan senjata pompom ketika kapal-kapal perusak itu memberondong tiap pesawat yang mendekati mereka. Meskipun Jepang menderita kerugian yang tidak sedikit, namun keadaan kapal-kapal lawan juga buruk. Paling sedikit 24 kapal tenggelam atau mengalami kerusakan parah akibat serangan pesawat-pesawat berani mati yang gesit itu.

Keesokan harinya, tanggal 7 April, unsur laut dari Kikusui No. 1 --kapal perkasa Yamato dan armadanya-- berlayar dengan kecepatan penuh menuju Okinawa. Tetapi saat muncul dari Selat Bungo, armada itu dipergoki dua kapal selam Amerika yang segera melaporkan posisinya ke Gugus Tugas 58. Pukul 8.32 pagi kapal-kapal itu terlihat oleh pesawat pengintai dari kapal induk Essex. Laksamana Mitscher memerintahkan kapal-kapal induk dari Gugus Tugas 58 untuk melancarkan serangan umum. Ratusan pesawat pembom, pesawat torpedo dan pemburu tinggal landas secara bergelombang untuk menghadapi lawan. Gelombang kedua sebanyak 167 pesawat tiba di atas Yamato.

IJNS Yamato, merupakan kapal tempur terbesar didunia pada saat itu

Segera setelah tengah hari, pesawat-pesawat Amerika mulai menggempur Yamato dan pengiringnya. Serangan pertama menenggelamkan sebuah perusak dan menyebabkan penjelajahnya rusak berat. Yamato terkena dua bom dan satu torpedo, lalu membelok ke barat, dan kemudian ke selatan, dengan harapan dapat menyelamatkan diri dalam cuaca badai. Tetapi usaha itu gagal. Sekitar pukul satu siang, ketika penyerangan berakhir, mereka telah menghantam Yamato dengan lima torpedo, dan meninggalkan kerusakan yang sangat parah.

Gempuran itu langsung dilanjutkan oleh 106 pesawat dari gelombang ketiga. Satuan udara dari USS Intrepid sedikitnya menghantamkan delapan bom dan sebuah torpedo ke Yamato. Ketika pembom torpedo dari USS Yorktown memulai serangan mereka, kapal itu sangat miring ke kiri dan perut bawahnya yang rawan tersibak.
“Tembak dia di perutnya, sekarang!” perintah pemimpin kelompok pesawat Yorktown. Empat torpedo lagi meledakkan dibagian bawah Yamato.

Kapal perang raksasa itu diporakporandakan oleh rangkaian ledakan dari dalam, kemudian terbalik dan mulai tenggelam. Dari 2.767 awaknya, 23 perwira dan 246 pelaut dapat diselamatkan. Yahagi dan empat perusak lainnya mengalami nasib yang sama, sehingga korban jiwa pihak Jepang meningkat hingga 3.665 orang tewas, termasuk Laksamana Ito Seichi, panglima Armada Kedua. Kerugian yang diderita pihak Amerika adalah 12 pilot dan 10 pesawat.

Pada hari-hari selanjutnya, serangan Kamikaze ditingkatkan. Suatu senjata bunuh diri baru, ‘baka’, memulai pemunculannya dalam aksi penenggelaman perusak USS Mannert L. Abele. Alat bunuh diri ini merupakan sebuah bom berawak yang memiliki kecepatan tukik hingga 800 kilometer perjam. Dalam aksi Kamikaze ini, sekitar 30-an kapal A.S. ditenggelamkan dan 350 buah mengalami kerusakan, antara lain kapal induk USS Enterprise, salah satu kapal veteran perang di Pasifik.

Selama kampanye Okinawa, sekitar 1.900 kamikaze mengorbankan nyawanya, tanpa dapat mencapai hasil yang barangkali dapat dicapai oleh pilot-pilot yang terlatih baik. Total kehilangan pesawat Jepang selama pertempuran di Kepulauan Ryukyu adalah 7.800 pesawat, baik yang ditembak jatuh maupun yang dihancurkan di darat.


Pertempuran Ganas
Meskipun superiotas Amerika tidak dapat dipungkiri, tetapi para serdadu dan marinir Amerika tetap harus berjuang untuk tetap hidup di Okinawa. Di sebelah selatan yang terpotong oleh jurang-jurang, bukit-bukit dan dipertahankan secara kuat oleh pasukan Jepang, serdadu Amerika berlaga di wilayah yang secara unik mengingatkan keadaan di Jepang sendiri, sudah biasa bagi musuh namun segalanya asing bagi mereka.

Marinir AS harus menggunakan tank pemyembur api untuk melawan pasukan Jepang yg bersembunyi digua-gua

Kebengisan pertempuran memuncak hari demi hari. Para Marinir yang berlari maju ke Ponok Cadas --yaitu dua bukit karang yang tinggi, penuh terowongan dan sarang mortar serta senapan mesin-- dihentikan oleh tembakan gencar Jepang sebelum mencapai lereng dibawahnya. Tank-tank penyembur api Amerika membanjiri bukit-bukit itu dengan bergalon-galon bahan bakar cair, memanggang ratusan orang Jepang yang bersembunyi di gua-gua. Menurut kesaksian seorang yang selamat, “Rasanya seperti ayam yang digoreng.” Mereka yang berhasil lolos dari gempuran ini, di luar gua disapu oleh prajurit infanteri yang sudah menunggu dengan butiran-butiran timah panas.

