Tampilkan postingan dengan label Artikel Militer Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Militer Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2011

Teknik Menembakkan FN Minini & M249 SAW Dengan Akurat & Efektif



FN Minimi akan jadi mesin pembunuh dan mematikan apabila di tangan prajurit yang tepat dan mengerti karakteristiknya, sekarang kita uraikan satu  persatu teknik cara menembakkan senjata Minimi :

Teknik pertama disebut Fixed Fire, digunakan untuk target statis dan keberadaannya sudah di ketahui, penembakan cukup membidik pada satu titik lalu melepaskan rentetan pendek.

Teknik Kedua apabila musuh dalam jumlah banyak dan membentuk formasi melebar, teknik yang dipakai adalah Traversing Fire. Untuk teknik ini penembak harus menembakkan dengan mengarahkan moncong minimi ke sisi kiri dan kanan kurang lebih 30 derajat. Teknik ini mendistribusikan tembakan seimbang dengan menyesuaikan posisi tubuh, baik pundak maupun siku. 

Teknik Ketiga ialah Searching Fire, teknik ini sering digunakan apabila kalau musuh tiarap atau bersembunyi diantara vegetasi dan keberadaannya tidak diketahui pasti. Untuk menerapkan teknik ini penembak harus memanipulasi penembakan dengan mengubah elevasi moncong Minimi. Untuk menurunkan posisi laras saat di tembakkan, penembak dapat merapatkan posisi kedua siku, begitu pula bila ingin menaikkan arah tembakan, posisi kedua siku tinggal di renggangkan. 

Sementara jika ancaman musuh datang dalam jumlah yang besar dan bergelombang dari segala posisi, jurus yang digunakan adalah teknik gabungan traversing and searching fire. Penembak harus menggeser laras ke kiri dan ke kanan, juga mengubah elevasi supaya field of fire dapat di tutup dengan maksimal. Untuk menerapkan teknik ini penembak harus disiplin dan tenang. Artinya tenang dalam mengubah arah maupun elevasi tembakkan dan harus di lakukan one at time, bukannya mengarahkan senjata tanpa membidik sama sekali. 

Setelah beres dengan target manusia, sekarang yang lebih sulit tentu menghantam benda bergerak semacam kendaraan. Untuk mencapai kesuksesan tinggi, penembak harus mampu memperkirakan kecepatan kendaraan dan posisi bidik yang tepat dan sesuai jarak. Sebagai contoh, jika ada truk yang melaju dengan kecepatan 15 mil per jam dari arah kanan pada jarak 300 m, maka penembak harus menyetel rear sight pada posisi 300 m, dan membidikkan Miniminya ke arah kiri mendahului target dengan asumsi jarak kira-kira setengah dari panjang target.

Selasa, 07 Juni 2011

Cara Mengarahkan Senjata M16



Benar tidaknya cara operator menempatkan senjata akan sangat menentukan akurasi dan perkenaan. Berikut bagaimana operator seharusnya memosisikan bagian-bagian tubuhnya saat memegang M16, walaupun ilustrasinya akan berbeda yaitu menggunakan senjata model, lain tapi yang perlu kita perhatikan di sini adalah cara dia memegang senjata

Posisi tangan yang tidak menembak (memegang foregrip) 
Tangan yang tidak menembak (memegang foregrip), dengan jempol dengan membentuk sudut v dengan ke empat jari lainnya. Pegangan foregrip tidak boleh terlalu keras, cukup memastikan laras tidak goyang. Memegang terlalu dekat ke arah pangkal tidak di anjurkan, begitu pula memegang bagian magazine well. Pada M16A4 yang di lengkapi dengan KAC Front Grip, tempatkan grip di posisi yang paling nyaman untuk bahu dan jangan memegang grip terlalu keras. 

Memposisikan popor
Pasikan popor di pangkal bahu. Usahakan operator memperoleh posisi yang baik dan nyaman, dengan keseluruhan bagian popor menempel ke bahu. 

Posisi tangan yang menembak
Tangan yang di pergunakan untuk menembak, memegang pistol grip dengan erat, telunjuk di letakkan di pelatuk, sementara ketiga jari yang berada di bawah memberi sedikit tekanan ke arah belakang untuk memastikan popor guna mengurangi efek recoil.

Siku tangan yang di gunakan untuk menembak. 
Penempatan siku tangan untuk menembak sangat penting dalam menyediakan keseimbangan. Pilih posisi yang paling nyaman, pastikan kedua bahu di posisi sejajar. Posisi chicken wing (siku menembak di rentangkan sejajar posisi telapak tangan) tidak dianjurkan karena membuat otot tegang dan memperbesar siluet penembak. 

Siku tangan yang tidak menembak 
Siku tangan yang tidak menembak di tempatkan dengan posisi di bawah senapan untuk memberikan kenyamanan dan kestabilan. Pastikan posisi ini tetap bebas dan tidak menempel pada permukaan apapun, karena akan di gunakan untuk mengarahkan laras apabila musuh datang dari berbagai posisi.

Posisi Wajah 
Pipi operator harus di tempatkan di posisi popor membidik. Tempatkan tulang pipi sedikit diatas popor dan berikan tekanan sehingga tercipta sedikit lipatan, sementara itu leher harus rileks. Pastikan posisi pipi di popor sudah dekat bagian mata agar dapat melihat posisi penjera belakang dan depan dengan tepat.


BERIKUT ADALAH CONTOH MEMEGANG SENJATA M16



Akibat Terkena Timah Panas Dari Segi Medis & Kesehatan

Orang yg terkena tembakan / Ilustrasi


APA AKIBAT YANG DITIMBULKAN JIKA PELURU MENGENAI TUBUH DARI SEGI MEDIS DAN KESEHATAN

Ada 2 (dua) macam orang yang terkena Tembakan yaitu terkena Pantulan Peluru dan terkena peluru langsung tanpa adanya pantulan dari kedua macam jenis dan akibat yang di timbulkan sama-sama parah sebab ada beberapa hal yang mendasari opini tersebut dengan fakta yang berimbang:

Terkena Tembakan Peluru Pantul
Dalam peperangan, orang yang banyak terkena tembakan pantulan adalah Masyarakat Umum dan sisanya para tentara yang disebabkan oleh Proyektil peluru di tembakkan dan mengenai benda seperti Beton, Besi yang sifatnya “Melawan”. Peluru akan memantul ke segala penjuru tergantung, dari sudut mana proyektil datang. Akibat yang paling buruk terkena peluru pantulan adalah tertembaknya di bagian vital dan yang paling gawat adalah tanpa di duga datang dan arah tembakannya.

Terkena Tembakan Peluru Langsung
Terkena Tembakan Peluru Langsung bisa di katakan “50/50” kenapa diakatakan demikian, penembak (orang yang melakukan penembakan) biasanya tahu arah tujuan atau sasaran tembaknya di bandingkan dengan terkena tembakan peluru pantul (si penembak tidak tahu arah peluru yang di tembakkan jika tidak mengenai sasaran). Tembakan peluru langsung ini beruntung contoh dalam segi hukuman mati peluru yang di tujukan ke jantung adalah untuk menghindari rasa sakit yang berlebihan sebelum menemui “Ajal” dalam segi kriminal sangat menguntungkan bagi pelaku kriminal, kenapa demikian ? orang yang melakukan perbuatan “kriminal” biasanya di tembak jika melakukan perlawanan atau melarikan diri saat terjadi pengejaran atau penyergapan. Dalam lingkungan polisi biasanya ada yang di sebut TEMBAKAN PERINGATAN, tembakan peringatan ini ada 3 (tiga) kali tembakan, tembakan pertama dan kedua di arahkan ke atas atau udara sebagai penggertakan atau peringatan apabila tidak menghiraukan (tidak menyerah), tembakan yang ketiga di arahkan ke bagian yang sifatnya melumpuhkan, jika masih melawan di wajibkan menembak di bagian vital, tidak menutup kemungkinan jika tembakan di arahkan langsung ke bagian vital tanpa adanya tembakan peringatan karena faktor keselamatan yang sangat genting.

Terkena tembakan (peluru pantul atau peluru langsung) pada tubuh seseorang akan berakibat fatal karena jika peluru tadi mengenai organ-organ tubuh, atau mengenai persendian maka akan berakibat kematian dan kelumpuhan bagi yang terkena tambakan.


KENAPA ?
Orang yang terkena peluru haruslah segera diambil atau dioperasi (pembedahan) dikarenakan proyektil yang berada dalam tubuh sangat membahayakan karena mengandung beberapa zat-zat organik dan non organik yang bisa menyebabkan orang keracunan zat-zat yang ada dalam bubuk messiu. Biasanya orang mengambil proyektil peluru dengan mengunakan pembedahan langsung apabila yang terkena peluru di tempat yang sangat vital biasanya akan dilakukan operasi setelah pasien betul-betul pulih secara mental atau fisik dan tidak menutup kemungkinan jika langsung di lakukan operasi tergantung dari kondisi pasien dan pertimbangan para dokter ahli bedah.


BAGAIMANA RASANYA TERKENA PELURU ?
Apabila kita terkena peluru, biasanya effek yang paling utama yang ditimbulkan adalah Mati rasa pada bagian yang terkena peluru, 2 menit kemudian kelumpuhan sementara jika di tembakkan pada bagian sendi dan rasa sakit yang luar biasa. Dalam Perang Dunia ada istilah penggunaan morfin yang membantu mengurangi rasa sakit yang luar biasa. Morfin yang di suntikkan ke tubuh akan bereaksi cepat dalam menghilangkan rasa sakit dan menenangkan penderita sehingga memudahkan dalam pengoperasian (pembedahan) pasien dalam situasi perang. Peluru juga menyebabkan kematian yang cukup singkat (tidak merasakan sakit yang terlalu lama dalam menunggu 'ajal' jika di tembakan di bagian “VITAL” seperti kepala dan area jantung dari faktor inilah diadakan REGU TEMBAK DALAM HUKUMAN MATI .


TITIK-TITIK YANG MENYEBABKAN KEMATIAN DAN KELUMPUHAN
Dalam segi medis ada beberapa bagian atau titik-titik rawan dan vital pada tubuh kita titik-titik yang menyebabkan kematian adalah : jantung dan kepala sedangkan titik-titik rawan atau yang menyebabkan kelumpuhan adalah Bagian sendi-sendi seperti bagian kaki dan tangan.

