Selasa, 26 April 2011

Membongkar Sistem Perbudakan Seksual Militer Jepang 1935-1945

Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sebelum pertikaian dimulai di Eropa, setelah Jepang menginvasi Cina tahun 1931 jauh sebelum Perang Dunia II mulai di Eropa tanggal 1 September 1939-14 Agustus 1945. Tanggal 1 Maret 1931 Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi raja di Manchukuo, Negara boneka di Manchuria. Pada tahun 1937 perang telah dimulai saat Jepang mengambil paksa Cina.

Shanghai dan langsung memulai laju serangannya lagi hingga menuju kota Nanjing yang berjarak sekitar 360 km dari Shanghai. Balatentara Jepang yang berada disana seluruhnya berjumlah sekitar 135.000 personil militer.

Oleh karena terus menerus melakukan peperangan, prajurit Jepang mulai kehabisan persediaan makanan. Menyadari situasi ini, markas besar militer Jepang membuat strategi baru dengan cara mencari makanan dari musuh. Ini artinya prajurit Jepang harus mulai menjarahi rumah-rumah penduduk untuk memperoleh makanan sebagai upaya bertahan hidup.

Tindakan militer Jepang ini memicu kemarahan rakyat Cina, dalam keadaan terjepit rakyat Cina mulai melawan dengan memakai cara apa saja. Tindakan orang Cina ini tentu saja menimbulkan masalah baru bagi militer Jepang yang sedang melakukan upaya kolonialisasi. Akibatnya militer Jepang mengeluarkan perintah, “Bunuh orang Cina yang terlihat di depanmu!”

Saat ini masih banyak orang berfikir bahwa dalam situasi perang segalanya dapat terjadi secara mendadak tanpa terencana. Termasuk peristiwa pahit yang menimpa ratusan ribu perempuan Asia dan Belanda dalam praktek sistem perbudakan seksual dengan nama Jugun Ianfu. Benarkan praktek Jugun Ianfu sebuah peristiwa yang tidak terencana dalam situasi perang Asia Pasifik? Benarkan Jugun Ianfu sebuah profesi prostitusi yang menerima upah atas jasa layanan seksual kepada militer Jepang.

Praktek dari perintah “Bunuh orang Cina yang terlihat di depanmu!”, membuat prajurit Jepang mulai membunuhi orang-orang Cina tanpa membedakan kelompok dari sipil atau militer. Pembunuhan keji yang dilakukan tanpa strategi mengakibatkan banyak prajurit Jepang rusak mentalnya dan menjadi gila. Para prajurit Jepang itu bukan hanya melakukan pembunuhan masal, mereka juga mulai melakukan perkosaan secara brutal semua perempuan Cina yang terlihat di jalan-jalan

Akibatnya, sebagian besar personel militer Jepang mengalami penyakit kelamin akibat melakukan perkosaan brutal terhadap perempuan-perempuan Cina. Hal ini mengakibatkan kekuatan militer Jepang di Cina melemah. Situasi ini membuat khawatir para petinggi militer di Tokyo. Sehingga mengirim seorang dokter yang bernama Aso Tetsuo untuk menyelidiki penyebab melemahnya kekuatan militer di Cina.

Tak lama setelah penyelidikan berlangsung, Aso Tetsuo mengeluarkan rekomendasi untuk markas militer Jepang segera membangun fasilitas prostitusi khusus personel militer yang dikontrol langsung pihak militer. Peristiwa bersejarah ini tertuang dalam buku yang berjudul Karyubyo no Sekkyokuteki Yobaho (Positive Precautinary Measure of Sexual Disease) tahun 1939. Aso Tetsuo mengungkapkan peristiwa tersebut dalam tulisannya yang berjudul Shanghai kara Shanghai he (Shanghai to Shanghai).


Prototipe Ianjo Pertama di Dunia

Pembentukan Ianjo (rumah bordil militer Jepang) yang menyediakan jasa pelayanan seksual bagi tentara dan sipil Jepang dimulai sejak tahun 1932, setelah terjadi kekejaman luar biasa militer Jepang terhadap rakyat Cina di Shanghai. Hampir 1 dekade sebelum penggunaan istilah Jugun Ianfu meluas dan menjadi gejala umum di semua daerah yang dikuasai Jepang di Asia Pasifik hingga menjelang berakhirnya Perang Dunia ke II.

Penguasa Jepang terpaksa harus mempertimbangkan kedisiplinan dan moral militer. Rencana pusat hiburan yang pertama kali diperkenalkan tahun 1932 dibawah pengawasan militer Jepang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan tangan salah satu komandan kampanye Shanghai Letnan Jenderal Okamura Yasuji, yang mengakui dalam buku hariannya bahwa ia menjadi pembuat usulan pertama kali Ianjo untuk militer


Jugun Ianfu

Jugun Ianfu (Budak Seks) pertama adalah orang Korea dari pulau Kyushu Utara di Jepang atas permintaan salah seorang penguasa militer yang dikirimkan oleh Gubernur Prefektur Nagasaki. Dasar pemikiran dibalik pembentukan sistem formal Ianjo adalah pengembangan palayanan seksual. Oleh karena itu perlu diawasi dan dikontrol untuk mengurangi jumlah terjadinya pemerkosaan yang dilaporkan dari tempat-tempat yang menjadi basis militer Jepang.

Dalam proses perekrutan tersebut tidak hanya melibatkan militer tetapi juga Departemen Dalam Negeri yang membawahi para Gubernur dan polisi yang kemudian memainkan peranan dalam kerjasama dengan pihak militer untuk merekrut. Cabang khusus Shanghai menggunakan penghubung-penghubung di kalangan pedagang.

Untuk memperoleh perempuan sebanyak-banyaknya demi melayani kebutuhan seksual personil militer Jepang, pada akhir 1937 para perempuan yang dipaksa bekerja di Ianjo-Ianjo yang terletak diantara wilayah Shanghai dan Nanking dikelola langsung oleh militer Jepang. Ianjo ini menjadi model bagi Ianjo-Ianjo selanjutnya. Oleh karena pembangunan Ianjo terus mengalami perkembangan pengelolanya tidak selalu menjadi tanggung jawab militer. Sebagian pengelola adalah orang-orang sipil yang diberi pangkat paramiliter. Namun demikian pihak militer tetap bertanggung jawab terhadap transportasi dan pengawasan umum Ianjo-Ianjo tersebut termasuk aspek kesehatan.

Sementara perang terus berlangsung dan jumlah tentara Jepang yang berpangkalan di berbagai daerah Asia Pasifik terus mengalami peningkatan. Oleh sebab itu permintaan Jugun Ianfu untuk militer juga meningkat. Sehingga cara-cara baru untuk mempekerjakan perempuan-perempuan diciptakan. Hal ini menyangkut peningkatan penggunaan cara-cara penipuan dan kekerasan di banyak tempat di kawasan Asia Timur (khususnya Korea yang telah dikolonisasi Jepang tahun 1910).

3 Jenis rekruitmen dapat diidentifikasikan, antara lain para perempuan yang menyediakan diri mereka secara sukarela (pekerja seks komersial), Tipu daya kepada para perempuan dengan tawaran pekerjaan dengan upah tinggi di restoran sebagai tukang masak/tukang cuci dan penculikan disertai tindak kekerasan perempuan secara kejam di sejumlah negara di Asia Pasifik dibawah kekuasaan Jepang.

Dengan diperkuatnya Undang-undang Mobilisasi Umum Nasional oleh pemerintah Jepang yang dikeluarkan tahun 1932, namun belum sepenuhnya dilaksanakan sampai dengan tahun-tahun mendekati berakhirnya perang. Dengan mendesaknya kebutuhan perang atas sumber daya manusia baik perempuan dan laki-laki dipanggil untuk menyumbangkan tenaga bagi usaha perang. Sehubungan dengan hal ini maka Korps Pelayanan Sosial Perempuan didirikan sebagai dalih mengumpulkan perempuan untuk bekerja di pabrik atau melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan perang untuk membantu militer Jepang.

Lokasi Ianjo tampaknya mengikuti arah perang berlangsung. Ianjo-Ianjo dapat ditemukan dimanapun tentara Jepang berada. Ianjo-Ianjo dikenal juga melalui berbagai sumber di Cina, Taiwan, Indonesia, Filipina, Kepulauan Pasifik, Singapura, Malaysia, Myanmar dan Indonesia. Militer Jepang dengan sangat cermat dan secara detil menjalankan sistem prostitusi. Peraturan dalam pengoperasian Ianjo di berbagai wilayah taklukan militer Jepang di Asia Pasifik memiliki kesamaan sistem seperti harga yang ditetapkan untuk masuk ke Ianjo, pembelian tiket masuk ke Ianjo, jam berkunjung, kontrol kesehatan yang ketat terhadap para Jugun Ianfu agar terhindar penyakit menular seksual, pemberian kondom kepada setiap pengunjung yang masuk ke Ianjo, larangan menggunakan senjata dan penggunakaan alkohol di lingkungan Ianjo.