Meriam-meriam Ushijma sendiri tanpa henti-hentinya menembaki mangsanya: prajurit Amerika, yang setengah mati ketakutan bersembunyi di lubang-lubang dangkal. Di bawah dentaman dan raungan senjata api yang tiada hentinya, tidur bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi serdadu Amerika, dan kelelahan mental serta fisik segera menjadi gejala umum. Penderita keletihan tempur mulai memadati rumah sakit divisi sejak pertengahan April, dan sebelum perang berakhir  sekitar 13.000 prajurit Amerika sudah berada di tepi jurang keruntuhan sehingga Okinawa menghasilkan penderita keletihan tempur yang terbanyak dan terparah dalam Perang Pasifik.


Banzai Terakhir
Suatu pertikaian sengit di markas besar Jenderal Ushijima memberikan keuntungan yang tidak terduga bagi Amerika. Jenderal Cho, yang nalurinya selalu memberontak terhadap pertahanan statis, meminta dilakukannya usaha besar-besaran untuk memukul mundur tentara Amerika. Sebagian besar perwira staf memihak Cho, sehingga Ushijima pun akhirnya menyetujui permintaan Cho.

Serangan balasan Jepang dilancarkan pada tanggal 4 mei. Suatu pemboman dahsyat mengawali serbuan diikuti kekacauan dan pertempuran jarak dekat, di mana kawan dan lawan saling melewati tanpa menyadari di tengah-tengah medan laga yang berubah-ubah. Ratusan prajurit Jepang dihancurkan di pantai oleh unsur Divisi Marinir 1, yang mengarahkan senjatanya dengan bantuan pekik banzai mereka. Sebaris serdadu Amerika yang sedang bersantai dibantai oleh prajurit Jepang. Suatu gerakan maju Jepang menjelang sore tanggal 4 Mei berhasil memasuki garis belakang Amerika sepanjang lebih dari satu mil. Namun suatu berondongan senjata yang dahsyat menghabisinya.

Pada hari berikutnya, hasil serbuan Cho sudah jelas bagi Ushijima. Dia memerintahkan pasukannya yang terpukul hebat untuk kembali ke tempat-tempat persembunyian mereka dan kembali mengambil sikap bertahan. Pengaruh Cho dan para pendukungnya runtuh melihat kenyataan pahit ini. Keadaan pasukan Jepang kian memprihatinkan sepanjang bulan Mei dan permulaan bulan Juni ketika pasukan Amerika dengan perlahan-lahan mendobrak maju ke sebelah selatan pulau itu. Pasukan Ushijima tidak mampu membendung gerak maju tersebut. Pada tanggal 31 Mei, Puri Shuri, benteng terakhir Jepang, jatuh ke tangan Amerika.

Serdadu-serdadu Amerika yang memasuki bekas markas besar Angkatan Darat ke-32 Ushijima menyaksikan suatu kehancuran yang sempurna. Granat-granat dan bom-bom berdaya ledak tinggi telah memporakporandakan seluruh kota yang mengelilingi puri itu. Hanya sebuah gereja Metodis dan sebuah bangunan beton bertingkat dua yang masih berdiri. Puri Shuri, tempat raja-raja Okinawa dulu memerintah, tinggal puing-puingnya saja. Pasukan jepang mundur ke selatan dan meninggalkan begitu saja mayat-mayat rekannya. Pusat pertahanan terakhir yang terorganisasi bubar sudah.


Jatuhnya Okinawa
Tanggal 4 Juni, Angkatan Darat ke-32 Jepang hanya tersisa sebanyak 30.000 orang, yang kebanyakan terdiri atas pasukan cadangan dan milisi. Ushijima berusaha membuat sebuah keajaiban kecil dengan membentuk wilayah pertahanan lain, tetapi dia tahu bahwa ini hanya dapat bertahan sementara saja. Babak akhir telah mendekat.

Terlihat sekali rona keletihan di wajah pemimpin Jepang ini

Bahkan sekarang serdadu-serdadu Jepang sudah mengetahuinya. Penyebaran jutaan pamflet yang meyakinkan bahwa mereka akan diperlakukan adil, menyebabkan mereka mempertimbangkan untuk menyerah. Banyak yang menentang hal ini dan memilih bunuh diri. Tetapi untuk pertama kalinya selama masa perang, ratusan serdadu yang kotor dan compang camping keluar dari gua-gua dan berjalan ke arah garis pertahanan Amerika dengan tangan terangkat tinggi-tinggi di kepala. Akhirnya, 10.755 prajurit Jepang menyerah.

Keadaan Jepang sudah tidak ada harapan lagi. Jenderal Buckner menawarkan suatu penyerahan kepada Ushijima melalui sebuah surat yang dijatuhkan dari pesawat terbang. “Pasukan yang Anda pimpin telah bertempur dengan gagah berani dan baik,” kata Buckner, “dan siasat infanteri Anda patut mendapat penghargaan dari lawan Anda. Seperti saya sendiri, Anda adalah jenderal infanteri yang telah mendapat pendidikan lama dan pengalaman yang banyak dalam perang infanteri. Oleh karena itu saya percaya bahwa, seperti saya, Anda pun dengan jelas memahami bahwa kehancuran seluruh perlawanan Jepang di pulau ini hanya masalah waktu saja.”