Jumat, 03 Juni 2011

Istilah Satuan Militer Dari Regu Sampai Divisi



ISTILAH SATUAN MILITER: DARI REGU HINGGA DIVISI


REGU
  • Regu adalah satuan militer terkecil dalam Bataliyon (Infanteri) yang terdiri minimal 20 personel. 
  • Komandannya berpangkat Sersan Satu atau Kopral Kepala senior (yang berpengalaman). 
  • Regu adalah bagian dari peleton.


PELETON
  • Kesatuan militer di bawah Kompi yang terdiri dari beberapa regu (biasanya tiga regu), kekuatan personilnya kurang lebih 30 sampai 50 orang dan biasanya dipimpin seorang Letnan Dua. 
  • Posisi Komandan Peleton biasanya merupakan penugasan PERTAMA, bagi perwira yang baru lulus dari Akademi Militer (Angkatan Darat) dan Akademi Angkatan Laut (kecabangan Marinir).


KOMPI
  • Kesatuan militer yang berada di bawah Batalyon terdiri dari beberapa peleton (biasanya tiga peleton)
  • Kekuatan personilnya kurang lebih dari 180 hingga 250 orang. Biasanya dipimpin seorang Kapten. 
  • Dalam satuan infanteri, ada tiga macam kompi, yang disesuaikan dengan fungsinya, yaitu Kompi Senapan (Kipan), Kompi Markas (Kima), Kompi Bantuan (Kiban). Kompi Senapan disiapkan untuk operasi lapangan, dengan dukungan Kompi Bantuan. 
  • Persenjatan Kompi Bantuan lebih berat dari persenjataan Kipan, persenjataan Kipan terdiri dari Senjata Mesin Sedang (SMS), mitraliur, dan mortir.


BATALIYON
  • Satuan dasar tempur di bawah Brigade atau Resimen yang terdiri dari suatu Markas, Kompi Markas dan beberapa Kompi (biasanya tiga Kompi) atau Baterai (istilah Kompi khusus untuk satuan Altileri). 
  • Khusus untuk Batalyon Infantri dapat merupakan bagian taktis dari suatu Brigade dan dapat juga berdiri sendiri dengan tugas taktis dan administrasi. Contoh Bataliyon Infanteri (Yonif) yang tergabung dalam Brigade Infanteri (Brigif), adalah Yonif 312/Kala Hitam (Subang), Yonif 310/Iklas Karya Utama (Sukabumi), dan Yonif 327/Brajawijaya (Cianjur), ketiganya berada di bawah komando Brigif 15/Kujang (bermarkas di Bandung).
  • Yonif yang berstatus "BS" (Berdiri Sendiri), adalah Yonif yang tidak bergabung dalam Brigif, namun komandonya langsung dari Pangdam (setempat), karena biasanya Yonif tersebut adalah Yonif andalan, yang biasa disebut sebagai bataliyon pemukul Kodam. ContohYonif yang berstatus "BS", antara lain adalah Yonif 401/Banteng Raiders (Kodam IV/Diponegoro), Yonif 507/Sikatan (Kodam V/Brawijaya), Yonif Linud 733/Masariku (Kodam VIII/Trikora), Yonif Linud 100/Prajurit Setia (Kodam I/Bukit Barisan), dan lain-lain. Kategori lain adalah bataliyon yang di bawah komando Korem (Komando Resort Militer). Ini adalah kategori yang paling umum. Contoh Yonif 315/Garuda (di bawah Korem 061/Suryakencana, Bogor), Yonif 408/Subrastha (basis Kendal, di bawah Korem 073/Makutarama, Salatiga), Yonif 521 (basis Kediri, di bawah Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun), dan lain-lain.
  • Jumlah personil Yonif kurang lebih 700 hingga 1000 orang, Batalyon biasanya dipimpin seorang Mayor (senior) atau Letnan Kolonel. 
  • Sedang untuk Bataliyon di luar infanteri, seperti Bataliyon Kavaleri (Yonkav), Bataliyon Artileri Medan (Yonarmed), Bataliyon Zeni Tempur (Yonzipur), Bataliyon Perbekalan dan Angkutan (Yonbekang), hitungan personelnya bukan sekadar orang per orang, namun jumlah kekuatan peralatannya dan anggota yang menjadi operator (awak) peralatan tersebut, misalnya Yonkav terdiri dari sekian tank atau sekian panser, Yonarmed terdiri dari sekian meriam, dan seterusnya. Jadi jumlah personelnya tidak sebanyak bataliyon infanteri biasa.
  • Bataliyon artileri ada dua macam, sesuai fungsinya: Bataliyon Artileri Medan (sasaran darat) dan Bataliyon Artileri Pertahanan Udara (sasaran udara). 
  • Yonkav unsur persenjataan yang utama ada dua, yaitu tank dan panser. Ada Yonkav yang persenjataannya khusus panser atau khusus tank saja, atau gabungan antara keduanya. Contoh Yonkav yang persenjataannya hanya tank: Yonkav 1/Kostrad. Sedang khusus panser, contohnya Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya. Contoh yang gabungan: Yonkav 9/Serbu (Kodam Jaya), Yonkav 4/Serbu (Kodam III/Siliwangi). Yonkav yang berunsur gabungan panser dan tank, adalah bentuk yang paling umum.


BRIGADE
  • Satuan tempur di atas Batalyon, dan di bawah Divisi yang merupakan satuan dasar tempur terdiri dari unsur-unsur tempur (biasanya tiga Batalyon), unsur-unsur bantuan tempur dan unsur-unsur bantuan administrasi. 
  • Brigade dapat berdiri sendiri atau merupakan bagian dari komando yang lebih besar (Divisi). 
  • Jumlah kekuatan personelnya kurang lebih 3000 hingga 5000 personel.
  • Karena merupakan satuan tempur yang relatif besar (gabungan tiga bataliyon), maka ketika operasi pada tingkat brigade, kesatuan tersebut bisa bergerak sendiri, lengkap dengan unsur Bantuan Tempur (Banpur) dan Bantuan Administrasi (Banmin) sendiri. Koordinasi Banpur dan Banmin berada di bawah unit tersendiri, yaitu Detesemen Markas, dipimpin seorang Dandema.
  • Brigade Infanteri (Brigif) di lingkungan TNI ada beberapa macam, bisa berdasar garis komando, bisa berdasar kualifikasi. 
  • Berdasar garis komando, ada Brigif yang berada di bawah : (1) Kodam [Brigif yang berada di bawah Kodam hanya ada dua, yaitu Brigif 1/Jaya Sakti (Kodam Jaya) dan Brigif 15/Kujang (Kodam III/Siliwangi)]. (2) Kostrad [Brigif Linud 3 (Makassar), Brigif Linud 17/Kujang I (Jakarta), Brigif Linud 18/Trisula (Malang), Brigif 13/Galuh (Tasikmalaya), Brigif 9 (Jember), dan Brigif 6 (Solo)]
  • Berdasar kualifikasi, ada Brigif Lintas Udara (linud), dan Brigif Lintas Medan (Brigif biasa). 


RESIMEN
  • Satuan militer di bawah Divisi yang terdiri dari beberapa Batalyon (biasanya 3 Batalyon). 
  • Resimen merupakan satuan dengan kesenjataan yang sejenis, misalnya Resimen Arteleri Medan, Resimen Arhanud. 
  • Resimen biasanya dipimpin seorang Kolonel. 
  • Unsur-unsur satuan di bawah Resimen, hampir sama dengan Brigade. 
  • Tampaknya TNI lebih cenderung memakai sistem Brigade. Itu terlihat tidak adanya lagi satuan yang memakai sebutan Resimen, setidaknya di lingkungan Angkatan Darat. Terakhir, mungkin kita masih ingat, satuan yang pernah memakai nama resimen, adalah Kopassus, saat masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).


DIVISI
  • Satuan tempur militer terbesar, dengan kekuatan penuh. Maksudnya secara operasional, memilki kesatuan kesatuan tempur, berikut unsur pendukungnya, yaitu bantuan tempur dan bantuan administrasi, yang berada dalam garis komando Divisi tersebut, jadi tidak perlu mendatangkan dari komando lain di luar Divisi. Seperti Divisi Infanteri yang ada di Indonesia. 
  • Angkatan Darat memiliki dua satuan setingkat Divisi, yang keduanya berada di bawah Kostrad, yaitu Divisi Infanteri 1 (markas di Cilodong, Bogor), dan Divisi Infanteri 2 (markas diSingosari, Malang). Divisi-divisi tersebut, selain memiliki unsur tempur sendiri (infanteri, kavaleri dan artileri), juga memiliki unsur bantuan tempur (Bataliyon Zeni, Bataliyon Perhubungan, dan Bataliyon Peralatan), dan unsur bantuan administrasi sendiri (perbekalan, angkutan, kesehatan, polisi militer, dll).
  • Divisi biasanya dipimpin oleh seorang Mayor Jendral.


DETASEMEN
Ada beberapa pengertian istilah Detasemen :
  • Kesatuan yang terdiri dari pasukan atau kapal-kapal yang diambil dari kesatuan yang lebih besar dikirim untuk suatu tugas khusus. Untuk Angkatan Darat, bisa berupa kendaraan lapis baja, seperti Detasemen Kavaleri.
  • Kesatuan tetap yang berkekuatan kurang lebih sebesar Peleton hingga Kompi yang dibentuk untuk tugas-tugas tertentu. Contoh: Detasemen Intel (Denintel) Kostrad, Denintel Kodam, Denma Brigif, Detasemen Polisi Militer, dan Detasemen 81/Anti Teror Kopassus (sebelum dilikuidasi). Untuk kategori ini komandannya, perwira berpangkat Mayor atau Letkol.
  • Nama tingkat kesatuan untuk organisasi kemarkasan tingkat Komando Utama ke atas. Contoh: Detasemen Markas (Denma) Markas Besar Angkatan Darat, Denma Mabes TNI, dan Denma Makodam. Komandannya biasanya berpangkat Kolonel (untuk Mabes), atau Letkol (untuk Makodam).

Rabu, 25 Mei 2011

Perlukah Penembak Misterius Diaktifkan Kembali..?