Meski telah diberlakukan kontrol kesehatan terhadap para militer Jepang yang menggunakan fasilitas Ianjo, namun banyak dari mereka menolak menggunakan kondom. Sehingga dampak buruk kesehatan seperti terkena penyakit kelamin atau terjadi kehamilan yang tidak diinginkan menimpa para Jugun Ianfu di berbagai lokasi Ianjo di seluruh kawasan Asia Pasifik. Beberapa temuan memorabilia sebagai bukti bahwa Ianjo dikelola dengan menajemen yang rapi oleh militer.

Meski di berbagai wilayah Asia Pasifik telah musnah bangunan Ianjo, namun di Shanghai masih ditemukan utuh bangunan Ianjo pertama di dunia yang dibangun dan dikelola dibawah kontrol militer Jepang. Ianjo pertama dibangun tahun 1932. Seorang ahli sejarahwan Cina Prof. Su Zhiliang melakukan penelitian selama 15 tahun mengenai lokasi Ianjo di Cina. Sekitar 149 Ianjo di temukan menyebar di 20 provensi di Cina. Di bawah ini merupakan temuan memorabilia sangat penting. Daiich Saloon berada di Shanghai. Hingga saat ini Daiich Saloon masih ada meski dibeberapa bagian bangunan telah berubah. Tetapi usaha pelestarian dan restorasi telah dimulai di Cina terhadap Ianjo-Ianjo yang di temukan Prof. Su Zhiliang.

Di sejumlah negara masih ditemukan bangunan Ianjo seperti di Filipina, Taiwan, Malaysia, Singapura dan Myanmar, Timor Leste. Dengan ditemukan berbagai bukti sejarah tersebut pendapat yang menyatakan bahwa praktek Jugun Ianfu Perang Asia Pasifik sebuah ketidaksengajaan dalam situasi perang dapat dihancurkan leburkan. Juga sama sekali tidak benar apa yang menimpa 400.000 perempuan (Korea Selatan, Korea utara, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, Timor Leste dan Belanda) yang diperkosa secara sistematis selama invasi militer Jepang di kawasan Asia Pasifik adalah sebuah kemauan sukarela.


Sumber : Makalah Forum Seminar "SATU ABAD KEBANGKITAN NASIONAL"

Teknik Menamakan Pesawat-pesawat Tempur Amerika dan Rusia

Penamaan Pesawat Militer AS
Pernah dengar pesawat F-16 Fighting Falcon, F/A-22 Raptor, F/A-18 Hornet, V-22 Osprey atau C-130 Hercules? Pesawat-pesawat tersebut tidak lain adalah pesawat militer Amerika Serikat.

F-22 "Raptor"

Pernahkah terpikir oleh anda apa arti dari “F/A”, “18″ dan “hornet” tersebut?  mari kita bahas.

Di lingkup militer AS, penamaan sebuah pesawat tidak berdasarkan dari nama pabrik atau produsen dari pesawat tersebut. Militer AS menamakan pesawat-pesawat mereka berdasarkan fungsi dan jenis dari pesawat yang mereka gunakan, misalnya pesawat tempur paling mutakhir F/A-22 Raptor, F = fighter / A = attack yang artinya merupakan pesawat tempur dan serang (fighter & attack); 22 = seri pesawat tempur dan “Raptor” merupakan nick atau julukan bagi pesawat tersebut, sedangkan produsennya sendiri adalah Lockheed Martin. Artinya pesawat ini berupa pesawat tempur & serang tipe 22 bernama Raptor.

Contoh lain misalnya C-17 Globemaster III, C = Carrier / cargo, 17 = seri pesawat kargo, Globemaster III = merupakan nick-nya, produsennya sendiri adalah Boeing. Artinya pesawat angkut (carrier/cargo) seri 17 bernama Globemaster III. Contoh tadi menunjukan bahwa huruf pertama merupakan jenis / fungsi pesawat, bagian kedua berupa angka yang menunjukan seri dari jenis tersebut dan selanjutnya diikuti nama / nick dari pesawat tersebut.

Ada juga penamaan yang lebih panjang dengan menyertakan jenis / fisik dari pesawat serta nama variannya, misalkan AH-64D Apache Longbow, A= attack, H = heliocopter, 64 = seri, D = indikator varian dan “apache longbow” merupakan nama julukannya. Ini artinya pesawat ini berbentuk helikopter berfungsi penyerang dan varian ke-”D” bernama Apache longbow. Contoh lainnya misalkan CV-22 osprey, merupakan pesawat angkut (”C”) dengan jenis pesawat yang dapat take off dan landing secara vertikal (”V”) seri 22 bernama osprey, untuk lebih jelasnya akan saya uraikan sebagai berikut:

Berdasarkan Fungsinya:
A : Attack = serang darat
B : Bomber = pengebom
C : Carrier/Cargo = pengangkut pasukan atau logistik
E : Electronics = pesawat pembawa perangkat elektronik seperti radar dan senjata elektronik
F : Fighter = tempur
K : kerosene = pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara
O : Observation = pengamat
P : Patrol = pesawat patroli maritim
R : Reconnaissance = pengintai/mata-mata
T : training = pesawat latih
U : utility = pesawat pelengkap operasi
V : VIP = pesawat khusus untuk orang penting, pejabat atau presiden.
X : Experiment / research = pesawat ujicoba (biasanya kerjasama dengan NASA)

Berdasarkan Bentuk Fisiknya (selain pesawat bersayap/konvensional):
G : Glider = pesawat terbang layang / tanpa mesin
H : Helicopter / rotor wings = helikopter atau pesawat sayap berputar
V : Vertical / short take off and landing = pesawat yang bisa mendarat secara vertikal
Z : Zeppelin = balon udara

Jadi apabila anda suatu saat menemukan pesawat bernama KC-767, itu artinya pesawat tersebut berjenis tanker sekaligus kargo, atau tahukah anda nama asli dari pesawat Air Force One? namanya VC-25 yang artinya pesawat angkut / transport VIP. Ada kalanya memang suatu pesawat berfungsi ganda sehingga mendapat penamaan dengan dua-tiga huruf di depan seperti RAH-66 (reconnaissance & attack helicopter-66) atau AC-130 (Attack cargo-130 = varian hercules untuk transport sekaligus penyerang).


Penamaan Pesawat Militer Rusia

Mikoyan Gurevich MiG-29

Berbeda dengan AS untuk pesawat tempur keluaran Rusia, penamaan pesawat berdasarkan inisial nama produsennya, seperti Sukhoi Su-27, Mikoyan Gurevich MiG-29 atau Antonov An-124. Lalu bagaimana membedakan jenis dari pesawat ini? dari Rusia-nya sendiri memang tidak menamakan / mengkategorikan secara resmi pesawat buatan mereka, namun pihak NATO biasanya memberi nickname untuk pesawat buatan rusia agar mudah dibedakan berdasarkan jenisnya. 

Untuk pesawat tempur nickname selalu diawali dengan huruf F (maksudnya fighter), misalkan:
  • Sukhoi Su-17 "Fitter"
  • Sukhoi su-24 "Fencer"
  • Sukhoi Su-25 "Frogfoot"
  • Sukhoi Su-27 "Flanker"
  • Mikoyan Gurevich MiG-21 "Fishbed"
  • Mikoyan Gurevich MiG-25 "Foxbat"
  • Mikoyan Gurevich MiG-29 "Fulcrum"
  • Mikoyan Gurevich MiG-31 "Foxhound" dan lain-lain.

Sedangkan untuk pesawat angkut / transport (carrier/cargo), nickname selalu diawali dengan huruf C, misalnya:
  • Antonov An-2 Colt
  • Antonov An-22 Cock
  • Antonov An-124 Condor
  • Ilyushin Il-76 Candid dan lain-lain.

Untuk pesawat pengebom (bomber), nickname diawali dengan huruf B :
  • Tupolev Tu-160 Blackjack
  • Tupolev Tu-95 Bear
  • Tupolev-22 Backfire
  • Ilyushin Il-28 Beagle dan lain-lain.

Untuk helikopter, nickname menggunakan awalan H, misalnya:
  • Mil Mi-5 Hook
  • Mil Mi-28 Havoc
  • Kamov Ka-29 Helix
  • Kamov Ka-50 Hokum dan lain-lain.

Memang jika diperhatikan ada beberapa nickname yang terdengar lucu dan agak “maksa”, karena memang bukan diberi nama oleh produsen atau negara asalnya, melainkan oleh NATO yang jelas-jelas merupakan pihak barat (rival Rusia dan negara-negara timur).


Sumber : Unik

Minggu, 24 April 2011

Operasi Alpha "Ketika TNI-AU Melakukan Pembelian 32 Pesawat A4 Skyhawk Dari Israel"

“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah kususun rapi langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan. Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute. Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”

Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam operasi alpha, operasi alpha adalah operasi klandestin terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel. Berikut adalah kutipan tentang operasi alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.


Operasi Alpha

 

Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 dan T-33 memang sudah tua. Sehingga, kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.

Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita, bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik. Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin, oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.


Menuju Arizona
Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat F-5 E/F Tiger II serta Operasi alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.

Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi. Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.

Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana. Informasi lain-lain masih sangat kabur.

Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan flight garuda dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila. Dihotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan. Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukan ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.

Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelojen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam. Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan, ” Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil apabila sang merpati telah hinggap…”

Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar. Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond. Bahkan sekalanya lebih besar. Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang? Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.

Setelah acara makan malam, kami harus segera bergegas menuju Bandara Paya lebar dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa. Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.

Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Semakin aneh perjalanan, baru berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan ke Tel Aviv pada penerbangan berikutnya. Sampai di Bandara Ben Gurion, sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, mengikuti arus penumpang lain menuju pintu keluar.

Tetapi tanpa terduga, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, sebagai bagian dari operasi intelijen. Kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara. hanya pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manu dengan hati berdebar.

Tamat riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasi Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor, berusaha menyelundup masuk ke negaranya.Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, tetap saja kami berpikir buruk. Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa memberi perintah datang ke Israel. Sampai diruang bawah tanah, persaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja diskenariokan untuk ditangkap dan justru bisa lewat jalur khusus, guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.

Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia. Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, Ani tayas mis Singapore yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan boken tof berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.


Eliat, pangkalan udara rahasia
Semalam tidur dihotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat. Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat. Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah. Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine di hari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan Arizona, oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.

Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur israel. Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.

Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail. Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.

Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air. sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista. Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku.

Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago didunia. Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijasah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung. kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita dan segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala, semua pelajaran yang pernah diperoleh.


Wing day di Amerika
Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara. Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia, untuk menguatkan alibi bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.

Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal.

Di Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya. Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, skaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC.

Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.


Sang Merpati Hinggap
Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi, Madiun, mengangkut F-5 E/F Tiger II, paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok. Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan satu paket proyek kiriman pesawat terbang namun diangkut dengan media transportasi berbeda.

Nantinya, ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya. Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”

Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.


Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri
Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.

A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan sampai perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut. Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lag tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.

Mencari detail tentang operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main. Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga merupakan cetakan untuk kalangan terbatas. Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya benny Moerdani ga dibahas sama sekali. Terimakasih juga untuk Metro tv yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang operasi alpha dalam acara special operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).

Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:
“Saat buku “My Home My Base” diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin Kasau dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya punt idak lagi berkomentar. Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak unung dan ruginya. Namun sebelumnya. tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara. Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 digrounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi.

Sumber : Poerwoko, Djoko F. Menari di Angkasa. Kata hasta pustaka. Jakarta. 2007

Asal Mula Kata "Tank" (Kendaraan Tempur Berantai)

Pada Masa Perang Dunia ke I, 1914-1918, banyak sekali melahirkan peralatan perang, dari sisi angkatan darat, tank adalah salah satu bentuk senjata unggulan yang lahir pada masa itu dan banyak sekali meninggalkan catatan sejarah, sosoknya tidak pernah absen diberbagai medan perang sehingga daya gempurnya semakin ditingkatkan hingga sekarang.

Awal dari kemunculan tank adalah masalah di medan pertempuran yang kerap bikin frustasi pasukan darat. Alam yang terjal, medan penuh ranjau dan jebakan, serta tembakan musuh yang datang tidak terduga, tanpa perlindungan yang baik terkadang para komandan harus merelakan pasukannya gugur sia-sia.

 (Tank Pertama - tank Inggris MK1)

Di tengah kebuntuan itulah muncul pemikiran untuk membuat suatu kendaraan anti peluru yang mampu melaju lincah di segala medan. Kisah Monster Baja ini Berawal dari Inggris, sebagai barang baru tentu belum sedahsyat Tank saat ini. Namun di tengah kesangarannya ada cerita lucu disaat peluncurannya yang dijaga ketat. Takut akan kerahasiaannya terbongkar, Tank-tank ini dikirim ke medan perang dalam peti kemas yang berlabel water tank (Tangki Air), oleh intelejen sekutu, Selain itu juga disebutkan bahwa kendaraan ini hanyalah kendaraan pengangkut air bersih (tangki air) kegaris depan, Dari situ kemudian orang latah menjuluki mesin perang ini dengan nama TANK.

Karena Inggris tak punya waktu untuk manamakan mesin perang baru ini, para prajurit menamakannya sesuai dengan labelnya Tank, lalu langsung dicoba di medan pertempuran..Dalam sekejap saja mesin perang ini di ketahui kehebatannya dan langsung diadopsi di setiap negara yang berperang pada waktu itu.

yang ini Lawannya , A7V Sturmpanzerwagen Jerman

Dan sejarah mencatat kehadiran tank segera mengubur taktik pertempuran parit dalam kemiliteran, menjadi taktik mobile, seperti yang dipraktekkan oleh Jerman (Blitzkrieg-perang kilat) dalam PD ke II.

Foto-foto Tentara Soviet di Perang Dunia 2

Banyak sisi-sisi perang dunia ke-2 yg masih belum terungkap. Selama ini, Hitler, Mussolini, De Gaulle dan Winston Churchill saja yg menjadi pusat perhatian di Eropa. Padahal kalau kita bicara mengenai perang dunia ke-2, hampir seluruh dunia terlibat di dalam peperangan yg berskala paling mengerikan ini. Masih ada sisi-sisi lain selain Inggris, Jerman, Italia menjadi pusat perhatian yaitu Soviet (USSR) yang sekarang sudah pecah menjadi Rusia dan beberapa negara independen lainnya. Tentara Soviet justru merupakan ujung tombak yg berhasil menyerbu pusat pertahanan Hitler dan sedikit dilupakan.

Hal lain dari Perang Dunia ke-2 ialah foto-foto black and whitenya saja yg ditampilkan / dipublikasikan, mungkin di Museum, di Internet dan juga dari koran-koran lawas. Nah, foto-foto edisi berwarna dari Tentara Soviet ini mungkin bisa menyegarkan kita mengenai sepak terjang negara beruang merah ini, ada sisi keramahtamahan, kasih sayang, solidaritas dan lain-lainnya.







Sumber : Osserem

Kamis, 14 April 2011

Sejarah U.S. Army Rangers


Rangers adalah salah satu unit pasukan khusus Angkatan Darat AS. Pasukan yang memiliki nama resmi 75th Ranger Regiment ini pada dasarnya adalah unit pasukan infantri ringan (light infantry) yang dirancang sebagai light-infantry shock troops. Misi utama Rangers adalah menguasai dan mengamankan pangkalan udara di daerah musuh yang akan digunakan sebagai pangkalan aju serta membuka jalan bagi pasukan yang lebih berat. Walaupun demikian, Rangers juga memiliki kemampuan untuk beroperasi di garis belakang musuh, melakukan pengintaian, melakukan penyergapan terhadap pasukan musuh, dan melumpuhkan sasaran-sasaran tertentu. Namun sebagai light infantry, Rangers dirancang hanya untuk melakukan tugas-tugas tersebut dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Hal ini berbeda dengan pasukan khusus Angkatan Darat AS lainnya yaitu United States Army Special Forces atau yang lebih dikenal sebagai Green Berrets. Green Berrets memang dirancang untuk melakukan aksi di garis belakang musuh dalam waktu lama, termasuk merekrut dan melatih gerilyawan.

Sebagai salah satu unit pasukan khusus AS, Rangers memiliki catatan sejarah panjang yang bahkan melebihi usia negara AS sendiri. Cikal bakal pasukan ini berawal dari abad ke-17, saat wilayah negara AS masih menjadi koloni Inggris. Mengingat sejarah Rangers yang cukup panjang, maka melalui thread ini akan mencoba untuk menceritakan sejarah Rangers sejak abad ke-17 sampai era modern sekarang ini.


Rangers Era Kolonial Inggris dan Perang Kemerdekaan AS

Pada abad ke-17 wilayah Amerika Utara masih menjadi wilayah koloni Inggris dan banyak keluarga bangsawan Inggris yang menjadi tuan tanah di wilayah tersebut. Untuk menjaga wilayah perkebunan mereka maka para tuan tanah tersebut memanfaatkan jasa pasukan berkuda yang disebut ranger. Pada masa ini bisa dikatakan ranger adalah semacam kelompok petugas keamanan bayaran atau pasukan pribadi dari para tuan tanah tersebut.
Semasa menjadi koloni Inggris, makin banyak warga Eropa yang kemudian menjadi pendatang di Amerika Utara. Dengan semakin banyaknya pemukiman para pendatang dari Eropa tersebut maka secara tidak langsung juga ikut menggusur wilayah-wilayah Indian yang merupakan penduduk asli di Amerika Utara. Hal ini kemudian memicu perlawanan dari suku-suku Indian yang sering melakukan serangan secara gerilya terhadap pemukiman-pemukiman tersebut. Serangan-serangan tersebut akhirnya memuncak pada pembantaian di Jamestown pada tahun 1622.


Suku Indian Powhatan menyerang kota Jamestown di Virginia dan membantai 347 orang penduduk di kota tersebut, termasuk wanita dan anak-anak. Sebagai balas dendam atas serangan tersebut, pasukan Inggris dan milisi dari warga koloni yang selamat lalu menyerang pemukiman Indian dan membunuh lebih dari 250 orang. Serangan langsung ke dalam jauh wilayah Indian tersebut menjadi awal dari lahirnya pasukan Ranger di Amerika Utara.