Ushijima maupun Cho mengabaikan tawaran itu dengan anggapan bahwa sebagai samurai tidaklah sesuai dengan harga diri mereka mempertimbangkan tawaran itu. Kedua Jenderal itu sudah merencanakan mengakhiri hidupnya dengan berhara kiri yang kemudian dilakukan pada 22 Juni. Cho menulis kalimat untuk batu nisannya sendiri sebagai berikut : “Cho Isamu, Letnan Jenderal Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Umur; 51 tahun. Saya mati tanpa sesal, tanpa takut, tanpa malu dan tanpa salah.”

Hari kematian Ushijima, tanggal 22 Juni, menandai berakhirnya perlawanan Jepang yang terorganisasi di Okinawa. Namun masih 10 hari lagi diperlukan untuk pembersihan—tugas berbahaya mengumpulkan serdadu Jepang yang berkeliaran, melumpuhkan tawanan yang berusaha meledakkan diri dengan granat bersama penangkapnya, memeriksa gua dan terowangan yang diperiksa, membunuh serdadu yang lolos dan tidak mau menyerah.


Korban Jiwa

Dari catatan regu Registrasi Pemakaman, angka korban yang tercatat amat besar. Di pihak Jepang kira-kira 110.000 orang tewas dalam pertempuran darat, termasuk di antaranya 42.000 orang sipil. Kemenangan atas Okinawa telah menimbulkan kerugian di pihak Angkatan Darat dan Marinir Amerika dengan 7.613 orang tewas atau hilang dan 31.087 terluka. Selain itu, kerugian besar diderita juga oleh para pelaut dan penerbang Angkatan Laut yang telah menyediakan perbekalan, dukungan udara dan artileri selama tiga bulan lebih bagi kampanye di darat. Serangan kamikaze dan gempuran udara konvensional telah menewaskan 4.320 orang dan mencederai 7.312 personel Angkatan Laut.

Korban yang mengerikan dalam pertempuran Okinawa mengundang kemarahan publik Amerika: mereka menyalahkan “siasat yang ultra konservatif”. Jenderal McArthur, yang telah memimpin sebagian besar pertempuran Pasifik dengan korban minim, ikut bersuara dan menuduh komando Laksamana Nimitz ”mengorbankan ribuan serdadu Amerika karena mereka sebenarnya menghendaki pengusiran Jepang dari pulau itu” dan bukannya mengucilkan Okinawa selatan dan membiarkan pasukan Jepang di sana hancur sendiri.

Tetapi, berapa pun korban Amerika untuk merebut Okinawa, jatuhnya pulau itu merupakan pukulan berat bagi Jepang. Di Tokyo, pemerintah baru pimpinan Perdana Menteri Suzuki Kantaro terkesiap oleh kekalahan itu. “Perdana Menteri kini mengakui bahwa situasi perang ternyata lebih buruk daripada yang ia perkirakan,” demikian bunyi laporan diplomat Shigemitsu Mamoru. “Okinawa memberikan kepastian tentang akhir peperangan.” Sebenarnya, Okinawa telah memungkinkan para petinggi Jepang memikirkan dengan sungguh-sungguh apa yang sebelumnya tidak terpikirkan: kemungkinan mengirim utusan untuk menjajaki perdamaian.

Rabu, 18 Mei 2011

Pertempuran Makasar 1950



Usai Penyerahan Kedaulatan (Souvereniteit Overdracht) pada tanggal 27 Desember 1949, dalam negeri Republik Indonesia Serikat mulai bergelora. Serpihan ledakan bom waktu peninggalan Belanda mulai menunjukkan akibatnya. Pada umumnya serpihan tersebut mengisyaratkan tiga hal. Pertama, ketakutan antek tentara Belanda yang tergabung dalam KNIL, yang bertanya-tanya akan bagaimana nasib mereka setelah penyerahan kedaulatan tersebut. Kedua, terperangkapnya para pimpinan tentara yang jumlahnya cukup banyak dalam penentuan sikap dan ideologi mereka. Utamanya para pimpinan militer didikan dan binaan Belanda. Terahir, masih banyaknya terjadi dualisme kepemimpinan dalam kelompok ketentaraan Indonesia antara kelompok APRIS dengan kelompok pejoang gerilya. 

Walaupun sejak bulan Juni 1947 Pemerintah RI telah mengeluarkan kebijaksanaan bahwa segenap badan kelaskaran baik yang tergabung dalam biro perjoangan maupun yang lepas berada dalam satu wadah dan satu komando yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketiga hal tersebut semakin mengental pada daerah yang masih kuat pengaruh “Belandanya”. Salah satu daerah dimaksud adalah wilayah Sulawesi Selatan. Tiga peristiwa di tahun 50 yang terjadi dikota Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan memperlihatkan kekentalan tersebut. Peristiwa pertama terjadi pada tanggal 5 April 1950 yang terkenal sebagai peristiwa Andi Azis. Peristiwa kedua yang terjadi pada tanggal 15 Mei 1950 dan ketiga yang terjadi pada tanggal 5 Agustus 1950. Dalam ketiga peristiwa tersebut yang menjadi penyebabnya selalu permasalahan mengenai kegamangan tentara KNIL akan nasib mereka. Sedangkan 2 peristiwa terahir menjadi tolak ukur dari kegamangan tersebut. 