Di era 1980-an, ketika itu ratusan residivis khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah mati ditembak. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap hingga kini, karena itu muncul istilah "petrus", penembak misterius.

Tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat sudah dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan, jurang atau kebun. Peristiwa penculikan dan penembakan tersebut berlaku bagi mereka yang sewaktu masih hidup diduga sebagai preman, residivis, penjahat, bromocorah, dan kaum kecu dan mereka sering dipinggirkan dalam kehidupan.

Pada era Soeharto, petrus hanya berlaku untuk preman & penjahat kelas teri, mereka yang merampok karena kondisi kepepet dan lapar. Namun TIDAK untuk preman berdasi, mereka yang mencuri karena rakus dan punya kesempatan. Bahkan ada yang berpendapat kalau preman-preman berdasi itu justru punya kedekatan dengan Pak Harto sehingga mereka tidak di-dor.

Mari kita tengok kehidupan masyarakat kita akhir-akhir ini, di mana sangat sering terjadi tindakan brutal dan anarkis yang mungkin hanya gara-gara masalah sepele atau salah faham saja. Lihat saja kasus Blow Fish yang berlanjut ke persidangan, kasus Mbah Priuk, tawuran antar supporter atau antar warga (dimana polisi pun kurang sukses mengatasi amuk massa yang anarkis tersebut) dan yang tak kalah mengerikan adalah maraknya aksi perampokan yang semakin nekat dan sadis atau aksi preman jalanan seperti “kapak merah” dan sejenisnya. Apalagi aksi teroris yang sangat kejam yang bisa mengakibatkan korban massal dan kerusakan yang luas.

Dalam format yang lebih “halus” kita mengenal kasus Century, Gayus Tambunan, Susno Duadji dan masih banyak lagi kasus “halus” yang berbuntut sangat panjang dan terkesan sulit untuk diurai. Bagi kita masyarakat awam, seolah-olah mudah saja menyelesaikan semuanya itu : Lha wong sudah jelas semuanya kok, mau ngapain lagi? Kan tinggal dihukum, beres! Namun apakah demikian jika ditinjau secara hukum? Menurut mereka yang pintar dan sangat menguasai hukum, semuanya itu haruslah bisa dibuktikan secara yuridis formal, seperti yang sering diucapkan oleh Kapolri Bambang Hendarso Danuri.

Di sisi lain, sebagian dari mereka yang kita anggap sebagai pengayom dan pelindung masyarakat atau para petugas pelayanan masyarakat yang notabene merupakan tempat di mana kita mencari perlindungan, keadilan dan pelayanan yang baik dari mereka, justru memperlihatkan kecenderungan perilaku yang mirip dengan kaum yang terpinggirkan. Jaksa, hakim, polisi dan aparat penegak hukum atau aparat pemerintah lainnya justru bisa diajak “bermain” jika ada duitnya. Itu sudah bukan rahasia lagi, bahkan sampai sekarang-pun setelah ada KPK.

Bagaimana ya kira-kira jika “petrus” diaktifkan lagi untuk membersihkan negeri ini dari keberadaan mereka? Jika ditinjau dari sisi kemanusiaan dan HAM, jelas hal tersebut sangat salah. Namun jika ditilik dari segi keamanan dan kenyamanan publik, kok kayaknya negeri ini perlu “petrus”. Bagaimana jika suatu pagi kita menyaksikan berita bahwa mereka para tokoh teroris, koruptor, aparat & pejabat nakal, sampai preman dan penjahat jalanan ditemukan telah tidak bernyawa lagi? Bagaimana jika mereka telah berada di dalam karung atau tubuh mereka digeletakkan begitu saja di suatu tempat? Mungkin tidak semuanya diperlakukan demikian.

Tapi paling tidak ada beberapa yang di-dor, sebagai shock terapi seperti pada era Soeharto. Mungkin saja setelah beberapa “teman seprofesi” nya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa lagi, bisa menimbulkan efek jera dan mereka menjadi ketakutan dan angka kejahatan menjadi turun. Itu hanya logika orang awam yang sangat sederhana dan apa adanya, tanpa memperhitungkan efek positif & negatif atau resiko ke depan yang tentu akan menimbulkan pendapat pro-kontra. Bagaimana menurut Anda?

Minggu, 22 Mei 2011

Menhan: Lokasi 13 Sandera WNI Belum Diketahui


"Kondisi mereka belum jelas, karena tak ada komunikasi antara perompak dengan pemilik kapal". Menhan.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengaku belum ada informasi mengenai nasib 13 anak buah kapal asal Indonesia, yang menjadi sandera perompak di dekat perairan Somalia, begitu pula lokasi persisnya. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia masih menunggu perkembangan dari pembajakan kapal kargo MT Gemini asal Singapura itu. 

"Kondisi mereka belum jelas, karena tidak ada komunikasi antara perompak dengan pemilik kapal," kata Yusgiantoro di sela-sela Konferensi Tingkat Menhan ASEAN di Jakarta, Kamis 19 Mei 2011. 

Kapal MT Gemini yang berbendera Singapura sejak 30 April lalu dibajak para lanun saat melintas di 310 kilometer di tenggara Mombasa, Kenya. Hingga saat ini, para perompak yang diduga dari Somalia itu juga belum mengajukan tuntutan sebagai tebusan bebasnya kapal berbobot 21 ribu ton beserta awak kapalnya.

Kapal MT Gemini diawaki oleh 25 orang. Sebanyak 13 awak adalah warga Indonesia, 3 warga negara Myamnar, dan 5 warga negara China, serta empat dari Korea Selatan (Korsel). 

Selama hampir tiga pekan, nasib mereka belum jelas. "Tidak diketahui lokasinya dan keadaan mereka. Tuntutan para pembajak pun tidak diketahui karena tidak ada komunikasi lagi," kata Yusgiantoro. 

Dia mengatakan pemerintah Singapura juga belum mendapat informasi mengenai nasib para sandera. Maka, tiada yang bisa dilakukan saat ini selain menunggu. "Kita masih menunggu informasi lebih lanjut," kata Yusgiantoro. 

Menurut dia, ini berbeda dengan kondisi yang dialami para awak kapal Sinar Kudus. Para perompak saat itu menuntut uang tebusan dengan jumlah spesifik untuk pembebasan 20 awak kapal asal Indonesia.  

Pada 4 Mei lalu, kantor berita Yonhap mengutip informasi dari sumber pemerintah Korsel bahwa kapten kapal Gemini telah melakukan kontak dengan perusahaan pemilik kapal di Singapura awal Mei lalu, melalui telepon satelit. "Dikonfirmasikan semua awak kapal diperlakukan secara baik," kata sumber pemerintahan di Korea Selatan, yang tidak diungkapkan namanya. 

Korsel turut berkepentingan atas penyanderaan di kapal MT Gemini karena terdapat empat warga negara mereka.


Sumber: Viva News

Untuk Lawan Perompak, Pemerintah Somalia Dukung TNI Duduki Daratan

Pasukan Denjaka korps marinir TNI AL

Minggu siang ini, 22 Mei 2011, upacara penyambutan kedatangan Satuan Tugas Pembebasan Sandera Kapal Sinar Kudus akan digelar di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta Utara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menerima kedatangan pasukan TNI yang telah sebulan lebih bertugas ke perairan Somalia itu.

Tuntas sudah tugas mereka melakukan operasi pembebasan sandera kapal kargo Sinar Kudus. Namun, sejumlah cerita di balik operasi pembebasan sandera melawan para bajak laut Somalia masih tersisa. Salah satunya soal rencana Satgas menduduki Pantai Ceel Dhahanaan (El Dhanan), Somalia, saat Sinar Kudus masih dikuasai perompak. Pemerintah Somalia rupanya mendukung penuh rencana itu.

Kepada Tempo, Duta Besar Somalia untuk Indonesia Mohamud Olow Barow menyatakan pihaknya tak berkeberatan dengan rencana pasukan TNI menduduki Pantai El Dhanan, saat melakukan operasi pembebasan kapal Sinar Kudus bulan lalu. "Kami setuju. Siapa pun yang mau melawan kelompok bajak laut, kami 100 persen persilakan," ujarnya, Jumat lalu, 20 Mei 2011.

Meskipun, ia belum diberi tahu Pemerintah Indonesia soal niat menduduki El Dhanan sebagai bagian dari strategi Satgas merebut kapal Sinar Kudus. Dukungan penuh ini diberikan karena Indonesia adalah sesama negara dengan mayoritas penduduk muslim, sama seperti Somalia. Saat Sinar Kudus masih dikuasai perompak, Barow memang selalu menunjukkan dukungannya pada pelaksanaan operasi militer. "Di laut maupun di darat, kami izinkan," ucapnya.

Ia juga sempat menunjukkan kegemasannya karena mafia perompak di perairan negaranya semakin marak saja. Bahkan, penyandang dana aksi para pembajak ditengarai berasal dari luar Somalia. Warga Somalia hanya jadi pelaksana di lapangan. "Somalia cuma tempat parkir, pemiliknya internasional," tuturnya di kantornya, Kedutaan Besar Somalia, di Jakarta, 15 Maret lalu.

Ketika itu, karena khawatir pada keselamatan awak Sinar Kudus, pemerintah belum berterus terang soal rencana pembebasan kapal kargo tersebut. Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah bahkan pernah berucap bahwa pernyataan Pemerintah Somalia, yang mengizinkan Indonesia mengirim pasukan untuk membebaskan sandera awak kapal Sinar Kudus, tak banyak berarti. Sebab, pemerintah di sana memang tidak memegang kekuasaan atas seluruh wilayahnya.

"Pemerintah Somalia bisa memberi statement (pernyataan) apa saja, tapi adalah fakta bahwa mereka tidak menguasai negaranya sendiri," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, beberapa waktu lalu.

Seperti diberitakan Tempointeraktif.com dan Koran Tempo pekan lalu, Satuan Tugas “Merah Putih” --nama satuan operasi pembebasan sandera Sinar Kudus-- ternyata menyiapkan strategi khusus saat menggelar operasi di Somalia itu. Strategi itu adalah menduduki Pantai El Dhanan, Somalia, yang menjadi basis para perompak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kabarnya menyetujui bahkan memerintahkan langkah menduduki pantai yang hanya berjarak 500-600 meter dari kampung para perompak itu. 