Untuk menghindari terulangnya peristiwa serupa, maka pasukan Inggris kemudian membangun sejumlah pos militer dan untuk mengamankan wilayah yang tidak terlindungi oleh pos milter tersebut maka Inggris kemudian membentuk pasukan berjalan (running army). Pasukan ini bertugas berpatroli di wilayah yang tidak terlindungi pos militer dan melakukan pre-emptive strike terhadap suku-suku Indian. Pasukan inilah yang kemudian disebut Ranger dan banyak melakukan serangan jauh di dalam wilayah Indian. Konsep beroperasi jauh di dalam wilayah musuh inilah yang kemudian diulang kembali dalam era modern dengan pembentukan LRRP (Long Range Reconnaissance Patrol) dalam Perang Vietnam.

Memasuki pertengahan abad ke-17, pasukan Inggris semakin sering terlibat perang dengan suku-suku India. Salah satunya adalah perang yang dikenal sebagai King Philip`s War tahun 1675-1676 antara suku Indian dengan pasukan koloni Inggris di New England. Perang ini terjadi antara suku Indian Wampanoag, Nipmuck,Podunk, Narragansettm dan Nashaway dengan pasukan koloni Inggris yang dibantu suku Indian Mohegan dan Pequot. Pada perang tersebut muncul pasukan Ranger yang dipimpin oleh Kolonel Benjamin Church.


Dalam perang tersebut Church mempraktekkan dasar-dasar operasi militer yang sekarang dipergunakan oleh pasukan khusus AS. Ia memimpin pasukannya jauh ke dalam wilayah Indian, melakukan penyergapan dan penyerangan terhadap perkampungan Indian. Selain itu ia juga berhasil melakukan pendekatan terhadap beberapa suku Indian yang akhirnya menjadi sekutu pasukan koloni dalam perang tersebut. Pasukan koloni berhasil memenangkan perang tersebut, walaupun kemudian Church tewas dalam pertempuran.

Namun pasukan yang menjadi cikal bakal Rangers era modern adalah pasukan Roger`s Rangers yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Robert Rogers dalam French Indian War tahun 1754-1763. Pada perang tersebut pasukan Inggris berhadapan dengan pasukan Perancis yang dibantu oleh suku Indian Abenaki yang terkenal kejam. Rogers memimpin 200 orang Rangers menyerang Saint Francis di dekat Montreal yang merupakan pemukiman Indian Abenaki. Untuk melakukan serangan tersebut, pasukan Rogers harus menempuh perjalanan sejauh 480 km memasuki wilayah Kanada. Dalam serangan tersebut 200 orang suku Abenaki tewas dan pasukan Rogers kemudian berhasil kembali ke wilayah koloni Inggris, walaupun harus kehilangan 93 orang. Setelah serangan tersebut, maka serangan suku Abenaki ke wilayah pemukiman Inggris berkurang secara drastis.


Konsep pasukan Rangers yang digunakan oleh Robert Rogers akhirnya dipraktekkan baik oleh pasukan Inggris maupun pasukan AS dalam Perang Kemerdekaan AS tahun 1775-1783. Walaupun Robert Rogers sendiri mendukung Inggris dan pasukannya ikut bertempur melawan pasukan AS (yang pada saat tersebut disebut sebagai Continental Army), namun hal itu tidak berhasil membuat Inggris menang dalam perang tersebut. Sebaliknya, pasukan Rangers yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Daniel Morgan menjadi andalan Continental Army dan berhasil mengalahkan pasukan Inggris pada sejumlah pertempuran, termasuk dalam Battle of Fremans`s Farm tahun 1777 dan Battle of Cowpens tahun 1781.


Selain Rangers pimpinan Daniel Morgan, Continental Army juga memiliki pasukan Rangers pimpinan Kolonel Thomas Knowlton yang dikenal sebagai Knowlton`s Rangers. Knowlton`s Rangers dibentuk atas perintah langsung George Washington dan bisa dikatakan merupakan unit Rangers pertama yang dibentuk secara resmi oleh militer AS. Pasukan Knowlton ikut bertempur dalam Battle of Bunker Hill tahun 1775, salah satu pertempuran pertama antara pasukan Inggris dengan milisi yang berakhir dengan kekakalahan Inggris. Knowlton sendiri kemudian tewas dalam Battle of Harlem Nights pada tahun 1776.



Rangers pada abad ke-19 dan Perang Saudara AS

Berakhirnya perang kemerdekaan AS bukan berarti berakhirnya perang di wilayah Amerika Utara. Pada tahun 1807 Inggris melakukan blokade laut untuk mencegah perdagangan antara AS dengan Peranis karena pada saat tersebut Inggris sedang terlibat perang dengan Perancis. Blokade tersebut akhirnya menyulut perang pada tahun 1812 yang melibatkan Inggris, Kanada, AS, serta sejumlah suku Indian yang membantu kedua belah pihak. Dalam perang tersebut AS membentuk tidak kurang dari tujuh belas kompi pasukan Rangers. Perang kemudian berakhir dengan perjanjian damai pada tahun 1815, seiring dengan kekalahan Perancis di Eropa dalam pertempuran di Waterloo. Perang ini bisa dikatakan merupakan akhir dari perang antara AS dengan Inggris.

Abad ke-19 juga menandai semakin luasnya wilayah negara AS dengan dikuasainya daerah seperti Texas dan sejumlah daerah lainnya. Namun bertambahnya wilayah tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan pasukan AS untuk mengamankan wilayah-wilayah tersebut karena kekurangan personel dan perlengkapan. Sebagai akibatnya maka banyak negara bagian seperti Texas yang membentuk pasukan sendiri untuk mengamankan wilayah mereka. Texas misalnya membentuk pasukan yang dikenal sebagai Texas Rangers dan bertugas mengamankan wilayah perbatasan dengan Meksiko. Texas Rangers sendiri kemudian ikut bertempur dalam perang AS dengan Meksiko tahun 1846-1848 dengan pola operasi sama seperti pasukan Rangers pada abad ke-17 yaitu pre emptive strike jauh ke wilayah musuh.


Perang Saudara Amerika pada tahun 1861-1865 menandai penggunaan unit-unit pasukan Rangers di pihak Konfederasi maupun Union. Salah satu unit Rangers yang terkenal dalam Perang Saudara AS adalah 43rd Battalion Virginia Cavalry yang dipimpin oleh Kolonel John S. Mosby. Pasukan ini dikenal sebagai Mosby`s Rangers dan dikenal karena keberaniannya untuk beraksi di garis belakang pasukan Union sehingga unit gerilya kavaleri ini dijuluki sebagai “Grey`s Ghost”. Mosby`s Rangers banyak melakukan serangan terhadap konvoi perbekalan pasukan Union dalam dalam salah satu serangan ke Fairfax pada tahun 1863 berhasil mempermalukan pasukan Union dengan menculik salah satu perwira tinggi pasukan Union, Brigadir Jenderal Edwin H. Stoughton.



Tidak mau kalah dengan pihak Konfederasi, pihak Union juga memiliki pasukan Rangers yang dipimpin oleh Kapten Samuel C. Means. Pasukan pimpinan Means ini terdiri dari para sukarelawan dan dikenal sebagai Loudoun`s Rangers atau Mean`s Rangers. Mean`s Rangers terkenal karena berhasil merebut kereta pengangkut amunisi milik pasukan Konfederasi pimpinan Jenderal James Longstreet.

Setelah perang saudara berakhir, semakin banyak warga imigran, terutama dari Eropa, yang datang untuk mengadu nasib. Namun semakin banyaknya warga kulit putih ini juga berarti kembali memicu ketegangan dengan warga Indian yang merupakan penduduk asli Amerika Utara. Hal ini kemudian memicu berkobarnya kembali perang dengan warga Indian yang baru benar-benar berakhir pada tahun 1918. Dalam perang tersebut AS banyak menggunakan unit-unit pasukan kecil yang beroperasi di wilayah pedalaman AS dan melakukan serangan “hit and run” terhadap pemukiman-pemukiman Indian.

Walaupun Indian Wars baru benar-benar berakhir pada tahun 1918, namun sejak tahun 1880 sebetulnya sudah banyak tidak terjadi pertempuran karena pemerintah AS mengeluarkan kebijakan relokasi bagi suku-suku Indian. Banyak suku Indian yang menerima tawaran tersebut dan mengadakan perjanjian damai dengan pemerintah AS, walaupun beberapa suku lainnya tetap melawan dan melanjutkan pertempuran dengan tentara AS. Karena keadaan yang dirasakan sudah semakin damai maka sejak tahun 1880 unit-unit pasukan Rangers dibubarkan dan kesatuan seperti Texas Rangers akhirnya diubah menjadi unit penegak hukum yang mempunyai kewenangan sebagai polisi negara bagian. Sejak saat itu Rangers pun tidak ada dalam kekuatan militer AS selama lebih dari 60 tahun dan Rangers pun baru diaktifkan kembali dalam Perang Dunia II.