Menteri Pertahanan RIS, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam pertemuan pers mengatakan bahwa tidak heran dengan terjadinya peristiwa paling ahir pada tanggal 5 Agustus 1950 (Sin Po 8/8/50). Rentetan ketiga peristiwa di Makassar tersebut agaknya selalu bermula dari upaya-upaya para anggota KNIL (kemudian dilebur dalam KL) untuk mengacaukan kehidupan rakyat di Makassar sekaligus berupaya untuk memancing tentara APRIS memulai serangan kepada mereka. Tidak kalah ikut menentukan suasana panas dikota Makassar adalah persoalan tuntutan masyarakat untuk segera menuju negara kesatuan. Tentu saja gerakan rakyat ini tidak saja terjadi di Indonesia Timur, tapi juga di Jawa Timur, Pasundan, Sumatera Timur dan berbagai daerah lainnya. 

Pemerintah RIS dalam hal ini atau setidaknya banyak fihak dalam kabinet dan Parlemen sangat memberi angin menuju Negara Kesatuan.Rencana kedatangan tentara APRIS ke Makassar nampaknya terlalu dibesar-besarkan semata-mata karena rasa takut akan menguntungkan fihak pemerintah pusat (RIS). Oleh karena itu bukan tidak mungkin pemberontakan Andi Aziz adalah rekayasa politik fihak KNIL akibat provokasi tokoh-tokoh anti RIS dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur. Andi Aziz sendiri diyakini banyak fihak adalah seorang anggota militer dengan pribadi yang baik. Namun dalam sekala kesatuan militer KNIL di Sulawesi Selatan dirinya lebih condong sebagai boneka. Tampak bahwa Kolonel Schotborg dan jakasa agung NIT Sumokil adalah pengendali utama kekuatan KNIL dikota Makassar. 

Dari hasil pemeriksaan Aziz dalam sidang militer yang digelar tiga tahun kemudian (1953), saksi mantan Presiden NIT Sukawati dan Let.Kol Mokoginta tidak banyak meringankan terdakwa yang pada ahirnya dihukum penjara selama 14 tahun. Dalam persidangan tersebut terdakwa mengaku bersalah, tidak akan naik appel tapi merencanakan minta grasi kepada Presiden. Ketika sedang berlangsungnya pemberontakan Andi Aziz di Makassar, untuk mengantisipasinya Pemerintah RIS di Jakarta telah membentuk pasukan gabungan Expedisi Indonesia Timur. Pasukan ini terdiri dari batalyon ADRIS dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur didukung oleh AURIS, ALRIS dan Kepolisian. Sebagai pimpinan Komando ditunjuk Kolonel A.E Kawilarang Panglima TT Sumatera Utara. Ketika pasukan besar ini sedang dipersiapkan keberangkatannya, telah lebih dahulu diberangkatkan batalyon Worang yang tiba di Sulawesi Selatan pada tanggal 11 April 1950. 

Meskipun Worang tidak dapat langsung mendarat di Makassar tapi di Jeneponto yang letaknya 100 km keselatan, rakyat menyambutnya dengan sukacita. Sebuah foto yang disiarkan majalah Merdeka terbitan 13 Mei 1950 menggambarkan hal tersebut. Terlihat 3 orang anggota tentara APRIS yang berjalan menuju kerumunan massa dimana dilatar belakang tampak spanduk bertuliskan “ SELAMAT DATANG TENTARA KITA”. 

Pertempuran besar memang tidak terjadi antara pasukan APRIS Worang dengan KNIL di Makassar bahkan Andi Aziz ahirnya mau menyerah guna memenuhi panggilan Pemerintah Pusat di Jakarta meskipun telah melampaui batas waktu 4 X 24 Jam untuk mendapat pengampunan. Menyerahnya Andi Azis kemungkinan besar karena kekuatan pendukung dibelakangnya sudah tidak ada lagi yaitu Sumokil yang sudah terbang ke Ambon via Menado dan Kolonel Schotborg yang siap dimutasi untuk pulang ke Belanda. Setelah Andi Aziz menyerah, banyak tentara dari bekas infantri KNIL yang tidak tahu lagi siapa pemimpin mereka dan bagaimana nasib mereka selanjutnya. Sementara untuk bergabung dengan APRIS belum ada ketentuan karena belum ada peraturan resmi yang akan membubarkan KNIL (KNIL bubar tgl 27 Juli 1950). 

Tak heran mereka kemudian memprovokasi rakyat dan kemudian memulai serangan terhadap pos-pos tentara APRIS. Menjelang pertempuran yang terjadi antara pasukan KNIL dengan pasukan APRIS pada tanggal 15 Mei 1950 bermula ketika banyak anggota KNIL menurunkan bendera merah putih disekitar kampemen tempat anggota KNIL berdiam. Peristiwa penurunan bendera Sang Saka merah Putih itu terjadi bersamaan degan tibanya Presiden RIS Soekarno dikota Makasasar yang memulai lawatannya ke Sulawesi. Setelah Merah Putih diturunkan berlanjut dengan coretan tembok rumah rakyat dan spanduk disekitar kampemen KNIL berisi tulisan yang memojokkan Negara Republik Indonesia Serikat. Peristiwa ini juga kemudian berkaitan dengan ditembaknya seorang Perwira APRIS oleh tentara KNIL. 