“Untuk mencegah bantuan dari darat pada saat melakukan penindakan, duduki pantai El Dhanan,” kata Komandan Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin kepada Tempo. Presiden oke dengan strategi itu saat Alfan mamaparkan strategi operasi pembebasan sandera di Istana Cipanas, 16 April 2011.

Alfan, yang juga ditunjuk sebagai Komandan Satgas “Merah Putih” ini beralasan, El Dhanan memiliki posisi yang strategis untuk mencegah perompak mengerahkan bala bantuan saat kapal Sinar Kudus disergap pasukan TNI. Sebab, jarak kapal Sinar Kudus ketika lego jangkar hanya sekitar 3,5 Nautical Mile saja dari bibir pantai El Dhanan. “Ini sangat dekat untuk mengerahkan bantuan,” ujar Alfan.

Selain menyetop bantuan, langkah menduduki El Dhanan adalah taktik psywar alias "perang urat saraf" menghadapi perompak. Apalagi jika mereka sampai menggunakan 20 awak Sinar Kudus sebagai tameng hidup saat pasukan menyerang.

"Bodoh-bodohnya begini, elu mau bunuh 20 orang Indonesia di kapal? Gue habisin nih satu kampung, ada anak-istri elu di situ. Saya yakin dia punya rasa kemanusiaan, ada rasa takut," kata Alfan. "Saya ambil (cara) psikologis itu. Kami akan punya posisi tawar sangat tinggi bila El Dhanan diduduki," ujarnya.


Sabtu, 21 Mei 2011

Indonesia & China Latihan Bersama Pilot Sukhoi

Pilot Sukhoi TNI AU
Pertemuan bilateral antara menteri pertahanan Indonesia dan China disela-sela ASEAN Defence Ministers Meeting menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Salah satunya, RI dan China akan menggelar training bersama untuk para pilot jet tempur Sukhoi.

Hal itu terungkap dari pertemuan antara Wakil Presiden Boediono dan Menhan China Liang Guanglie, Jumat (20/5/2011). Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat itu, Boediono didampingi oleh Menhan RI Purnomo Yusgiantoro.

Deputi Seswapres bidang Politik, Dewi Fortuna Anwar, yang ikut dalam pertemuan itu mengatakan, Menhan RI memaparkan beberapa poin kesepakatan yang saat bertemu dengan Guanglie kepada Wapres. Kesepakatan-kesepakatan itu akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat.

"Agenda yang akan ditindaklanjuti antara lain meningkatkan pertukaran perwira kedua negara, termasuk dalam lakukan training bersama untuk pilot pesawat tempur sukhoi," ucap peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

RI dan China, lanjutnya, juga akan saling berkunjung ke sekolah militer masing-masing negara untuk bertukar pengalaman. Lalu kedua negara juga akan melakukan coordinated patrol (patroli yang terkoordinasi) untuk keamanan maritim RI-China.

Pilot wanita China
Sementara itu, menurut Dewi, Gunglie menegaskan keinginan China untuk membangun hubungan yang lebih pragmatis dan luas dengan Indonesia, termasuk dalam bidang pertahanan-keamanan. Kesepakatan lain antara RI-China yang disebut Guanglie yakni kunjungan sesama kapal perang dari kedua negara.

Wapres Boediono sangat menghargai kunjungan Menhan China hari ini, apalagi Indonesia saat ini menjadi ketua ASEAN. Boediono menekankan kerjasama RI dan China mencakup bidang yang sangat luas. Wapres juga mendukung kerjasama pertahanan yang lebih erat antara RI dan China.

"Wapres sangat mendukung kerjasama yang makin meningkat dalam pertukaran perwira militer dan juga industri di bidang pertahanan," ungkap perempuan peraih gelar doktor dari Monash University, Australia, ini.


Rabu, 11 Mei 2011

Faktor Penyebab Indonesia Tidak Bisa Tegas Kepada Malaysia



Ada analisis menarik dari pengamat militer Universitas Indonesia, Andy Wijayanto, mengenai kemungkinan terjadinya perang terbuka antara Indonesia dan Malaysia di daerah konflik perairan Blok Ambalat. Bila Jakarta mengumumkan perang terbuka dengan negara tetangga kita itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus memperhitungkan aliansi negara yang akan mendukung negeri jiran tersebut dalam konfrontasi.

Andy mengungkapkan, Malaysia memiliki sistem aliansi pertahanan dengan Inggris, Australia, Singapura, serta Selandia Baru. Aliansi itu disebut sebagai Five Power Defense Agreement (FPDA). Salah satu kesepakatan negara-negara FPDA adalah klausul bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota merupakan serangan pula terhadap negara anggota lainnya.
“Malaysia tinggal meminta klausul itu diaktifkan. Bila disepakati, berarti negara kita harus siap berperang juga dengan Inggris, Australia, Singapura, serta Selandia Baru yang mempunyai kekuatan tempur jauh lebih kuat dan canggih,” jelasnya setelah diskusi tentang RUU Pertahanan dan Keamanan.
Dari situs resmi British High Commission, Kuala Lumpur, diketahui bahwa FPDA berdiri pada 1971 sebagai lembaga konsultasi dan antisipasi serangan terhadap Singapura serta Malaysia. Saat peringatan 30 tahun FPDA pada November 2001, kelima negara anggotanya sepakat membentuk suatu kerja sama jangka panjang. Salah satunya, perjanjian saling dukung bila ada negara anggotanya yang diserang negara lain. Tahun ini, FPDA memfokuskan tinjauannya pada maritime security. Dengan fokus tersebut, kemungkinan empat negara lainnya untuk mendukung Malaysia dalam konfrontasi dengan Indonesia menjadi lebih besar.

Tidak itu saja. Bila dalam konfrontasi nanti negara kita berhadapan dengan Inggris, negara tersebut sangat mungkin meminta artikel lima NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) diaktifkan. Artikel lima NATO serupa dengan klausul perjanjian FPDA yang intinya menyatakan, serangan yang dialami salah satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap negara-negara anggota lainnya dan harus dihadapi bersama. Sehingga, konfrontasi dengan Malaysia bisa melebar serta membuat Indonesia harus berhadapan dengan negara-negara anggota NATO.
“Jadi, efeknya akan beruntun. Itulah yang harus diperhitungkan masak-masak oleh Presiden SBY sebelum mendeklarasikan konfrontasi dengan Malaysia. Rakyat pun harus memahami hal ini supaya tidak gelap mata mendesak perang dengan Malaysia,” tegas Andy.
Apabila anda ingin melihat perbandingan dari kekuatan antara Indonesia & Malaysia, anda bisa klik disini 

Perbandingan Antara Angkatan Militer Malaysia & Indonesia



Marilah kita melihat perbandingan antara angkatan Militer Malaysia dan Indonesia. Sumber yang saya ambil bukan dari satu sumber, tapi dari berbagai sumber terpercaya agar bener-bener bisa dibuat sebagai perbandingan.

Pertama, analisis ini saya sadur dari Tribun News
Tank
  • Indonesia hanya memiliki 350 unit kalah dari Singapura 450 unit meski luas wilayah Indonesia hampir 3.000 kali lebih besar dari Singapura. 
  • Di Asia Tenggara, jumlah tank yang dimiliki TNI AD hanya berada di posisi keempat setelah Vietnam 1.935 unit, Thailand 848 unit, Singapura 450 unit, dan Indonesia 350 unit. 
  • Untuk Malaysia tidak disebutkan jumlah kepemilikan tank- nya namun yang jelas di bawah Indonesia. Untuk kemampuan dukung tank terhadap personel AD-nya, Singapura masih teratas sedangkan Indonesia di posisi keenam.

Artileri
  • Untuk kekuataan artileri yang dimiliki TNI AD jauh lebih banyak dari Singapura dengan jumlah mencapai 1.060 unit artileri yang digolongkan menjadi dua kategori jenis T dan Mortir. Keunggulan artileri Singapura adalah karena terdiri dari berbagai ragam artileri. 
  • Di Asia Pasifik, dengan jumlah artileri sebanyak itu Indonesia hanya di posisi ke-13. Di negara Asia Tenggara, Indonesia di urutan ketiga setelah Vietnam (3.040 artileri) dan Thailand 2.473 artileri.
  • Dengan demikian kemampuan dan jumlah artileri yang dimiliki Malaysia berada di bawah ketiga negara ini.

Kapal Selam
  • Di Asia Tenggara hanya ada tiga negara yang memiliki kapal selam yaitu Indonesia (2 unit SSK), Singapura (3 unit SSK), dan Vietnam (2 unit SSI). Malaysia tidak disebutkan memiliki kapal selam.
  • SSK adalah kapal yang dimiliki Indonesia dan Singapura yang dapat dikategorikan tactical submarine berjenis SSK (patrol submarine) dilengkapi anti submarine warfare (ASW). Sementara SSI adalah kapal selam tenaga diesel.

Kapal Perang
  • Untuk kapal perang jenis PSC, di Asia Tenggara Indonesia teratas dengan jumlah PSC 29 unit disusul Thailand, Vietnam dengan 11 PSC, Malaysia 11 unit PSC, dan Singapura 6 unit PSC. 
  • Namun untuk kapal perang jenis PCC, Malaysia berada di peringkat atas dengan 185 unit disusul Thailand 110 unit sementara Indonesia hanya 23 unit yang terdiri dari 11 buah bertipe kapal patroli biasa dilengkapi senjata kaliber 20 mm, 4 unit lainnya diklasifikasikan dalam kapal patroli cepat dilengkapi SSM, 4 unit kapal patroli dilengkapi torpedo anti-submarine, dan sisanya 4 unit kapal patroli biasa.

Pesawat Tempur
  • Secara umum untuk total pesawat tempur TNI-AU berjumlah 247 unit, RSAF (Angkatan Udara) Singapura 153 unit. Meski lebih banyak namun 53 persen pesawat tempur TNI-AU itu dikategorikan fighter dibandingkan milik Singapura. Di Asia Tenggara, Indonesia terbanyak dimana posisi kedua diduduki Vietnam dengan 204 unit pesawat fighter dan Thailand (posisi keempat) dengan 87 unit pesawat. 
  • Malaysia tidak disebutkan namun yang jelas di bawah dari keempat negara yang disebutkan di atas. Jenis pesawat fighter TNI-AU terdiri atas F-5, F-16, Sukhoi, Su-30, dan 2 unit Su-27, F-5, dan berbagai jenis lainnya.