Perang Dunia II : Lahirnya Kembali U.S. Rangers

Pada saat Perang Dunia II pecah, sejumlah negara yang terlibat dalam perang tersebut banyak yang kemudian membentuk unit-unit pasukan khusus seperti Inggris yang kemudian membentuk pasukan khusus Commando. Brigadir Jenderal Dudley Clarke dari Angkatan Darat Inggris (yang juga merupakan pendiri pasukan Commando tersebut) kemudian memberikan saran kepada Kolonel Wiiliam Joseph Donovan dari Angkatan Darat AS agar Angkatan Darat AS juga membentuk pasukan seperti Commando. Donovan kemudian melaporkan hal tersebut kepada Jenderal Geoerge Marshall selaku Kepala Staf Angkatan Darat AS. Setelah mempertimbangkan hal tersebut dan juga melihat keberhasilan unit-unit pasukan khusus Jerman dan Inggris, akhirnya Marshall memerintahkan Kolonel Lucian K. Truscott Jr untuk berangkat ke Inggris dan memantau pasukan Commando. Kolonel William Donovan sendiri pada Perang Dunia II akhirnya menjadi Mayor Jenderal dan menjabat sebagai pimpinan OSS (Office of Strategic Services) yang merupakan cikal bakal CIA.

Kolonel Truscott kemudian melaporkan kepada Jenderal Marshall bahwa Angkatan Darat AS memang juga harus mempunyai pasukan khusus seperti Commando, namun pemberian nama Commando dirasakan terlalu Inggris sehingga akhirnya pasukan tersebut diberi nama Rangers mengingat nama Rangers memiliki sejarah tersendiri dalam militer AS. Mayor William Darby pun kemudian diberi tugas untuk membentuk pasukan tersebut dan Rangers pun kembali lahir dengan dibentuknya 1st Ranger Battalion pada bulan Mei 1942.




Batalyon Ranger ini terdiri dari para sukarelawan yang diambil dari personel 1st Armored Division dan 34th Infantry Division. Pasukan ini kemudian menjalani latihan keras dengan bantuan para pelatih dari pasukan Commando Inggris. 




Pada bulan Agustus 1942 Rangers menjalani operasi tempur pertama mereka ketika ikut dilibatkan dalam Dieppe Raid pada tanggal 19 Agustus 1942. Sebanyak lima puluh orang personel 1st Ranger Battalion dilibatkan dalam pendaratan amfibi yang kacau balau tersebut. Tiga orang Ranger tewas dan tujuh orang menjadi tawanan perang dalam serangan tersebut. Dalam serangan tersebut Kopral Franklin “Zip” Koons menjadi personel militer AS pertama yang menembak mati tentara Jerman dalam Perang Dunia II.



Dalam operasi militer di Tunisia, Ranger melakukan serangan hit and run jauh ke posisi pasukan Italia di kota Sened di Tunisia yang bejarak sekitar 50 km dari perbatasan Aljazair dengan Tunisia. Serangan tersebut dilakukan pada malam hari tanggal 12 Februari 1943 dan sangat mengejutkan pasukan Italia dari 10th Bersaglieri Regiment yang berada di Sened. Dalam serangan tersebut seorang Ranger tewas dan 18 orang lainnya luka-luka, namun pasukan Italia harus kehilangan 50 orang tewas dan sepuluh orang lainnya menjadi tawanan perang. Kesuksesan serangan ini mengakibatkan pasukan Italia kemudian menjuluki Ranger sebagai “Black Death”.


Pasukan Sekutu sebetulnya sudah merencanakan sejumlah serangan hit and run yang akan dilakukan oleh Ranger, namun rencana tersebut batal karena pasukan Jerman melancarkan serangan besar-besaran terhadap pasukan Sekutu. Pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dengan pasukan Jerman pun pecah di beberapa tempat, termasuk pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Battle of Kasserine Pass. Ranger kemudian diperintahkan untuk mengamankan Dernaia Pass dan bertahan dari serangan artileri Jerman. Walaupun dengan korban yang tidak sedikit, namun akhirnya pasukan Sekutu berhasil menghentikan serangan Jerman pada bulan Maret 1943.


Gagalnya serangan Jerman tersebut bisa dikatakan menjadi akhir dari Afrika Korps karena setelah itu pasukan Sekutu melancarkan serangan balik terhadap pasukan Jerman yang sudah compang-camping tersebut. Ranger ikut terlibat dalam sejumlah serangan tersebut, termasuk dalam perebutan dataran tinggi di daerah Djebel el Ank di mana Ranger berhasil menawan tidak kurang dari 200 orang tentara Jerman. Setelah Djebel el Ank, Ranger juga berhasil menguasai Djebel Berda yang terletak 8 km dari Djebel el Ank. Di Djebel Berda pasukan Ranger sempat terkepung selama tiga hari oleh pasukan Jerman sebelum akhirnya kepungan tersebut berhasil ditembus oleh pasukan AS dari 9th Infantry Division.


Pasukan Jerman di Afrika Utara akhirnya menyerah pada bulan Mei 1943 dan pertempuran di Afrika Utara berakhir dengan kemenangan Sekutu. Pasukan Ranger kemudian ditarik garis belakang untuk beristirahat dan menjalani latihan sebagai persiapan pendaratan pasukan Sekutu di Italia. Pada saat tersebut Darby diberitahu bahwa ia harus mebentuk dua batalyon Ranger tambahan untuk pendaratan di Italia. Darby menginginkan agar setiap batalyon Ranger memiliki personel yang berpengalaman selain ditambah dengan para anggota baru. 1st Ranger Battalion pun kemudian dipecah menjadi enam kompi : kompi A dan B digunakan sebagai dasar pembentukan 3rd Ranger Battalion, sedangkan kompi E dan F digunakan sebagai dasar pembentukan 4th Ranger Battalion. Sementara kompu C dan D digunakan untuk membangun kembali 1st Ranger Battalion.

Selain tiga batalyon Ranger di Afrika Utara, Angkatan Darat AS juga memerintahkan pembentukan dua batalyon Ranger lainnya yaitu 2nd Ranger Battalion dan 5th Ranger Battalion. Sejumlah personel Ranger pun akhirnya ditarik dari Afrika Utara dan ditugaskan sebagai pelatih bagi dua batalyon Ranger yang baru dibentuk tersebut.


Pendaratan di Sicilia

Pada tanggal 10 Juli 1943 pasukan Sekutu mendarat di Sicilia sebagai langkah awal untuk kemudian menyerbu wilayah daratan Italia. Dalam operasi pendaratan di Sicilia ini 1st Ranger dan 4th Ranger mendapat tugas untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dan Italia di kota pelabuhan Gela dan mengamankan pendaratan pasukan dari 1st Infantry Division. Mendarat pada dini hari dan di tengah cuaca buruk, dua batalyon Ranger ini berhasil melumpuhkan pertahanan pantai di Gela dan selanjutnya membuat garis pertahanan di sekeliling kota untuk mengantisipasi serangan balik pasukan Jerman dan Italia. Sepanjang hari itu Ranger terlibat pertempuran sengit dan dengan bantuan tembakan artileri serta meriam Angkatan Laut AS berhasil mematahkan tiga kali serangan pasukan Jerman dan Italia. Setelah berhasil mengamankan Gela, pasukan Ranger terus bergerak dan kemudian berhasil merebut San Nicola dan Monte Delta Lapa, sebelum kemudian terus bergerak untuk merebut Butera.


Sementara 1st Ranger dan 4th Ranger membantu 1st Infantry Division, 3rd Ranger juga dilibatkan dalam pendaratan di Sicilia ini. Batalyon Ranger ini didaratkan di Licata dan membuka jalan bagi pendaratan 3rd Infantry Division. Selain mengamankan Licata, 3rd Ranger juga berhasil mengamankan beberapa kota lainnya seperti Campobello, Naro, Favara, Agrigento, wilayah pegunungan Montaperto, dan kota pelabuhan Monntaperto. Setelah menguasai Montaperto, 3rd Ranger kemudian bergabung dengan dua batalyon Ranger lainnya dan bersiap untuk melancarkan serangan lebih lanjut.

Pasukan gabungan Ranger ini kemudian berhasil menduduki Palermo yang merupakan ibu kota Sicilia dan selanjutnya terus melancarkan serangan ke kota pelabuhan Messina. Pertempuran di Sicilia berakhir setelah pasukan Jerman yang tersisa dievakuasi melalui laut menuju daratan Italia dan Messina jatuh ke tangan pasukan Sekutu. Ketiga batalyon Ranger ini kemudian ditarik kembali ke Palermo untuk beristirahat dan bersiap untuk didaratkan di wilayah daratan Italia.