Peristiwa diatas memicu ketegangan yang memunculkan ketidak sabaran anggota APRIS terhadap tindakan dan ulah provokasi KNIL. Rakyat yang diprovokasi tidak sabar menunggu komando untuk menyerang KNIL. Pasukan pejoang gerilya dibawah batalyon Lipang Bajeng dan Harimau Indonesia telah mempersiapkan diri untuk hal tersebut. Sementara tentara KNIL sudah semakin mengeras upayanya untuk menghancurkan kekuatan APRIS untuk menguasai Makassar. Maka pada tanggal 15 Mei 1950 terjadilah pertempuran besar dikota Makassar. 

Pasukan KNIL menyerbu barak-barak APRIS, membakar rumah rakyat, menghancurkan rumah dan toko-toko didaerah pecinaan. Sekitar Makassar penuh dengan api, bau anyir darah dan berbagai desing senjata. Serangan KNIL ini memang sudah diwaspadai APRIS. Tentara APRIS kemudian membalas serangan dan bersamaan dengan itu pasukan pejoang gerilya dari Batalyon Lipang Bajeng dan Harimau Indonesia telah turun dari dua kota pangkalan mereka di Polobangkeng dan Pallangga yang terletak disekitar kota Makassar. Seketika suasana medan laga telah berubah. Pasukan APRIS bersama dua batalyon pejoang tersebut dan rakyat Makassar menyerang balik tentara KNIL. Dalam keadaan demikian inilah Kolonel AH Nasution selaku Kepala Staf ADRIS bersama dengan Kolonel Pereira selaku Wakil Kepala Staf KNIL tiba di Makassar. Kedua pucuk pimpinan tentara ini kemudian meninjau keadaan dan berunding. 

Pada tgl 18 Mei 1950 wakil dari APRIS yaitu Overste Sentot Iskandardinata dan Kapten Leo Lopolisa berunding dengan wakil dari KNIL yaitu Kolonel Scotborg, Overste Musch dan Overste Theyman yang disaksikan oleh Kolonel AH Nasution serta Kolonel AJA Pereira. Perundingan menghasilkan dua keputusan penting yaitu dibuatnya garis demarkasi serta tidak diperbolehkannya kedua tentara APRIS dan KNIL untuk mendekati dalam jarak 50 meter. 

Untuk sementara keadaan dapat diamankan. Perundingan pertama ini detailnya menghasilkan persetujuan untuk melokalisir tentara KNIL ditiga tempat. Namun rupanya persetujuan dimaksud tidak ditaati. Antara menerangkannya sebagai berikut : “Tetapi persetujuan tinggal persetujuan. Maka pada hari selasa pertempuran mulai lagi berjalan dengan sengit. Pertempuran yang paling sengit terjadi diempat tempat. Yaitu tangsi KNIL di Mariso, sekitar tangsi KNIL Matoangin, Boomstraat, sekitar Stafkwartier KNIL di Hogepad. Pertempuran sudah berjalan tiga hari tiga malam lamanya tetapi belum juga berhenti” (Kempen 1953:302). 

Pada ahir Juli 1950 pasukan KNIL dibubarkan. Muncul permasalahan baru. Mau dikemanakan para prajurit ex KNIL tersebut. Sebagian memang dilebur kedalam KL, sebagian lagi menunggu untuk diterima sebagai anggota APRIS. Namun masa penantian ini secara psikologis amat merisaukan para anggota tentara KNIL. Pertama mereka dianggap rakyat sebagai kaki tangan Kolonial Belanda, sementara disisi lain bekas majikannya tidak mengindahkan nasib mereka. 

Timbullah usaha provokasi baru yang antara lain dilukiskan sebagai berikut : “Sesudah anggota KNIL di Makassar memperoleh kedudukan sementara sebagai anggota KL pada tanggal 26 Juli 1950 keadaan tidak bertambah baik, sebaliknya mereka terus menerus menimbulkan kesulitan-kesulitan. Mereka antara lain menentang dengan kekerasan usaha pimpinan tentara Belanda untuk menyerahkan alat tentaranya kepada tentara Belanda. Mereka sering menganiaya penduduk. Bendera-bendera kebangsaan (maksudnya Merah Putih) disekitar kampemen mereka turunkan dan ahir-ahir ini mereka dengan kejam membunuh perwira Indonesia yang bereda dekat kampemen ketika sedang mengunjungi keluarganya” (Antara 12/8/1950). 

Berbagai tindakan provokasi yang dilakukan para eks KNIL ternyata tidak mendapat tanggapan emosinal oleh APRIS. Sehingga terkesan APRIS terlalu sabar. Kesan sabar ini tertimpakan pada pucuk pimpinan APRIS Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur Kolonel AE Kawilarang. Pada saat itu Antara menulis : “Kemaren jam 17.00 Kawilarang telah mengadakan pertemuan dengan wakil-wakil partai dan organisasi di Makassar. 

Dikatakannya bahwa ia mengerti akan kekecewaan rakyat terhadap tindakan APRIS yang oleh rakyat dianggap terlalu sabar dalam menghadapi segala percobaan (masudnya dari fihak KNIL) tetapi dikatakannya seterusnya bahwa dalam hal ini orang harus ingat bahwa APRIS adalah bagian resmi dari Pemerintah sedangkan KNIL dipandang sebagai tentara tamu selama mereka belum diorganisir dan semua itu terikat dalam perjanjian KMB yang harus dihormati. Kami cukup kuat dan pasti dapat menyelesaikan segala sesuatu dengan senjata tetapi dengan demikian keadaan akan bertambah kacau dan nama negara kita dimata dunia akan surut. (Antara 3/6/1950). 