Helikopter
  • Untuk helikopter yang dimiliki TNI-AU hanya 38 unit terdiri atas dua jenis Assault dan Transport (tipe NAS-332L Super Puma serta NAS-330 Puma). Di Asia Tenggara, jumlah terbanyak helikopter dimiliki Singapura 110 unit, lalu AU Filipina 80 unit. Indonesia berada di peringkat ketujuh dari 10 negara Asia Tenggara. 
  • Malaysia tidak disebutkan apakah dibawah Indonesia atau diatasnya. 


Kedua, analisis berikut diambil dari Global Fire
Pada gambar analisis dibawah ini terlihat bahwa Indonesia berada diposisi ke-14. Musuh besar Indonesia sendiri tidak masuk dalam daftar situs ini. Mungkin aja Malon berada diposisi paling akhir dari seluruh dunia karena Malon bukanlah negara yang kuat dalam hal kemiliteran. Malon aja merdeka karena kepala negaranya sujud-sujud sambil menangis dihadapan Ratu Elizabeth.


Ketiga, analisis ini saya ambil dari Nation Master
Personel Angkatan Bersenjata
Indonesia urutan 11 dan Malaysia berada diurutan 26. Dari data ini sungguh terlihat bahwa Indonesia sesungguhnya mampu berbicara banyak terhadap Malaysia. Lihat gambar dibawah ini



Personel Angkatan Darat
Lerlihat dari gambar dibawah ini bahwa personil Angkatan Darat kita sangat jauh apabila dibandingkan dengan Malon.



Personel Angkatan Laut
Malaysia boleh mengklaim punya kapal-kapal canggih (walaupun kebenarannya masih sangat dipertanyakan dikarenakan kerjaannya Malon kan cuma tukang ngeklaim), tapi kalo urusan personel, kita lebih kuat dan percuma punya kapal canggih tapi kagak ada personel yang menjalankan kapal itu. Dasar Malon.



Personel Angkatan Udara
Lagi-lagi kita lebih unggul dari Malon.



Senjata
Kalo ada yang bilang "Indonesia boleh punya banyak tentara, tapi percuma juga kalo senjatanya sedikit". Dari data dibawah ini, kita juga bisa membandingkan persediaan senjata kita dengan Malaysia. Walaupun pada sebuah forum ada penduduk Malon yg bilang "senjata Indonesia memang banyak tapi udah tua". Kalo menurut gue, biar tua tapi masih bisa buat ngelobangi kepala tuh penduduk Malon.



Ini mungkin PR untuk pemerintah, untuk meningkatkan jumlah persenjataan kita karena tidak sebanding dengan jumlah tentara kita, tapi setidaknya senjata kita masih lebih banyak dari pada punya Malon.

Jadi kesimpulan yang berhasil saya dapat adalah Indonesia memang tidak kalah dalam segala hal dengan Malon, tetapi yang jadi permasalahan apabila perang sampai pecah adalah bantuan dari negara-negara yg mendukung Malon. Kalo one by one sih siapa takut, kita hajar sampe keakar-akarnya...

Jumat, 06 Mei 2011

SAS Inggris Pernah di Pecundangi RPKAD (Kopassus)

Ini adalah cerita tentang pertempuran antara pasukan khusus Inggris yg diwakili oleh SAS dan pasukan khusus Indonesia yg tentu saja diwakili oleh prajurit dari RPKAD/Kopassus. Setting ceritanya adalah bulan April tahun 1965, ketika Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malingsial. Lokasi pertempuran di desa Mapu, Long Bawan, perbatasan Kalimantan Barat dan Sabah.



Saat itu batalion 2 RPKAD (sekarang Grup 2 Kopassus) baru saja terbentuk. batalion baru ini segera dikirim untuk misi khusus ke kalimantan barat. Mereka mendarat di Pontianak bulan Februari 1965, dan segera setelah itu mereka berjalan kaki menuju posnya di Balai Karangan yang jaraknya puluhan kilometer dari lapangan terbang.

Pos Balai Karangan merupakan pos terdepan TNI yang sebelum kedatangan RPKAD dijaga oleh infanteri dari batalion asal Jatim. Sekitar 1 km di depan pos Balai Karangan adalah pos terdepan tentara Inggris di desa Mapu yang dijaga oleh satu kompi British paratrooper dan beberapa orang SAS. Menyerang pos inilah yang menjadi misi khusus batalion RPKAD. Pos Mapu tersebut sering digunakan sebagai transit bagi personel SAS yang akan menyusup ke wilayah Indonesia. TNI ingin hal ini dihentikan dengan langsung melenyapkan pos tersebut.

Pos Inggris di Mapu tersebut terletak di puncak sebuah bukit kecil yang dikelilingi lembah, sehingga pos ini sangat mudah diamati dari jarak jauh. Selain itu, pos tersebut juga cukup jauh dari pasukan induknya yang kira-kira terpisah sejauh 32 km.

Pasukan RPKAD yang baru datang segera mempersiapkan setiap detail untuk melakukan penyerangan. Prajurit RPKAD yang terpilih kemudian ditugaskan untuk melakukan misi reconnaisance untuk memastikan kondisi medan secara lebih jelas. Mereka juga memetakan pos tersebut dengan detail sehingga bisa menjadi panduan bagi penyusunan strategi penyerangan, termasuk detail jalur keluar masuknya.

Tugas recon ini sangat berbahaya, mengingat SAS juga secara rutin melakukan pengamatan ke posisi-posisi TNI. Jika kedua recon tersebut berpapasan tanpa sengaja, bisa jadi akan terjadi kotak tembak yang akan membuyarkan rencana penyerangan. Oleh karena itu, recon RPKAD sangat berhati-hati dalam menjalankan misinya. Bahkan mereka menggunakan seragam milik prajurit zeni TNI AD untuk mengelabui musuh apabila terjadi kemungkinan mereka tertangkap atau tertembak dalam misi recon tersebut.

Setelah sebulan mempersiapkan penyerangan, pada 25 April 1965 gladi bersih dilakukan. Dari tiga kompi RPKAD yang ada di pos Balai Karangan. Komandan batalion, Mayor Sri Tamigen, akhirnya memutuskan hanya kompi B (Ben Hur) yang akan melakukan penyerangan. Sementara 2 kompi lainnya tetap berada di wilayah Indonesia untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.

Dalam penyerangan ini, kompi B diharuskan membawa persenjataan lengkap. Mulai dari senapan serbu AK-47, senapan mesin Bren, peluncur roket buatan Yugoslavia, dan Bangalore torpedoes, mainan terbaru RPKAD waktu itu, yang biasanya digunakan untuk menyingkirkan kawat berduri atau ranjau.

Selesai mengatur perbekalan, Ben Hur mulai bergerak melintasi perbatasan selepas Maghrib. Karena sangat berhati-hati, mereka baru sampai di desa Mapu pada pukul 0200 dini hari. Setelah itu mereka segera mengatur posisi seperti strategi yang telah disusun dan dilatih sebelumnya.

Pos Mapu berbentuk lingkaran yang dibagi ke dalam empat bagian yang masing-masing terdapat sarang senapan mesin. Perimeter luar dilindungi oleh kawat berduri, punji, dan ranjau claymore. Satu-satunya cara untuk merebut pos ini adalah dengan merangsek masuk kedalam perimeter tersebut dan bertarung jarak dekat. Menghujani pos ini dengan peluru dari luar perimeter tidak akan menghasilkan apa-apa karena didalam pos tersedia lubang-ubang perlindungan yang sangat kuat.

Beruntung, malam itu hujan turun dengan deras seolah alam merestui penyerangan tersebut, karena bunyi hujan menyamarkan langkah kaki dan gerakan puluhan prajurit komando RPKAD yang mengatur posisi di sekitar pos tersebut.

Setelah dibagi ke dalam tiga kelompok, prajurit komando RPKAD berpencar ke tiga arah yang telah ditetapkan. Peleton pertama akan menjadi pembuka serangan sekaligus penarik perhatian. Kedua peleton lainnya akan bergerak dari samping/rusuk dan akan menjebol perimeter dengan bagalore torpedoes agar para prajurit RPKAD bisa masuk ke dalam dan melakukan close combat.

Pada jam 0430 saat yang dinanti-nanti tiba, peleton tengah membuka serangan dengan menembakkan senapan mesin Bren ke posisi pertahanan musuh. Segera setelah itu, dua peleton lainnya meledakkan bangalore torpedoes mereka dan terbukalah perimeter di kedua rusuk pertahanan pos tersebut. Puluhan prajurit RPKAD dengan gagah berani masuk menerjang ke dalam pos untuk mencari musuh.

Prajurit Inggris berada pada posisi yang tidak menguntungkan karena tidak siap dan sangat terkejut karena mereka tidak menduga akan diserang pada jarak dekat. Apalagi saat itu sebagian rekan mereka sedang keluar dari pos untuk berpatroli. Yang tersisa adalah 34 prajurit Inggris. Hal ini memang telah dipelajari recon RPKAD, bahwa ada hari-hari tertentu dimana 2/3 kekuatan di pos tersebut keluar untuk melakukan patroli atau misi lainnya. Dan hari itulah yang dipilih untuk hari penyerangan.

Dengan susah payah, akhirnya ke-34 orang tersebut berhasil menyusun pertahanan. Beberapa prajurit RPKAD yang sudah masuk ke pos harus melakukan pertempuran jarak dekat yang menegangkan. Dua prajurit RPKAD terkena tembakan dan gugur. Namun rekan mereka terus merangsek masuk dan berhasil menewaskan beberapa tentara Inggris dan melukai sebagian besar lainnya. Tentara Inggris yang tersisa hanya bisa bertahan sampai peluru terakhir mereka habis karena mereka telah terkepung.