Operation Alavanche : Pendaratan di Italia

Pada tanggal 3 September 1943 pasukan Inggris dari 8th Army melancarkan Operation Baytown, melakukan pendaratan amfibi di Reggio di Calabria. Enam hari kemudian pasukan Sekutu melancarkan dua operasi sekaligus yang merupakan pendaratan pasukan Sekutu di Italia : Operation Slapstick yang dilakukan oleh pasukan Inggris dari 1st Airborne Division di pelabuhan Taranto dan Operation Alavanche yang merupakan pendaratan pasukan AS dari 5th Army di Teluk Salermo. Dalam operasi militer ini tugas dari pasukan Ranger adalah menduduki daerah pegunungan Lattari. Pegunungan Lattari mempunyai posisi yang strategis karena dari daerah tersebut dapat mengawasi secara langsung Pimonte Pass, Chiunzi Pass, dan Almafi Drive yang merupakan tiga jalur transportasi utama dari kota Naples. Dalam tugasnya kali ini pasukan Ranger dibantu oleh 509th Parachute Infantry Battalion.

Pasukan Ranger mendarat di pantai Salerno pada pukul 03.20 dini hari dan tiga jam kemudian sudah berhasil melumpuhkan pertahanan Jerman dan menguasi pegunungan Lattari. Namun pasukan Jerman kemudian melancarkan serangan balik besar-besaran untuk menguasai kembali pegunungan Lattari dan sekaligus menggagalkan pendaratan pasukan Sekutu di Salerno. Serangan balik pasukan Jerman tersebut sangat gencar sehingga 4th Ranger Battalion terpaksa mundur ke Vico Equensa, namu 1st Ranger dan 3rd Ranger tetap bertahan walaupun bisa dikatakan posisi mereka akhirnya terkepung oleh pasukan Jerman.


Pada awalnya Ranger diberitahu bahwa mereka hanya perlu mempertahankan daerah pegunungan tersebut selama empat hari sebelum kemudian akan digantikan oleh pasukan lain. Pada kenyataannya pasukan AS kesulitan bergerak setelah mendarat di Salerno karena perlawanan Jerman ternyata sulit dipatahkan dan pasukan Sekutu tidak menyangka bahwa Jerman akan mampu melancarkan serangan balik yang sangat cepat dan hebat. Sebagai akibantnya pasukan Ranger terkepung selama lebih dari tiga minggu di pegunungan Lattari dan pengiriman logistik ke posisi mereka hanya dapat dilakukan lewat udara. Walaupun demikian, pasukan Ranger tetap bertahan dan berhasil mematahkan sejumlah serangan pasukan Jerman. Dengan berada di pegunungan , posisi mereka sangat strategis dan berhasil mengarahkan sejumlah serangan artileri ke posisi-posisi pasukan Jerman. Perlawanan Jerman akhirnya dapat dipatahkan dan pertempuran di Salerno berakhir pada Oktober 1943 dengan dikuasainya kota Naples oleh pasukan Sekutu.


Pertempuran Musim Dingin 1943

Setelah pertempuran Salerno, pasukan Ranger ditarik ke San Lazzaro untuk beristirahat sebelum akhirnya diperintahkan untuk kembali bergerak untuk menyerang pertahanan Jerman yang dikenal sebagai Gustav Line. Pasukan Ranger terlibat pertempuran di Venafro dan kemudian berhasil menguasai Monte Corno dan Monte San Croce. Selanjutnya Ranger terlibat pertempuran dengan pasukan Jerman di sekitar Concasalle dan selanjutnya melancarkan serangan untuk merebut Monte Rotondo dan San Pietro. Pada pertengahan Desember 1943 Ranger akhirnya ditarik ke Naples untuk beristirahat dan memperoleh tenaga pengganti. Selama pertempuran di musin dingin 1943 ini lebih dari 40% anggota Ranger menjadi korban, baik dalam pertempuran ataupun karena cuaca musim dingin yang keras


Battle of Cisterna : Kehancuran Rangers

Pada tanggal 22 Januari 1944 pasukan Sekutu melancarkan Operation Shingle, pendaratan amfibi pasukan AS dan Inggris di Anzio dan Nettuno. Operation Shingle dipimpin oleh Mayor Jenderal John Lucas dari AS.


Pada awalnya pendaratan berjalan dengan lancar dan bisa dikatakan tanpa perlawanan yang berarti. Namun Mayjen Lucas tidak segera memenrintahkan pasukannya untuk segera bergerak meninggalkan pantai karena ia tidak yakin akan kekuatan pasukannya. Sebagai akibatnya, gerak maju pasukan Sekutu kehilangan momentum dan Jerman memperoleh waktu untuk memperkuat pasukan mereka. Para pimpinan militer AS pun menjadi tidak sabar dan segera mendesak Mayjen Lucas untuk segera bergerak. Pasukan Sekutu akhirnya bergerak meninggalkan pantai pada tanggal 30 Januari 1944.

Pasukan Ranger kemudian diperintahkan bergerak ke Cisterna, membuka jalan bagi 3rd Infantry Division. 1st Ranger Battalion dan 3rd Ranger Battalion melaksanakn tugas tersebut dengan dibantu oleh satu peleton pasukan dari 3rd Reconnaissance Troop. Serangan untuk menduduki Cisterna kemudian dilakukan pada malam hari tanggal 30 Januari 1945.

Pada saat perencanaan misi, Ranger diberitahu bahwa mereka hanya akan menghadapi pertahanan Jerman yang terdiri dari para pasukan infantri. Namun akibat jeda waktu yang terlalu lama antara pendaratan di Anzio dengan pelaksanaan serangan ke Cisterna, pasukan Jerman memperoleh waktu untuk memperkuat pertahanan mereka. Sebagai akibatnya, dua batalyon Ranger di Cisterna akhirnya terkepung dan harus menghadapi pasukan Jerman yang terdiri dari 26th Panzergrenadier, 715th Infantry Division, serta sejumlah tank dari Herman Goering Division. Akhirnya pecah pertempuran sengit yang dikenal sebagai Battle of Cisterna.


Ranger bertempur dengan sangat berani dalam Battle of Cisterna, namun mereka menghadapi musuh yang sangat tidak seimbang. Sementara pasukan AS dari 4th Ranger Battalion dan 3rd Infantry Division juga berusaha menembus kepungan pasukan Jerman untuk menyelamatkan pasukan Ranger yang terkepung, namun mereka gagal menembus kepungan tersebut. Ketika pertempuran berakhir, hanya enam orang dari 1st Ranger dan 3rd Ranger yang berhasil meloloskan diri dari Cisterna. Sementara sekitar 400 orang lainnya ditawan oleh pasukan Jerman dan sisanya tewas di medan perang.

Battle of Cisterna bisa dikatakan menghapuskan 1st Ranger dan 3rd Ranger dari struktur kekuatan militer AS. Hanya sekitar 150 orang dari kedua batalyon tersebut yang tersisa, kebanyakan adalah para anggota unit-unit bantuan yang tidak ikut dikirim ke Cisterna. 1st Ranger Battalion dan 3rd Ranger Battalion akhirnya dibubarkan pada tangal 15 Agustus 1944. Para personel yang tersisa kemudian dikirim pulang ke AS, beberapa di antaranya kemudian ditugaskan menjadi instruktur pusat pelatihan tempur infantri dan sisanya ditugaskan ke 1st Regiment dari US-Canadian 1st Special Service Force. William Darby (yang sudah dipromosikan menjadi Kolonel) kemudian ditugaskan memimpin 179th Infantry Regiment di 45th Infantry Division, sementara Mayor Jenderal John Lucas dicopot dari jabatannya dan dipulangkan ke AS untuk memimpihn 4th Army di Texas.


4th Ranger Battalion sendiri tetap berada di Italia sebelum akhirnya juga dibubarkan pada tanggal 26 Oktober 1944. Para persenol dari batalyon ini kemudian banyak yang ditugaskan di 2nd Ranger Battalion dan 5th Ranger Battalion, menyusul kehilangan banyak personel Ranger dalam Battle of Normandy dan Battel of Hurtgen Forrest.


29th Provisional Ranger Battalion


Pada saat 1st Ranger Battalion masih bertempur di Afrika Utara, pasukan AS di Inggris sempat membentuk satu unit pasukan Ranger yang diberi nama 29th Provisional Ranger Battalion. Batalyon ini dibentuk pada bulan Desember 1942 dengan para personelnya merupakan sukarelawan yang berasal dari 29th Infantry Division. Berbeda dengan 1st Ranger Battalion yang beroperasi dalam tingkat kompi atau batalyon, 29th Provisional Ranger Battalion beroperasi dalam tim-tim kecil yang beranggotakan kurang dari 10 orang tergantung dari misi yang hendak dilaksanakan. Batalyon ini sering beroperasi bersama pasukan Inggris dari No.4 Commando dan melakukakn sejumlah serangan dan sabotase terhadap pasukan Jerman di Perancis.

Batalyon ini tidak berumur lama dan dibubarkan pada bulan Oktober 1943 seiring dengan kedatangan 2nd Ranger Battalion dan 5th Ranger Battalion di Inggris. Para personel 29th Provisional Ranger Battalion kemudian kembali ke 29th Infantry Division.