Dua hal yang antagonis antara provokasi yang dilakukan tentara KNIL dan kesabaran pucuk pimpinan APRIS tersebut menimbulkan dilema dalam menetapkan kebijaksanaan yang akan diambil APRIS selanjutnya. Apalagi kemudian rakyat Makassar semakin mempertajam sikap mereka terhadap tentara KNIL dengan melakukan pemboikotan seluruh kegiatan perdagangan dari dan ke markas-markas KNIL. Suasana tegang ini ibarat bisul yang akan meletus sewaktu-waktu.

Agar APRIS tidak keliru mengambil langkah dalam mengantisipasi ketegangan yang semakin tinggi pada tgl 5 Agustus 1950, APRIS setuju untuk mengadakan perundingan dengan wakil militer Belanda di Indonesia. Pertemuan yang diikuti oleh tiga wakil tentara Belanda dan dihadiri pula oleh wakil dari UNCI, menyepakati sikap untuk mengendurkan ketegangan melalui APRIS yang berjanji akan mengadakan pendekatan kepada rakyat agar menghentikan boikot kepada tentara KNIL. 

Belum upaya mengendurkan itu dilakukan oleh APRIS, hari itu pula pada pukul 17.20 selang 80 menit dari usainya persetujuan tersebut tentara eks KNIL melakukan serangan sitematis keseluruh barak dan asrama tentara APRIS. Tindakan yang kelewat batas tersebut dan menghianati persetujuan, pantang ditolak oleh segenap pasukan APRIS, pejoang gerilya yang tergabung dalam Divisi Hasanudin serta rakyat Makassar. 

Dalam tempo sekejap memang tentara eks KNIL dapat menguasai medan pertempuran, namun keadaan cepat berubah beberapa jam kemudian. Pasukan APRIS yang didukung oleh kekuatan Udara dan Laut menghantam terus menerus barak-barak eks tentara KNIL. Belum lagi serangan-serangan dari pasukan Divisi Hasanudin dan rakyat. Tidak sampai 3 X 24 jam pasukan eks KNIL sudah terkepung dibarak-barak mereka. 

Ahirnya pada tanggal 8 Agustus 1950 bertempat dilapangan terbang Mandai diadakan persetujuan antara Kolonel AE Kawilarang yang mewakili APRIS dan Mayor Jendeal Scheffelaar sebagai wakil Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda di Indonesia. Mereka sepakat agar seluruh anggota pasukan KL meninggalkan Makassar dan menyerahkan seluruh perlengkapannya kepada APRIS. Bagi mereka yang menolak akan dikeluarkan dari KL. 

Pada pukul 16.00 tanggal 8 Agustus dengan muka tertunduk malu dimulailah pasukan KL meninggalkan Makassar diiringi cemooh segenap rakyat. Dan untuk pertama kalinya sejak penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949, pasukan APRIS pantas bertepuk dada karena telah memenangkan perang dan mengusir pasukan KL tampa syarat. Merah Putih telah tegak berdiri menggantikan Merah Putih Biru untuk selama lamanya. Kemenangan ini tidak lepas dari dukungan seluruh rakyat termasuk para pejoang gerilya yang telah bahu membahu berjoang dengan pasukan APRIS.

Sebuah fenomena monumental yang mencatat dengan tinta emas dalam buku sejarah Nasional kebesaran TNI. Walau bagaimanapun TENTARA KITA pernah jaya dan akan tetap jaya untuk selama-lamanya. Hal ini antara lain disebabkan karena pucuk pimpinannya sangat cermat dan memiliki kewaspadaan serta kedalaman berfikir dalam mengatur strategi. Mungkin inilah kelebihan Kolonel AE Kawilarang.

Pertempuran Iwo Jima (Kengerian Bagi Marinir Amerika)



Introduction
Februari 1945, pecahlah pertempuran sengit di Iwo Jima, “pintu gerbang” Tokyo. Kalau ada pertanyaan kepada marinir Amerika, baik prajurit biasa atau perwira sekalipun, maka jawabannya tidak perlu diragukan lagi. Bukan Tarawa, Guadalcanal, atau Okinawa jawabnya, melainkan Iwo Jima, yang dianggap sebagai the ugliest place on the earth for the Marines, (tempat paling menakutkan di dunia ini bagi pasukan marinir). Seorang wartawan perang bilang: “Saya tidak pernah melihat luka-luka begitu mengerikan seperti di Iwo”. Seorang dokter di kapal rumah sakit di pantai Iwo: “Saya pernah berhadapan dengan serdadu-serdadu yang luka di medan perang Normandia, tapi belum pernah luka-lukanya begitu rusak seperti di Iwo”.

Pulau Iwo Jima
Dan mengenai pertahanan Jepang di Iwo ini, dengarlah ucapan-ucapan pihak Sekutu: the most hellish defense in the Pasific, if not in the history of warfare (pertahanan yang paling dahsyat di medan Perang Pasifik; dalam seluruh sejarah peperangan); “sebuah benteng yang sempurna”; “dibandingkan dengan Iwo Jima, Gibraltar tidak berarti apa-apa.