Diantara yang terbunuh dalam pertempuran jarak dekat yang brutal tersebut adalah seorang anggota SAS. Ini adalah korban SAS pertama yang tewas ditangan tentara dari ASEAN. Namun sayangnya Inggris membantah hal ini. Bahkan dalam buku karangan Peter Harclerode berjudul "Para! Fifty Years of the Parachute Regiment halaman 261 pemerintah Inggris malah mengklaim mereka berhasil menewaskan 300 prajurit RPKAD dalam pertempuran brutal tersebut. Lucunya klaim pemerintah Inggris ini kemudian dibantah sendiri oleh penulis buku tersebut di halaman 265, ia menyebutkan bahwa casualties RPKAD hanya 2 orang. Secara logis memang angka 300 tidak mungkin karena pasukan yang menyerang hanya satu kompi. Pemerintah Inggris melakukan hal tersebut untuk menutupi rasa malu mereka karena dipecundangi tentara dari dunia ketiga, bahkan salah satu prajurit dari kesatuan terbaik mereka ikut terbunuh dalam pertempuran tersebut.

Pertempuran itu sendiri berakhir saat matahari mulai meninggi. Prajurit RPKAD yang sudah menguasai sepenuhnya pos Mapu segera menyingkir karena mereka mengetahui pasukan Inggris yang berpatroli sudah kembali beserta bala bantuan Inggris yang diturunkan dari helikopter. Mereka tidak sempat mengambil tawanan karena dikhawatirkan akan menghambat gerak laju mereka.

Sekembali di pos Balai Karangan, kompi Ben Hur disambut dengan suka cita oleh rekan-rekannya. Para prajurit yang terlibat dalam pertempuran mendapatkan promosi kenaikan pangkat luar biasa. Mereka juga diberi hadiah pemotongan masa tugas dan diberi kehormatan berbaris di depan Presiden Soekarno pada upacara peringatan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1965.

Itulah cerita heroik batalion 2 RPKAD, cikal bakal Grup 2 Kopassus.


Sumber: kaskus.us

Rabu, 04 Mei 2011

Bungkam Radio RMS


Terlihat Noordraven dan Nurtanio (kedua dan ketiga dari kiri) tengah terlibat pembicaraan dengan beberapa orang di depan tower Halim.


Mengamuknya KNIL di Makassar awal Agustus, jika dicari benang merahnya (mungkin) berkaitan dengan penyerangan stasiun radio (zenderpark) RMS di Kota Ambon oleh dua B-25 pada tanggal 4 Agustus 1950. Bagaimana jalan ceritanya?

Sebagaimana biasa di setiap konflik sampai ke tingkat paling radikal, perang, propaganda menjadi alat paling ampuh untuk menekan lawan. Menyadari itulah, RMS merebut stasiun pemancar RRI Ambon. Dengan leluasa RMS kemudian melempar isu-isu sensitif guna menarik simpati rakyat. Aksi “perang mulut” ini ditanggapi cepat oleh TM. Hingga suatu saat di awal bulan Agustus 1950, ruang operasi Lanud Kendari menerima perintah dari Mabes AURI untuk “mendiamkan” radio RMS.

Awak disiapkan. Pesawat dalam kondisi baik, bom tersedia cukup. Hari “H” ditetapkan 4 Agustus. Celakanya, B-25 M-460 hanya memiliki senapan mesin 12,7 mm saja. Ternyata lagi, fuse (sumbu) pada bom sudah tidak layak digunakan, disamping juru lempar bom (bombardir) juga tidak ada. Kalaupun dipaksakan, risikonya sangat tinggi. Karena untuk tepat mengenai sasaran, pesawat harus terbang rendah (top tree level) saat menjatuhkan bom.

Disinilah bahayanya, ledakan bom akan menghantam badan pesawat. Sebenarnya masih bisa diakali dengan menggunakan delay fuse. Alat ini akan menunda ledakan minimal 12 detik, hingga memberi kesempatan pesawat keluar dari daerah bahaya. Itu dia masalahnya, “Kita nggak punya,” jelas Noordraven.

Terus, bagaimana dong. “Ya sudah, kita lemparkan drum yang sudah diisi bensin saja,” saran Noordraven kepada Ismail. Teknik ini diketahui Noordraven pernah digunakan Rusia kala menyerang Jepang. “Prinsipnya seperti bom napalm.” Teorinya, begitu drum menyentuh sasaran, Ismail yang terbang lebih rendah, akan menembak dengan peluru mengandung fosfor (brandstichtend patronen). Dalam buku Sejarah Skadron 1/Pembom TNI AU 1950-1977, Ismail menulis “… menghargai kepercayaan yang diberikan kepadanya atas kemahirannya menembak”. Latihan dilaksanakan sekali untuk mempertebal keyakinan para awak.

Subuh, 4 Agustus. Waktu menunjukkan pukul 06.00 Wita. Dua B-25 registrasi M-439 dan M-460 jenis straffer disiapkan. Awak melakukan persiapan terakhir untuk memastikan pesawat ready to take off. Sebuah drum berisi bensin penuh, dimasukkan ke dalam bomb bay. Delapan senapan mesin kaliber 12,7 mm di hidung dan empat di sisi kiri-kanan siap menyalak.

Sekitar jam 06.45, enam bilah baling-baling mulai memutar dua mesin Wright R-2600-92 Cyclone. Pesawat yang prototipenya diterbangkan pilot-uji North American Paul Balfour di California, Januari 1939, mulai dimasuki awak satu per satu. M-439 diterbangkan Kapten PG0 Noordraven dengan ko-pilot Letnan Sutopo, Lesyu (teknisi), dan Sersan Udara Hasibuan (radio telegrafis). Sementara M-460 diterbangkan Letnan RJ Ismail dengan ko-pilot Letnan Patah. Awaknya, Sersan Udara Z Pelmelay (teknisi) dan Sersan Mayor Udara Agus (radio telegrafis).

Mesin M-439 berputar semakin kencang. Kabut tipis masih menyelimuti landasan. Tepat jam 07.00 Wita, mesin yang masing-masing berkekuatan 1.700 tenaga kuda mendorong pesawat meninggalkan landasan Kendari dengan tenaga penuh. Selang sekian detik, disusul M-460. Mengambil heading ke selatan, pesawat terus menanjak hingga ketinggian 5.000 kaki. Sambil terbang side by side, Noordraven terus mengatur penyerangan sebelum mencapai persis di atas target (Time Over Target). Tidak ada kejadian apa-apa selama perjalanan.

Satu jam penerbangan, pulau Ambon terlihat. Pesawat yang diproduksi mencapai 11.000 itu, perlahan-lahan menurunkan ketinggian hingga 1.000 kaki. Dari arah selatan kota Ambon yang berbukit-bukit, kedua pesawat mulai mengatur “pendadakan”.

Pada detik-detik menegangkan itu, saat pesawat mendekati sasaran, dari sisi barat samar-samar terlihat asap membumbung ke angkasa. Dalam bahasa perang, berarti tanda bahaya. Bagi Noordraven dan Ismail, berarti kecolongan. "Kita ketahuan,” kata Noordraven. Namun sebagai leader, Noordraven berpikir cepat dan segera memutuskan penyerangan harus dilakukan dari arah barat.

Pesawat berputar, dua B-25 terbang dari barat secara berdampingan. Target terpampang jelas di depan mata: sebuah pemancar radio. Tidak jauh dibelakangnya, terhampar teluk Ambon yang bermuara ke laut Banda. Tanpa sadar apa yang akan terjadi, sebuah kapal dagang membuang sauh di pelabuhan Halong. Pesawat sangat rendah, 500 m, on the deck, sebuah ketinggian minimum yang masih disebut aman. Begitu rendahnya, tulis Ismail, seolah-olah sayap pesawat tersangkut pada tiang-tiang antena. Untuk itu, lanjut Ismail, ketinggian sedikit ditambah.

Tiba-tiba Noordraven berbelok tajam ke kiri disusul belokkan ke kanan sambil menambah ketinggian. Manuver ini lazim disebut split attack. Persis di atas pemancar radio, bomb bay door M-439 terbuka. Ismail melihat jelas, mulai mengambil ancang-ancang. Empat senapan mesin kaliber 12,7 mm di kiri kanan pesawat, diaktifkannya. Ismail dan awak mencoba untuk tenang.

Saat yang ditunggu tiba. Drum berisi bensin penuh, dilepas dan meluncur ke bawah dengan kencangnya. Ibaratkan terjun payung, 70 meter terlewatkan hanya dalam waktu satu detik saat meluncur. Ismail hanya punya se-per­sekian detik saat drum menyentuh gedung pemancar. Kemampuannya menembak tepat betul-betul diuji di sini. Semua berlangsung begitu dramatis. Sekelebatan. Sementara Noordraven telah meninggalkan target dan terbang ke arah pelabuhan. Sekian detik lagi, drum akan menyentuh gedung dan hampir overshoot.

Bergalau pikiran berbaur ketegangan. Ismail memberondong. Luput! Drum yang dibidik tidak kena. Sial. Dampak membakar seperti napalm, tidak terjadi. “Bagaimana ini,” gerutu Ismail. Tidak ada kesempatan kedua. Tapi untunglah, sebelum detik-detik menentukan itu, Ismail telah melakukan tembakan terobosan ke arah gedung-gedung menjelang pemancar. Perhitungannya, andai gagal, target alternatif tidak luput.

“Daripada gagal sama sekali,” aku Ismail. Beberapa kaki di depannya, Ismail melihat Noordraven sedang menyapu sambil lewat sebuah kapal dagang yang bersandar di pelabuhan Halong. Sebanyak 12 senapan mesin 12,7-nya menghantam kontrol kabin kapal. Ismail yang diliputi rasa dongkol karena gagal menghancurkan target, tidak mau ketinggalan. Dalam kekesalannya, diberondongnya pula kapal malang itu. Sayang pelampiasannya tidak berlangsung lama, karena mendadak mitraliurnya macet dan kebetulan, komandannya memanggil return to base. Padahal, Ismail sempal berniat kembali ke pemancar dan menghancurkan pemancar radio RMS itu.

“Saya tidak dapat menghilangkan kedongkolan, mengingat hasil pelaksanaan tugas yang kurang meyakinkan,” gerutu Ismail dalam perjalanan pulang ke Lanud Kendari.


Sumber: http://sejarahperang.wordpress.com

Sabtu, 30 April 2011

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (Tamat)



Mari kita lanjut kecerita selanjutnya, session terakhir. Bagi yg belum membaca session kelima, bisa klik disini...

Lanjut...