Ranger di Front Eropa Barat : 2nd Ranger Battalion dan 5th Ranger Battalion

Dibubarkannya 1st Ranger Battalion, 3rd Ranger Battalion, 4th Ranger Battalion, dan 29th Provisional Ranger Battalion bukan berarti menjadi akhir dari aksi pasukan Ranger dalam Perang Dunia II di front Eropa. Angkatan Darat AS masih memiliki dua batalyon Ranger yang kemudian ikut dilibatkan dalam pendaratan di Normandia : 2nd Ranger Battalion yang dibentuk pada tanggal 1 April 1943 dan 5th Ranger Battalion yang dibentuk pada tanggal 1 September 1943.


Pada pendaratan di Normandia tanggal 6 Juni 1944 kedua batalton Ranger ini diperbantukan pada 29th Infantry Division dan mendarat di Omaha Beach. Di sinilah Mayor Jenderal Norman Cota dari 29th Infantry Division meneriakkan perintah “Lead the Way, Rangers” yang kemudian diadopsi menjadi motto pasukan Ranger. 2nd Ranger Battalion yang dipimpin oleh Kolonel James Rudder memperlihatkan keberanian mereka dengan menyerbu Pointe du Hoc dan melumpuhkan enam meriam kaliber 150mm milik pasukan Jerman yang mengancam operasi pendaratan pasukan Sekutu. Melalui pertempuran sengit selama dua hari, Pointe du Hoc akhirnya dapat dikuasai walaupun dari 225 orang Ranger yang terlibat dalam serangan tersebut akhirnya hanya 90 orang yang berhasil selamat dari pertempuran dengan pasukan Jerman. Sementara 2nd Ranger bertempur merebut Pointe du Hoc, 5th Ranger Battalion bertempur melumpuhkan bunker-bunker pertahanan pasukan Jerman dan selanjutnya berhasil menguasai jalan menuju kota Vierville-sur-Mer.


Setelah pendaratan di Normandia, kedua batalyon Ranger tersebut ditarik untuk berisitarahat, memperoleh tenaga pengganti, dan melakukan tugas-tugas patroli tempur di Perancis. Pasukan Ranger kemudian diperintahkan untuk membantu serangan ke kota pelabuhan Berst pada bulan Agustus 1944. Berst adalah kota pelabuhan yang sangat strategis dan dipertahankan dengan sangat kuat oleh pasukan Jerman. Pertempuran merebut Berts berlangsung sengit selama lebih dari sebulan sebelum akhirnya kota tersebut berhasil dikuasai oleh pasukan Sekutu pada tanggal 19 September 1944.

Jatuhnya Berst menandai berakhirnya tugas pasukan Ranger untuk sementara waktu. Kedua batalyon ini kemudian lebih banyak melaksanakan tugas-tugas patroli tempur sebelum akhirnya pada tanggal 6 Desember 1944 2nd Ranger Battalion dikirim untuk bertempur dalam Battle of Hurtgen Forest di perbatasan Jerman dengan Belgia. Selama dua hari 2nd Ranger Battalion terkepung di sebuah bukit yang disebut sebagai Hill 400 dan bertahan dari tembakan artileri serta serangan balik pasukan Jerman sebelum akhirnya terpaksa ditarik mundur pada tanggal 8 Desember 1944. 2nd Ranger Battalion menderita korban lebih dari 90 % dalam pertempuran tersebut sehingga terpaksa dibangun ulang.

Dengan banyaknya korban dari 2nd Ranger Battalion dalam Battle of Hurtgen Forest, maka praktis hanya 5th Ranger Battalion yang dalam keadaan siap tempur saat terjadinya Battle of The Bulge. Semula 5th Ranger Battalion bertugas untuk menjaga keamanan markas besar 12th Army Group pimpinan Jenderal Omar Bradley, namun kemudian batalyon diperbantukan kepada 6th Cavalry Group yang merupakan bagian dari 3rd Army pimpinan Jenderal George Patton. Dalam Battle of The Bulge, 5th Ranger Battalion tidak terlibat dalam pertempuran besar namun banyak melakukan serangan-serangan hit and run terhadap sejumlah posisi pasukan Jerman.


6th Ranger Battalion di Front Pasifik

Kisah Ranger dalam Perang Dunia II tidak hanya terjadi di front Afrika Utara, Italia, dan Eropa Barat saja tetapi juga di front Pasifik. Letnan Jenderal Walter Krueger sebagai komanadan 6th Army menyadari bahwa pasukan AS di front Pasifik pun membutuhkan pasukan seperti Ranger. Korps Marinir AS memang memiliki pasukan Marine Raiders, namun Angkatan Darat AS sama sekali tidak memiliki pasukan seperti itu. Akhirnya Angkatan Darat AS memutuskan untuk mengkonversi 98th Field Artillery Battalion menjadi sebuah batalyon Ranger. 6th Ranger Battalion pun kemudian dibentuk pada tanggal 24 September 1944 dan dipimpin oleh Kolonel Henry Mucci.


6th Ranger Battalion adalah pasukan Angkatan Darat AS pertama yang kembali ke Filipina sejak tahun 1942. Mereka mendarat di kepulauan Suluan dan Dinagat pada tanggal 17 Oktober 1944, tiga hari sebelum pendaratan pasukan AS di Leyte. Pasukan Ranger kemudian melumpuhkan stasiun radio dan radar Jepang sekaligus menyiapkan lampu-lampu navigasi untuk memandu armada AS yang akan melakukan pendaratan di Leyte. Setelah pasukan AS mendarat, 6th Ranger kemudian bertugas menjaga keamanan di markas besar 6th Army sekaligus mengamankan pangkalan udara di Tanuan dan Tolosa. Batalyon ranger ini juga kemudian terlibat dalam pendaratan di Luzon dan mengamankan kepulauan Santiago.


Pada tanggal 28-30 Januari 1945 6th Ranger Battalion melancarkan salah satu operasi militer AS paling sukses dalam sejarah, yaitu penyerbuan ke kamp tawanan perang di Cabanatuan. Serbuan ini dipimpin langsung oeh Kolonel Henry Mucci dan Kapten Robert Prince. Dengan kekuatan 121 orang personel Ranger dan dibantu oleh gerilyawan Filipina, mereka melakukan perjalanan lebih dari 40 km ke garis belakang pertahanan Jepang dan kemudian menyerbu kamp tawanan di Cabanatuan. Dalam serbuan tersebut Ranger berhasil membebaskan 511 orang tawanan dan menewaskan 523 orang tentara Jepang dengan hanya kehilangan dua orang Ranger dan seorang tawanan perang.


Serangan ke Cabanatuan adalah operasi militer yang sangat sukses dan seluruh anggota Ranger yang terlibat dalam serangan tersebut dianugerahi medali penghargaan. Kolonel Mucci dan Kapten Prince diaugerahi Distinguished Service Cross, sementara seluruh perwira lainnya dianugerahi Silver Star serta Bronze Star bagi seluruh bintara dan tamtama.

6th Ranger Battalion tetap bertugas di Filipina sampai akhirnya Jepang menyerah dan Perang Dunia II berakhir. Batalyon kemudian dibubarkan pada tanggal 20 Desember 1945 sekaligus mengakhiri cerita pasukan Ranger dalam Perang Dunia II.


Ranger dalam Perang Korea

Berakhirnya Perang Dunia II juga mengakibatkan berkurangnya kekuatan militer AS secara besar-besaran. Akibatnya pada saat Perang Korea pecah pada tahun 1950 bisa dikatakan pasukan AS sama sekali tidak siap dan tidak memiliki pasukan seperti Ranger yang beroperasi di garis belakang pasukan musuh. Jenderal Joseph Lawton Collins sebagai Kepala Staf Angkatan Darat AS pun memerintahkan pembentukan pasukan serupa, namun pasukan ini hanya memiliki kekuatan setingkat kompi dan memliki kemampuan lintas udara. Akhirnya dibentuk sebanyak lima belas kompi pasukan Airborne Ranger, namun hanya enam kompi yang dikirim ke Perang Vietnam dan sisanya dikirim ke Eropa atau tetap berada di AS. Salah satu kompi Airborne Ranger yang dikirim ke Perang Vietnam adalah 2nd Ranger Company, satu-satunya kompi Ranger dalam sejarah militer AS yang seluruh personelnya adalah tentara berkulit hitam.


Dalam Perang Korea, Ranger beroperasi dalam unit-unit kecil untuk melakukan operasi pengintaian, serangan terbatas ke posisi musuh, atau membuka jalan bagi pasukan yang lebih besar. Operasi-operasi militer dalam skala kecil dan personel terbatas ini sangat berbahaya dan salah satu veteran Ranger dalam Perang Korea sampai mengatakan bahwa, “For the Rangers in Korea, fighting outnumbered and surrounded was routine.” Namun hal ini bukan berarti Ranger tidak pernah diturunkan dalam operasi militer skala besar seperti yang dilakukan oleh 2nd Ranger Company dan 4th Ranger Company ketika bersama dengan 187 Airborne Regimental Combat Team melakukan penerjunan di Munsan untuk memotong gerak mundur pasukan Komunis dari Seoul pada tanggal 23 Maret 1951.