Pertempuran di Iwo Jima memang luar biasa. Sebelum mendarat, Sekutu mengira bahwa pulau kecil ini (luasnya cuma 8 mil persegi) bisa direbut hanya dalam lima hari. Tapi jadinya satu bulan. Apa yang terjadi di Iwo Jima sama sekali tidak pernah diperkirakan oleh Sekutu. Semenjak Sekutu mulai dengan ofensifnya, jumlah pasukan Sekutu yang mati dan luka selalu jauh lebih kecil daripada jumlah Jepang yang mati, kecuali di Iwo Jima. Di Iwo, jumlah korban dari pihak Sekutu yang mati dan luka adalah sama dengan pasukan Jepang, lebih dari 20.000! Tidak pernah terjadi hal seperti itu.


Arti Penting Iwo
Pendaratan di Iwo dilakukan pada bulan Februari 1945, tiga bulan setelah lapangan terbang di Saipan digunakan oleh pembom jarak jauh B-29, untuk membom tanah Jepang sendiri. Tetapi pemboman dari Saipan tidak begitu efektif mengingat jarak yang terlampau jauh dari Jepang, sekitar 1.200 mil, sehingga pesawat pemburu (fighter) tidak bisa melindungi pembom B-29. Kesulitan ini akan berakhir jika Iwo Jima yang letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Saipan, juga dikuasai Sekutu.

Pembom B-29
Iwo yang masih dikuasai Jepang juga merupakan ancaman bagi pembom B-29 itu. Radar Jepang di Iwo bisa mengetahui kedatangannya dan memperingatkan Tokyo dua jam sebelum B-29 tiba di sasaran. Dan bila B-29 mau menghindarinya, ia mesti terbang jauh-jauh dari Iwo sebelum menuju sasaran, dan ini berarti pembuangan bahan bakar dan waktu, sehingga jumlah bom yang diangkut pun harus dikurangi. Yang lebih hebat, selama Iwo Jima di tangan Jepang, bisa digunakan oleh pesawat terbang Jepang untuk membom Saipan.

Mungkin pembaca bertanya, apakah mungkin Jepang masih mempunyai banyak pesawat terbang di awal tahun 1945 ini, bukankah dalam pertempuran di Filipina bisa dibilang armada udara Jepang sudah tak ada lagi?

Memang betul, kecuali mengenai pertahanan tanah Jepang sendiri, home defense. Meski armada udara Jepang di luar Jepang sudah musnah sebagai kesatuan yang berarti, tetapi di tanah air mereka masih ada kira-kira 10.000 pesawat terbang. Sebagian digunakan untuk menyerang Saipan dari Iwo Jima.

Satu lagi hal yang membuat Iwo penting bagi Sekutu. Pembom B-29 kalau mendapat kerusakan di atas wilayah Jepang, sering tidak cukup kuat untuk kembali ke Saipan yang begitu jauh. Bisa juga kemungkinan ditolong oleh kapal selam di tengah laut, tetapi pesawatnya akan tenggelam di laut. Tetapi kalau Iwo dikuasai Sekutu, pembom B-29 yang pincang akibat tembakan meriam penangkis udara Tokyo, bisa mendarat dan direparasi di Iwo. Maka, direbutnya Iwo akan sangat membesarkan semangat para pilot B-29.


Strategi Sebelum Pendaratan
Pendaratan di Iwo dilakukan pada tanggal 9 Februari 1945. Tiga hari sebelumnya, kapal-kapal perang dan kapal-kapal pengangkut yang akan menurunkan 60.000 marinir sudah berlabuh di depan pantai Iwo.

Untuk mencegah gangguan dari pesawat udara Jepang, diseranglah Tokyo tiga hari sebelum serangan Iwo 16 Februari 1945 ini di bawah pimpinan Spruance, dan satuan tugas dengan kapal-kapal induk di bawah Mitscher, bernama Task Force 58. Pada titik 120 mil dari Tokyo, dilepaslah pesawat-pesawat terbang menyerang sasaran utama, pabrik pesawat terbang Jepang.

Serangan ini berlangsung beberapa hari, sehingga tujuan lain pun tercapai: selama pendaratan Sekutu di Iwo, 600 mil dari Tokyo, tidak ada gangguan dari pesawat udara Jepang. Laut dan udara di sekitar Iwo dikuasai Sekutu. Tinggal kini pertempuran di daratan pulai Iwo Jima saja, menghadapi the most formidable defended eight square miles (delapan mil yang paling hebat dipertahankan di Pasifik).


Benteng Kokoh Iwo Jima
Iwo Jima adalah pulau gunung api yang baru muncul dari laut belum sampai 90 tahun. Terdapat Gunung Suribachi, yang masih ada lubang-lubang yang mengeluarkan uap, tanda bahwa pulau ini masih aktif. Di sebelah tengah dan utara terdapat jurang-jurang dalam, batu karang yang tinggi – satu pulau yang ideal untuk dipertahankan. Jenderal Kuribayashi memerintahkan para insinyurnya mendirikan benteng-benteng di bawah tanah, di dalam gunung Iwo Jima. Terowongan bawah tanah sepanjang 5.000 meter digali Jepang, yang satu sama lain berhubungan, seperti jaring laba-laba.