Kisah#15: Trial and Error Saat Mencoba Senjata
Senjata-senjata (api) yang dimiliki oleh elemen-elemen bersenjata di Surabaya saat itu sebagian besar adalah hasil rampasan senjata Jepang. Senjata-senjata itu, termasuk mortir, meriam, dan panser, merupakan modal besar dalam mempertahankan kemerdekaan, bukan hanya di Surabaya dan Jawa Timur namun juga di daerah lain seperti Jakarta, Bandung, dan Jawa Tengah yang mendapat kiriman senjata rampasan dari Surabaya.

Namanya juga senjata hasil rampasan yang dirampas dalam suasana kacau balau, kualitas dan jenisnya macam-macam. Persoalan lain, seringkali banyak ketidaksesuaian antara suatu jenis bedil atau senjata dengan amunisi yang tersedia. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh jika terdengar teriakan seperti ini: ”Pelurune kok kegeden? Gak iso mlebu nang bedilku !?” (Peluruku kok kebesaran? Tidak bisa masuk ke dalam bedilku nih!” yang terkadang disahuti oleh yang lain: ”Walah, peluruku malah kecilik’an, lodhok iki”. (walah, malah peluruku kekecilan, jadi longgar ini.). Kalau seperti itu, diantara mereka kemudian saling mencoba untuk mengetahui peluru apa cocoknya ke senjata mana.

Itu baru soal kesesuaian antara jenis peluru dengan bedilnya. Belum lagi soal mempergunakan senjata. Ini persoalan lain lagi. Selain TKR dan Polisi Istimewa, praktis elemen-elemen bersenjata arek-arek Suroboyo adalah milisi yang belum mahir dalam mempergunakan senjata. Namun karena keterbatasan waktu dan tenaga, sulit juga untuk mengadakan semacam short course cara penggunakan senjata yang baik dan benar. Terpaksalah para pejuang itu belajar sendiri, dengan cara trial and error, cara mempergunakan senjata seperti bagaimana cara membidik yang tepat agar sasaran bisa dikenai.

Hal ini terus berlangsung bahkan saat pertempuran besar sudah terjadi. Akibatnya seringkali hal ini menimbulkan insiden yang mengenaskan seperti saat teman seperjuangan dihujani mortir hanya karena keliru menghitung sudut elevasi tembakan. Namun terkadang juga muncul hal-hal lucu seperti panser yang disetir dengan gaya orang mabok atau seperti yang diceritakan oleh salah satu pejuang disela-sela istirahat.

“Aku mau nembak tentara Inggris, pas kenek ndase. Langsung matek tentara iku” (Aku tadi menembak tentara Inggris, tepat kena kepalanya. Langsung mati tentara itu) kata pejuang muda itu dengan bangga. Teman-teman yang lain menimpali dengan rasa kagum. “Hebat awakmu saiki, wis iso nembak titis. Angel lho nembak pas kene ndase iku” (Hebat dirimu sekarang, sudah bisa menembak dengan jitu. Susah lho menembak dengan tepat di bagian kepala.).

Tapi apa jawaban pejuang pertama tadi. ”Sak jane sih, aku mau ngeker dodone supoyo luwih gampang ditembak, tapi kok kenek ndase? Yo wis, kebetulan !” (Sebenarnya sih, aku tadi mengincar dadanya agar lebih mudah ditembak, tapi kok kena kepalanya? Ya sudah, kebetulan !”) Maka meledaklah tawa diantara sesama pejuang. 

Begitulah arek-arek Suroboyo, meski suasana perang, selalu ada waktu riang dengan berkelakar diantara mereka.

= = =

Kisah#16: Transformasi dari Pengasuh Pondok Pesantren menjadi Komandan Pasukan Tempur
Masyarakat Surabaya khususnya, dan Jawa Timur sebagian besar adalah muslim yang berorientasi ke Nahdlatul Ulama (NU). Semasa perang heroik 10 Nopember 1945, peranan warga dan kyai-kyai NU sungguh luar biasa, bertarung bahu-membahu dengan komponen-komponen bangsa Indonesia lain yang ada di Surabaya.

Pada saat situasi di Surabaya kian genting dan ibu pertiwi telah memanggil putra putrinya untuk mempertahankan kehormatan dan kemerdekaan bangsa, para kyai NU merasa terpanggil untuk turut memberikan sumbangsihnya. 

Serangkain pertemuan digelar oleh para kyai sepuh (sebutan khas dikalangan NU yang merujuk pada kyai-kyai berpengaruh dan sangat disegani) yang berujung pada satu tekad: lawan Inggris atau siapapun yang berniat menjajah kembali Indonesia.! Sebagai perwujudan tekad para kyai dan warga NU, maka pada tanggal 23 Oktober 1945, Mbah Hasyim atas nama PB NU mendeklarasikan Resolusi Jihad untuk melawan pasukan penjajah.

Resolusi Jihad ini seperti menyiramkan minyak ke api perlawanan rakyat yang sudah menyala. Dampaknya luar biasa. Pesantren-pesantren dan forum-forum pengajian berubah lebih banyak mengajarkan penggunaan senjata dan bela diri. Para pengasuh pondok pesantren juga mengajar ilmu kesakten kepada para pejuang lainnya yang datang ke pondok-pondok pesantren. Ribuan kyai, ustadz, dan santri dari pelbagai penjuru Jawa Timur dan Madura meninggalkan pesantren-pesantren mereka dan mulai bergerak menuju Surabaya untuk turut menjadi pagar bangsa menghadapi musuh yang kian nyata hendak menjarah hak dasar bangsa Indonesia: Kemerdekaan. Sementara mereka yang tidak mempunyai kesempatan turut langsung ke Surabaya, berusaha ikut melawan di daerah masing-masing dengan misalnya merampas logistik untuk Inggris, dan kemudian mengoperkannya ke para pejuang, atau mengirimkan bahan-bahan pangan agar para pejuang tidak kelaparan saat bertaruh nyawa melawan pasukan Inggris. 

Para santri dan kyai itu bergabung dalam pelbagai elemen perlawanan bersenjata. Ada yang bergabung dalam pasukan Hizbullah, Sabilillah, atau bergabung dalam pasukan reguler lainnya. Sebagai komandan umum laskar NU/pesantren adalah KH. Wahab Chasbullah, yang sehari-harinya adalah pengasuh pondok pesantren. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran para Jenderal dan komandan pasukan Inggris kalau mereka tahu bahwa laskar dan berikut para komandan di pihak Indonesia sebagian besar adalah benar-benar warga sipil yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman tempur sama sekali.

Meskipun para santri dan kyai-kyai tersebut sangat minim dalam hal pengalaman dan teknik bertempur, keberanian mereka jangan disangsikan. Mereka sungguh ikhlas dan tuntas dalam berjuang. Gelegar suara bom dan mortir, deru deram tank-tank, dan desingan peluru pasukan Inggris dibalas dengan teriakan takbir yang membahana sembari mengacungkan-acungkan senjata agar para pejuang jangan gentar sedikitpun. Cara bertempur seperti ini justru membuat pasukan India Muslim (yang kemudian menjadi Pakistan) dari pihak Inggris menjadi gagap dan gelagapan. Mungkin mereka menghadapi perang batin yang luar biasa karena yang mereka hadapi adalah saudara muslim mereka yang tengah berjuang mempertahankan haknya. Tidak sedikit diantara pasukan India Muslim ini memberikan senjata dan amunisi kepada para pejuang atau bahkan meninggalkan gelanggang pertempuran untuk menghindari bentrokan dengan arek-arek Surabaya..

= = =

Kisah#17: Bantuan dari Daerah Sekitar
Berikut ini penuturan dari salah satu anggota TRIP di Madiun. Waktu itu pemuda-pemuda Madiun juga ikut terpanggil untuk berangkat ke Surabaya untuk melawan Sekutu. Tapi sayang beliau ngga boleh ikut berangkat ama komandannya karena punya tanggung jawab jaga gudang amunisi (karena rumahnya paling deket). 

Pejuang tersebut cerita bahwa ada ratusan pemuda dari Madiun yang berangkat ke Surabaya. Sebagian besar naik kereta, sebagian lagi naik truk. Tapi yang paling mengharukan, sebagian yang ngga bisa keangkut kereta atau truk ngga mau nunggu lama-lama, mereka bertekad jalan kaki atau naik sepeda sampai surabaya (400 km dari madiun). Salah satu yang jalan kaki adalah temennya pejuang tersebut. Akhirnya dia bisa dapet tumpangan kendaraan di kota nganjuk (kira-kira 100 km dari Madiun) setelah seharian berjalan. Bayangkan betapa kuatnya tekad mereka untuk berjuang (menjemput maut) sampai rela berkorban seperti itu.

Yang ngga bisa berangkat kayak pejuang diatas karena harus menjaga gudang amunisi, nyumbang apa aja yang bisa dikasih ketemen-temennya yang berangkat... ya senjata, ya uang, ya baju, ya sepatu.. pokoknya apa aja yang bisa dikasih. Kata pejuang tadi, sepanjang jalan utama antara Madiun - Surabaya.. banyak ibu-ibu duduk di pinggir jalan sambil menawari makanan dan minuman bagi para pejuang yang tengah dalam perjalanan ke surabaya..

Mereka rela menjadi tiada untuk membuat kita ada... 


Sumber : Seluruh pejuang di Surabaya khususnya Arek-arek Suroboyo

Cerita Menarik & Lucu Dibalik Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945 Surabaya (5)



Mari kita lanjut kecerita selanjutnya, session kelima. Bagi yg belum membaca session keempat, bisa klik disini...

Lanjut...

Kisah#12: Tidurlah Sekarang ! Besok Inggris Tidak Akan Memberi Kesempatan Kalian untuk Tidur
Mengetahui bahwa rakyat Indonesia di Surabaya mendapat ultimatum dari pasukan Inggris, pemerintah pusat nampaknya juga bingung mau bersikap bagaimana. Tidak mungkin bagi Bung Karno untuk meminta rakyat Surabaya menyerah dan mematuhi ultimatum Inggris. Sementara itu, pemerintah pusat juga tahu betapa tidak seimbang kekuatan senjata dan pengalaman tempur tentara reguler Inggris dengan arek-arek Suroboyo yang sebagian besar adalah warga kampung biasa. Akhirnya, setelah buntu semua jalan untuk mencegah Surabaya diserang habis-habisan oleh Inggris, pemerintah pusat menyerahkan pada para pemimpin di Jawa Timur untuk mengambil keputusan.