Umur pasukan Ranger dalam Perang Korea tidak panjang karena mulai bulan Juli 1951 Angkatan Darat AS mulai membubarkan kompi-kompi Arborne Ranger tersebut. Walaupun demikian, pelatihan Ranger yang dikenal sebagai Ranger School tidak ikut dibubarkan. Ranger School ini semula hanya mendidik para calon anggota Ranger, namun kemudian diubah sehingga terbuka bagi seluruh anggota Angkatan Darat AS agar para persnonel tersebut juga memiliki kemampuan Ranger.


Ranger dalam Perang Vietnam : Long Range Reconnaissance Patrol (LRRP) dan 75th Infantry (Airborne)

Pada akhir tahun 1950-an negara-negara NATO menyadari bahwa mereka membutuhkan satu unit pasukan yang mempunyai kemampuan khusus beroperasi di belakang garis pertahanan musuh, terutama untuk kepentingan pengintaian dan sabotase. Konsep pasukan seperti ini bukan hal yang baru karena dalam Perang Dunia II AS juga memiliki pasukan Ranger yang memiliki kemampuan hampir sama, demikian pula dengan Inggris yang memiliki Long Range Desert Group dan SAS dalam pertempuran di front Afrika Utara. Misi-misi LRRP ini sendiri antara lain adalah melakukan serangan gerilya terhadap pasukan musuh, memandu serangan artileri, pengintaian, forward air control, dan memantau hasil serangan udara.


Awalnya LRRP ini dibentuk untuk keperluan pasukan NATO di Eropa. Namun seiring pecahnya Perang Vietnam maka unit-unit pasukan AS yang berada di Vietnam pun membentuk LRRP. Karena tidak adanya perintah secara resmi membentuk LRRP maka akhirnya setiap divisi atau brigade Angkatan Darat AS yang berada di Vietnam memmbentuk LRRP sendiri. Baru pada tahun 1969 semua unit LRRP yang berada di Vietnam disatukan menjadi satu pasukan tersendiri yaitu 75th Infantry (Airborne) dan semua personel LRRP diberikan status sebagai Ranger. Namun umur pasukan ini tidak lama dan dibubarkann pada tahun 1972 menyusul penarikan mundur pasukan AS dari Vietnam.


75th Ranger Regiment


Berakhirnya Perang Vietnam membawa dampak pengurangan militer AS secara besar-besaran. Namun Perang Yom Kippur pada tahun 1973 memperlihatkan bahwa kondisi dunia internasional sangat rawan terhadap konflik dan AS membutuhkan satu pasukan reaksi cepat yang siap dikirim ke daerah konflik di seluruh penjuru dunia dalam waktu singkat. Jenderal Creighton Abrams sebagai Kepala Staf Angkatan Darat memerintahkan untuk membentuk kembali pasukan seperti Ranger dalam Perang Dunia II. Pada tanggal 31 Januari 1974 1st Ranger Battalion pun dibentuk dan menyusul 2nd Ranger Battalion yang dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1974. Pengaktifan kembali 1st Ranger dan 2nd Ranger ini sekaligus merupakan lahirnya kembali Ranger di era modern.

Pada bulan April 1980 Ranger dipersiapkan untuk terlibat dalam Operation Eagle Claw, upaya pembebasan sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran. Tugas Ranger dalam operasi tersebut adalah mengamankan bandara di Manzariyeh yang terletak 55 km dari Teheran di mana para sandera yang berhasil dibebaskan akan diterbangkan dengan pesawat C-141. Namun operasi ini berakhir dengan kegagalan akibat badai pasir dan kurangnya pengalaman para personel militer AS. Operasi berakhir dengan musibah dengan bertabrakannya pesawat C-130 AU AS dengan helikopter CH-53 Korps Marinir yang mengakibatkan delapan orang tewas. Berkaca dari pengalaman dalam Operation Eagle Claw ini maka kemudian militer AS membentuk satuan khusus penerbang bagi keperluan operasi-operasi pasukan khusus yang kemudian menjadi 160th Special Operations Aviation Regiment “Night Stalkers”.

Kiprah Ranger selanjutnya adalah dalam Operation Urgent Fury, invasi AS ke Grenada pada tahun 1983 yang sekaligus menjadi debut Ranger di era perang modern. Invasi tersebut dilatar belakangi kudeta militer di Grenada yang dilakukan dengan bantuan Kuba. Khawatir bahwa negara tersebut akan menjadi negara komunis dan ditambah dengan adanya sejumlah mahasiswa asal AS yang berada di Grenada, maka pasukan AS dibantu dengan pasukan dari beberapa negara Karibia lalu melakukan penyerbuan ke Grenada. Dalam operasi ini tugas Ranger adalah mengamankan bandara di Port Salines dan selanjutnya menyerbu True Blue Medical School untuk menyelamatkan sekitar 600 mahasiswa asal AS yang berada di kampus tersebut. Walaupun menghadapi perlawan sengit dari pasukan Kuba, namun Ranger berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik dan Operation Urgent Fury berakhir dengan kesuksesan bagi pasukan AS.


Menyusul kesuksesan Ranger dalam invasi ke Grenada, maka 3rd Ranger Battalion pun kembali diaktifkan pada 3 Oktober 1984 dan ketiga batalyon Ranger tersebut disatukan dalam 75th Infantry Regiment (Ranger) yang dua tahun kemudian berubah menjadi 75th Ranger Regiment. Selain tiga batalyon tempur, diaktifkan pula tiga batalyon latih dengan mengikuti sejarah Ranger dalam Perang Dunia II; yaitu 4th Ranger Training Battalion, 5th Ranger Training Battalion, dan 6th Ranger Training Battalion.

Operasi tempur Ranger selanjutnya adalah Operation Just Cause pada bulan Desember 1989, invasi AS ke Panama untuk menangkap diktator Jenderal Manuel Antonio Noriega. Dalam operasi ini tugas Ranger adalah menguasai bandara Rio Hato dan kemudian melumpuhkan La Comandancia yang merupakan markas besar pasukan Panama. Sama seperti di Grenada, Ranger pun berhasil melaksanakan tugasnya dengan sukses daan Operation Just Cause berakhir dengan ditangkapnya Noriega pada tanggal 3 Januari 1990.

Dalam Perang Teluk tahun 1991 Ranger pun kembali diturunkan, namun hanya berkekuatan satu peleton yang berasal dari Kompi A 1st Ranger Battalion. Dalam Operation Desert Storm Ranger melaksanakan sejumlah misi pengintaian, serangan hit and run ke sejumlah posisi pasukan Irak, dan ditugaskan sebagai pasukan reaksi cepat dalam keadaan darurat. Peleton Ranger ini baru ditarik pulang ke AS pada bulan April 1991.


Pada bulan Agustus 1993 Ranger dikirim ke Somalia untuk mendukung pasukan perdamaian PBB, namun di Somalia pula Ranger harus kehilangan banyak personel dalam Battle of Mogadishu.


Operation Gothic Serpent


Pada tanggal 3 Oktober 1993 pasukan AS melancarkan Operation Gothic Serpent di Mogadishu untuk menangkap sejumlah tokoh milisi pimpinan Mohamed Farrah Aidid. Para personel militer AS yang dilibatkan dalam operasi ini berasal dari unit-unit pasukan khusus seperti Ranger, Delta Force, 160th Special Operation Aviaton Regiment, Navy SEALS, serta Air Force Pararescuemen dan Combat Controllers dari 24th Special Tactics Squadron.

Namun pasukan AS ternyata menghadapi perlawanan sengit dari milisi dan penduduk Mogadishu. Dua helikopter AS ditembak jatuh dan para personel AS terkepung dan terlibat pertempuran sengit selama lebih dari 18 jam. Pasukan AS kemudian melancarkan operasi penyelamatan yang melibatkan Ranger dan 10th Mountain Division serta dibantu oleh pasukan perdamaian PBB asal Pakistan dan Malaysia. Dalam pertempuran yang dikenal sebagai Battle of Mogadishu tersebut pasukan AS kehilangan 19 orang tewas dan 91 orang luka-luka. Sebanyak 16 korban tewas dan 57 korban luka-luka berasal dari 3rd Ranger Battalion.

Battle of Mogadishu mengakibatkan pasukan AS dari Somalia ditarik mundur pada tahun 1994 dan setahun kemudian seluruh pasukan perdamaian PBB pun ditarik dari Somalia. Kegagalan dalam operasi di Somalia bukan berarti Ranger berhenti melakasanakan operasi tempur. Setahun kemudian Ranger ikut dikirim ke Haiti dalam Operation Restore Democracy dan pada tahun 2000 ikut dikirim dalam operasi pasukan perdamaian NATO di Kosovo.

Kegagalan dalam operasi di Somalia bukan berarti Ranger berhenti melakasanakan operasi tempur. Setahun kemudian Ranger ikut dikirim ke Haiti dalam Operation Restore Democracy dan pada tahun 2000 ikut dikirim dalam operasi pasukan perdamaian NATO di Kosovo.

Ranger pula yang membuka jalan bagi pasukan AS dalam Operation Enduring Freedom di Afghanistan tahun 2001 dan Operation Iraqi Freedom di Irak tahun 2003. Ranger sampai saat ini masih terlibat dalam sejumlah operasi milite di Irak dan Afghanistan.




Sumber : Bolozer 21