Peta Benteng Pertahanan Jepang

Taktik Kuribayashi ini terbukti ampuh. Pulau seperti ini, tahan pemboman apa pun juga. Selama delapan bulan, Sekutu membombardir Iwo. Selama 72 hari sebelum mendarat, Sekutu membomnya berturut-turut. Selama tiga hari sebelum D-Day, kapal-kapal ini telah memuntahkan peluru ribuan ton, pesawat terbang Sekutu yang mau menghancurkan pertahanan Kuribayashi mengaung-ngaung di atas pulau kecil ini. Tapi apa yang mau dibom? Dari atas tidak kelihatan apa-apa yang patut dibom. Pertahanan Kuribayashi tetap utuh. Jepang yang mahir dalam ilmu penyamaran, camouflage, menyembunyikan sarang-sarang meriam dan senapan mesin dengan tanaman-tanaman kembang yang berwarna. Dengan menggunakan mesiu yang tidak mengeluarkan asap (smokeless powder), maka Sekutu tidak bisa menentukan datangnya dan letak sarang-sarang meriam anti-pesawat itu.

Kuribayashi

Pihak Amerika mengaku terus terang: Ilmu perang amfibi Amerika makin lama makin maju semenjak drama di Tarawa, tapi ilmu perang defensif Jepang di Iwo ini pun sama cepat majunya. Pendaratan Sekutu pada tanggal 19 Februari mula-mula berjalan sesuai rencana. Pukul 9 pagi, tibalah amtrac-amtrac di dekat pantai, namun semenjak itu mulailah seri malapetaka bagi penyerbu. Karena pulau ini kecil sekali, maka tiap senjata Kuribayashi yang tersembunyi di dalam tanah dan gua di seluruh pulau ini bisa menembak sasaran di pantai.

Keunggulan teknik Sekutu tidak berguna disini. Pasukan Jepang tidak pernah kelihatan karena bersembunyi. Kuribayashi yang cerdik memberi perintah keras, jangan mengadakan serangan banzai. Selalu tinggal tetap dalam lubang pertahanan. Dengan serangan frontal pihak Jepang bisa disapu sekaligus dengan puluhan orang. Serangan balasan dilakukan di waktu malam. Hal ini memaksa Amerika harus merebut Iwo menurut cara yang ditetapkan oleh Kuribayashi (we had to fight on enemy’s terms). Marinir Amerika harus merebut Iwo meter per meter, benteng per benteng, sambil merangkak dengan perut, tidak mungkin mengadakan manuver kilat. Kalau marinir Amerika berdiri sedikit saja, kontan mendapat tembakan senapan atau senapan mesin.

Penyerbu yang maju merangkak, selamat terhadap tembakan senapan mesin, tapi tidak terhadap peluru dan pecahan peluru mortir. Dan mortir Jepang di Iwo adalah mortir raksasa. Besar diameternya 320 mm!, mortir terbesar yang pernah digunakan di medan Perang Pasifik.


Akibat Pertempuran
Di Iwo ini pasukan Sekutu yang mati 550 orang, tapi yang luka 16.000 orang. Mungkin kita menganggap jumlah yang mati saja yang penting, karena luka bisa sembuh. Tapi dengan luka yang seperti dijelaskan diatas akibat mortir 320 mm, maka dapatlah dibayangkan apa yang terjadi.

Tentara Jepang yg tewas di Iwo Jima

Inilah perang dalam bentuk hebat. Tapi yang paling hebat ialah orang yang menjadi gila karena suara dentuman, ledakan, hujan peluru artileri, mortir, senapan mesin, dan dinamit. Serdadu yang karena “senewen” menjerit-jerit, dan berontak-rontak di atas usungan di mana dia diikat. Luka tubuhnya mengerikan, tapi jiwa yang robek karena peperangan, adalah war at its worst, perang dalam bentuk sehebat-hebatnya. Keith Weeler, wartawan Chicago Times bilang: There’s more hell in there than I’ve seen in the rest of this war put together. “Iwo Jima seperti neraka, lebih hebat daripada semua pengalaman saya selama peperangan ini digabung menjadi satu.”

Senjata yang paling ditakuti Jepang adalah penyembur api (flamethrower) merek Ronson. Tetapi pasukan dengan penyembur api itu tidak bisa berbuat banyak kalau sasaran masih jauh. Bila maju sendirian, maka akan dihadang hujan tembakan. Maka digunakan tank bulldozer, sebuah kendaraan berlapis baja, yang meratakan jalan bagi barisan penyemprot api. Tapi Kuribayashi dengan cepat pula mengubah taktiknya. Kemudian semua peluru. Ditujukan. Kepada tank buldozer itu.

Tetapi bagaimanapun kuat dan cerdiknya Kuribayashi dengan benteng dan orang-orangnya, kalau laut dan udara dikuaai musuh, dan bala bantuan tidak bisa didatangkan, benteng itu akhirnya harus jatuh juga.


Harga Mahal Yang Harus Dibayar
Lebih dari 20.000 marinir Amerika yang mati dan luka. Terlalu mahalkah untuk mendapatkan Iwo Jima? Jawab mereka: tidak. Sampai akhir peperangan, 2.251 pesawat B29 mendarat di Iwo. Sebagian besar dari ini akan lenyap, kalau Iwo tidak ada. Tiap B-29 itu mempunyai anak buah sebanyak 11 orang, sehingga jumlahnya yang mendarat 24.761 orang, hampir sama dengan 22.082 marinir Amerika yang mati dan luka ketika merebut Iwo . Menurut Amerika korban itu seimbang dengan nilai Iwo sebagai pangkalan.

Itulah perang, di mana prestasi manusia antara lain terukur dari berapa nyawa yang dicabut dan darah yang ditumpahkan.


Sumber: Ojong, P.K.. (2006). Perang Pasifik. Jakarta.: Penerbit Buku Kompas.