Maka Gubernur Surjo mengambil kepemimpinan dengan berbicara di radio: “.....Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad yang satu, yaitu berani mengahadapi segala kemungkinan. Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: lebih baik hancur dari pada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu…..Bismillahhirrohmanirrohim.....Selamat Berjuang !”

Pidato Gubernur Surjo yang memang sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat Surabaya dan Jawa Timur itu merupakan perintah jelas dan penegasan bagi arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaan dan kehormatan bangsa, at any cost ! 

Menyusul pidato Gubernur Surjo itu, kota Surabaya seperti hendak menyambut pesta besar. Gema takbir terdengar dimana-mana berselang-seling dengan pekik kemerdekaan: dijalan-jalan, di mushola, di masjid, di warung-warung, dikampung-kampung, dipinggir Kali Mas, dan dimana saja tiap kali sesama elemen pejuang dan rakyat Surabaya bertemu. Semuanya merupakan tanda kesiapan lahir dan batin, kesatuan tekad, dan keiklasan yang dalam untuk menghadapi perang besar, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh rakyat Surabaya.

Semenjak pidato Gubernur Surjo itu, kota Surabaya kian hiruk pikuk oleh persiapan terakhir oleh arek-arek Suroboyo. Koordinasi dan komunikasi diantara elemen perjuangan ditingkatkan. Barikade-barikade untuk menghambat gerakan tank-tank Inggris diperkuat. Posisi-posisi strategis diperkuat. Pasukan-pasukan disebar di seluruh lini pertahanan. Bedil, mortir, panser (yang cuma beberapa biji), dan meriam (yang cuma beberapa pucuk) di periksa. Demikian juga dengan pedang, clurit, golok, keris juga diperiksa atau diasah lagi untuk memastikan bahwa senjata-senjata tajam itu cukup tajam saat disabetkan ke tubuh pasukan Inggris. Anak-anak, orang tua, dan warga perempuan diungsikan keluar dari kota untuk mengurangi korban sipil. 

Bagi sebagian besar anggota TRIP, saat-saat usai pidato Gubernur Surjo adalah saat-saat yang sungguh mendebarkan. Banyak diantara mereka yang tidak bisa tidur untuk menghadapi pertempuran besar esok hari. Para remaja pejuang itu, yang masih bujangan, seperti hendak mau jadi pengantin saja. Berdebar tak sabar untuk segera bertemu sang mempelai. Guyonan seperti ”Koyok arep nikah ae rek ! Gak iso turu. Pingin ndang ketemu calon bojo” (Seperti hendak menikah aja Rek ! Tidak bisa tidur ingin cepat bertemu dengan calon istri) terdengar diantara mereka. Calon penganten yang dimaksud anggota TRIP itu tentu saja bukanlah perempuan gemulai nan cantik. Namun pasukan Inggris yang sangar dengan mesin perangnya yang mengerikan.

Bahkan salah seorang pimpinan TRIP mencoba mengingatkan teman-temannya untuk tidur agar bisa istirahat. ”Rek ! Turuo koen iku. Simpen tenogomu kanggo sesok. Inggris sesok gak bakalan ngekek’i kesempatan kanggo koen enak-enakan turu !” (Rek ! Tidurlah kalian. Simpan tenaga kalian buat besok. Inggris besok tidak bakalan memberi kesempatan kalian enak-enakan tidur). 

Esok harinya, yang ditemukan oleh pasukan Inggris bukanlah barisan rakyat Surabaya yang datang dengan bendera putih ditangan untuk takluk kepada Inggris dengan tanpa perlawanan, namun ribuan pejuang bersenjata yang sudah siap di seluruh kota dengan segala macam persenjataan yang dimiliki. Inggris benar-benar kecele !

= = =

Kisah#13: Tentara Belanda "Gembeng" (Cengeng)
Setelah beberapa saat saling berhadap-hadapan di Kali Porong, arek-arek Suroboyo memutuskan untuk memperluas medan pertempuran dengan bergeser ke arah Selatan (arah ke Malang). Suatu ketika di daerah Pandaan, sebuah unit kecil pasukan Belanda berhasil disergap dengan cantik. Selain menewaskan beberapa serdadu Belanda totok, seorang Belanda totok juga bisa ditangkap hidup-hidup. Prajurit itu masihlah sangat muda. Lebih tua dikit dari anggota TRIP. Rupanya, serdadu Belanda itu gentar juga dikerubuti anggota TRIP yang nampak sangar, karena jarang mandi dan jarang ganti baju.

Seragam tempur serdadu Belanda, lengkap dengan sepatu botnya, ternyata membuat ngiler sebagian anggota TRIP. Karena seragam TRIP tidak sebanding dibanding dengan seragam serdadu Belanda. Maka dengan motivasi pingin memiliki seragam dan sepatu bot serdadu Belanda, dan memberi pelajaran kepada Belanda totok yang dengan lancang telah berani menginjakkan kakinya di Indonesia, maka serdadu itu dipaksa untuk mencopot seragam berikut sepatu botnya. Hanya celana kolor yang masih boleh dipakai.

Mendapat perlakuan seperti itu serdadu Belanda itu pun….menangis ketakutan. Kini giliran anggota TRIP yang kaget dan keheranan. Tentara bule kok gembeng (cengeng). Berani pula hendak menjarah kemerdekaan bangsa lain. Mungkin karena jengkel melihat tentara itu menangis, salah seorang anggota TRIP menjitak kepala tentara cengeng itu sembari mengatakan. ‘Nek gembeng yo ojok melu perang !!” (kalau cengeng ya jangan ikut perang !!”

Belakangan serdadu Belanda totok itu ditukar dengan tawaan pejuang Indonesia yang ditawan Belanda, karena sangat merepotkan menawan Belanda totok. Selain dia mengurangi persediaan pangan pasukan yang susah payah disumbangkan oleh penduduk juga...dia gak bisa makan menu para pejuang : nasi tiwul dan singkong rebus…!

= = =

Kisah#14: Nasib Pasukan Gurkha
Pada saat mendarat pertama kali di Surabaya, ada kesepakatan antara Mallaby dengan para pemimpin arek-arek Suroboyo bahwa pasukan Inggris hanya diijinkan paling jauh 800 meter dari pelabuhan dalam upaya mereka ngurus tawanan perang Jepang.

Namun ternyata kesepakatan ini dilanggar oleh Mallaby. Mungkin Mallaby menganggap remeh pemerintahan Indonesia di Surabaya. Maka tidak dapat dihindari lagi, terjadi gesekan-gesekan dilapangan antara para pejuang Indonesia dengan pasukan Inggris. 

Pasukan Inggris, terutama Gurkha dan Pasukan India yang non-muslim (karena ada juga pasukan India Muslim yang kelak menjadi Pakistan dan sering membantu arek-arek Suroboyo dengan memberi senjata dan amunisi), seringkali bertindak kurang ajar dan kejam terhadap arek-arek Suroboyo. Sering sekali mereka melakukan sweeping dan kemudian merampas senjata-senjata yang dibawa oleh arek-arek Suroboyo saat bertemu dijalan. Bahkan jika ada arek Suroboyo yang menolak menyerahkan senjatanya, pasukan Inggris main tembak saja.

Akibatnya, kemarahan para pejuang kian tinggi sehingga diputuskan untuk menyerang pos-pos pasukan Inggris, terutama yang berada di area di luar jarak 800 meter sesuai kesepakatan (sungguh fair play arek-arek Suroboyo itu, meski dibuat marah, mereka masih menghormati kesepakatan yang dibuat oleh para pemimpinnya). Arek-arek Suroboyo yang marah menyerang seluruh pos pasukan Inggris, termasuk Gurkha. Arek-arek Suroboyo nampaknya punya perhitungan tersendiri terhadap pasukan Gurkha ini. Mereka inilah yang paling kurang ajar dan paling kejam diantara pasukan Inggris. Sebagian arek-arek Surabaya tahu reputasi dan pengalaman tempur Gurkha, tapi so what gitu lho? Tidak ada rasa takut atau segan sedikitpun untuk bertempur melawan pasukan Gurkha. Clurit orang Madura tidak kalah mematikan dengan pisau kukri Gurkha. 

Sejarah kemudian mencatat, pos-pos pasukan Inggris itu dibuat morat-marit. Pertahanan mereka jebol dimana-mana akibat gelombang serangan arek-arek Suroboyo yang bertempur dengan trengginas. Pasukan Inggris yang masih selamat lari terbirit-birit kembali ke induk pasukan untuk menyelamatkan diri. Bahkan dengan meninggalkan jenasah teman-teman mereka. Naas bagi jenasah pasukan Gurkha yang tidak sempat dievakuasi. Sebagian arek-arek Suroboyo, mungkin karena situasi yang panas dan dendam yang membara, membuang sebagian jenasah pasukan Gurkha itu ke Kali Mas. Belum cukup disitu, sebagian arek-arek Suroboyo itu kemudian menjadikan jenasah yang terapung di kali itu sebagai titis-titisan (sasaran untuk latihan menembak).

Apa boleh buat, itulah peperangan yang akan selalu ada sisi-sisi kekejaman. Pasukan Gurkha telah menuai buah pahit dari bibit kekejaman dan permusuhan yang mereka tebar di Surabaya. Gurkha boleh saja membanggakan reputasi tempur mereka saat melawan Jepang, tapi saat melawan arek-arek Suroboyo, yang mereka ejek dengan sebutan “mob” atau milisi kelas Tiga, hanya tinta kelam memalukan yang mereka torehkan.

note : Gurkha pada saat itu adalah pasukan elit yg sangat disegani dan ditakuti. Hingga saat inipun reputasi pasukan ini masih sangat mengerikan, ini terbukti karena pasukan Gurkha masuk kedalam 10 besar pasukan elit dunia dan Gurkha berada diurutan ke-9. 

Klo menurut gue kasian bgt yah..!!! masa pasukan elit kalah ma milisi yg kgak pernah perang sebelumnya, mau ditaruh dimana tuh muka, di ember..???


Bersambung...